MAKALAH KARAKTERISTIK PEBELAJAR DAN KEDUDUKANNYA DALAM PEMBELAJARAN
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas
segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hidayahnya sehingga kami dapat
menyelesaikan penyusunan makalah ini dengan tepat waktu. Semoga makalah ini
dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi
pembaca. Penulis sangat
bersyukur karena telah menyelesaikan makalah yang menjadi tugas Mata Kuliah Teori Pembelajaran dengan judul "Karakteristik Pebelajar dan
Kedudukannya dalam Pembelajaran".
Disamping
itu, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu kami selama pembuatan makalah ini berlangsung sehingga
terealisasikanlah makalah ini.
Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan
karena pengalaman yang kami miliki sangat kurang. Oleh karena itu saya harapkan
kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun
untuk kesempurnaan makalah ini
Malang, 1 Februari 2017
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR ............................................................................................................ i
DAFTAR
ISI .......................................................................................................................... ii
BAB I
PENDAHULUAN ....................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .............................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................................... 2
1.3 Tujuan .......................................................................................................................... 2
BAB II
PEMBAHASAN ....................................................................................................... 3
2.1 Karakteristik Pebelajar.............................................................................................. 3
A.
Pengertian
Individu............................................................................................. 3
B.
Karakteristik
Individu......................................................................................... 4
C.
Aspek
Perkembangan Individu........................................................................... 5
D.
Memahami
Perbedaan Individual........................................................................ 7
E.
Karakteristik
Siswa (Learnear Characteristics)................................................ 10
2.2 Kedudukan Pebelajar dalam Pembelajaran............................................................... 13
A.
Peserta
Didik atau Anak Didik........................................................................... 13
B.
Kedudukan Peserta Didik dalam Proses Pembelajaran........................................ 14
BAB III
PENUTUP ................................................................................................................ 15
3.1 Kesimpulan ................................................................................................................... 15
DAFTAR
PUSTAKA.............................................................................................................. 16
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latarbelakang
Menit Pembelajaran merupakan proses
untuk mendapatkan pengetahuan. Dalam pembelajaran terdapat suatu proses
interaktif, seseorang dapat belajar berinteraksi dengan lingkungannya secara
aktif. Pembelajaran juga merupakan proses mengkonstruksi pengetahuan dengan
menghubungkan informasi yang masuk dengan informasi yang disimpan yang
diperoleh sebelumnya. Belajar melibatkan tiga proses yang berlangsung hampir
bersamaan, yaitu memperoleh informasi baru, transformasi informasi, serta
menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan. Salah satu faktor penting dalam
kegiatan pembelajaran adalah karakteristik siswa. Karakteristik merupakan salah
satu variabel dalam desain pembelajaran. Karakteristik siswa adalah segi-segi
latar belakang pengalaman siswa yang berpengaruh terhadap keefektifan proses
belajar. Latar belakang dan pengalaman yang dimiliki siswa diantaranya
kemampuan umum, tingkat kecerdasan, gaya belajar, motivasi, ekspektasi terhadap
belajar, ciri-ciri jasmani serta emosional. Karakteristik tersebut dapat
mempengaruhi keefektifan dan proses pembelajaran. Kegiatan pembelajaran dalam
pendidikan di Indonesia bersifat klasikal yang melibatkan siswa dan guru.
Pembelajaran yang bersifat klasikal tentu membutuhkan proses persiapan dan
perencanaan pada desain pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Hal tersebut karena terdapat keberagaman karakteristik, antar siswa yang satu
dengan yang lain memiliki karakteristik yang berbeda.
Para pendidik dalam hal ini guru perlu
memperhatikan karakteristik siswa sebagai peserta didiknya. Penguasaan guru
terhadap karakteristik siswa dapat membantu dalam membuat perencanaan
pembelajaran, diantaranya dalam menentukan metode pembelajaran yang akan
digunakan. Seorang guru harus cerdas dalam pemilihan metode pembelajaran, agar
dalam keberagaman karakteristik, siswa mampu mencapai kompetensi yang
diharapkan. Oleh karena itu pengenalan terhadap karakteristik siswa harus
dilakukan. Upaya guru dalam mengenal sekaligus menguasai karakteristik siswa
membutuhkan dukungan dari banyak pihak, diantaranya pengelola sekolah, orang
tua, dan siswa itu sendiri. Pihak pengelola sekolah dapat membantu dengan
pengadaan kegiatan yang dapat mengidentifikasi karakteristik siswa. Kegiatan
tersebut misalnya, tes intelegensi, tes minat bakat, dan bimbingan konseling.
Selain pihak pengelola sekolah,
diharapkan orang tua juga dapat memberikan masukan dan saran kepada guru
menyangkut informasi tentang karakteristik anaknya. Guru juga dapat melakukan
pendekatan secara personal untuk lebih mengenal karaktersitik siswanya. Seorang
guru yang telah mengetahui karakteristik masing-masing siswanya akan lebih
mudah dalam merencanakan pembelajaran. Penggunaan metode pembelajaran yang tepat
dapat membantu kefektifan proses belajar. Selain itu juga dapat membantu siswa
dalam memahami konsep-konsep materi dan berinteraksi secara aktif terhadap
lingkungannya. Dengan demikian tujuan pembelajaran yang sudah direncanakan
dapat tercapai.
1.2
Rumusan Masalah
1.
Apa yang dimaksud
invidu?
2.
Apa saja
karakteristik individu?
3.
Apa saja aspek
perkembangan individu?
4.
Apa saja perbedaan
individual?
5.
Apa saja
karakteristik siswa?
1.3
Tujuan
1.
Mahasiswa
mengetahui pengertian individu
2.
Mahasiswa
mengetahui karakteristik individu
3.
Mahasiswa memahami
aspek perkembangan individu
4.
Mahasiswa memahami
perbedaan individual
5.
Mahasiswa memahami
karakteristik siswa
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Karakteristik Pebelajar
1.
Pengertian
Individu
Manusia adalah makhluk yang dapat
dipandang dari berbagai sudut. Sejak ratusan tahun sebelum Isa, manusia telah
menjadi salah satu objek filsafat, baik objek formal yang mempersoalkan hakikat
manusia maupun objek materiil yang mempersoalkan manusi sebagai apa adanya
manusia dan dengan berbagai kondisinya. Sebagaimana diketahui, manusia adalah
makhluk yang berpikir atau homo sapiens, makhluk
yang berbentuk atau homo faber,
makhluk yang dapat di didik atau homo
educandum, dan seterusnya merupakan pandangan-pandangan tentang manusia
yang dapat digunakan untuk menetapkan cara pendekatan yang akan dilakukan
terhadap manusia tersebut. Berbagai pandangan tersebut membuktikan bahwa
manusia adalah makhluk yang kompleks. Kini bahasa Indonesia telah menganut
suatu pandangan, bahwa yang dimaksud manusia secara utuh adalah manusia sebagai
pribadi yang merupakan pengejawantahan manunggalnya berbagai ciri atau karakter
hakiki atau sifat kodrati manusia yang seimbang antar berbagai segi yaitu
antara segi (i) individu dan sosial, (ii) jasmani dan rohani, serta (iii) dunia
dan akhirat. Keseimbangan bangunan hubungan tersebut menggambarkan keselarasan
hubungan antara manusia dengan dirinya, manusia dengan sesama manusia, manusia
dengan alam sekitas atau lingkungannya, dan manusia dengan Tuhan.
Uraian tentang manusia dengan
kedudukannya sebagai peserta didik haruslah menempatkan manusia sebagai pribadi
yang utuh. Dalam kaitannya dengan kepentingan pendidikan, akan lebih ditekankan
hakikat manusia sebagai kesatuan makhluk individu dan makhluk sosial, sebagai
kesatuan jasmani dan rohani, dan sebagai mahkluk Tuhan dengan menempatkan
hidupnya di dunia sebagai persiapan kehidupannya di akhirat. Sifat-sifat dan
ciri-ciri tersebut merupakan hal yang secara mutlak disandang oleh manusia sehingga
setiap manusia pada dasarnya sebagai pribadi atau individu yang utuh. Individu
berarti tidak dapat dibagi (undivided)
dan tidak dapat dipisahkan, keberadaanya sebagai makhluk yang pilah, tunggal
dan khas. Seseorang berbeda dengan orang lain karena ciri-cirinya yang khas
tersebut. (Webster’s; 743). Menurut
kamus Echols & Shadaly, individu adalah kata benda dari individual yang
berarti orang, perseorangan, oknum (Echols,
1975: 519).
Berdasarkan pengertian tersebut,
dapat dibentuk suatu lingkungan untuk anak yang dapat merangsang perkembangan
potensi-potensi yang dimilikinya dan akan membawa perubahan-perubahan apa saja
yang di inginkan dalam kebiasaan dan sikap-sikapnya. Oleh karena itu, anak
dibantu oleh guru, orang tua, dan orang dewasa lainnya untuk memanfaatkan
kapasitas dan potensi yang dibawanya dalam mencapai pertumbuuhan dan
perkembangan yang di inginkan.
2.
Karakteristik
Individu
Setiap individu memiliki ciri dan sifat
atau karakteristik bawaan (heredity)
dan karakteristik yang diperoleh dari pengaruh lingkungan. Karakteristik bawaan
merupakan karakteristik turunan yang dimiliki sejak lahir, baik yang menyangkut
faktor biologis maupun faktor psikologis. Pada masa lalu, terdapat keyakinan
serta kepribadian terbawa pembawaan (hederity)
dan lingkungan. Hal tersebut merupakan dua faktor yang terbentuk karena faktor
terpisah, masing-masing mempengaruhi kepribadian dan kemampuan individu bawaan
dan lingkungan dengan caranya sendiri-sendiri. Akan tetapi, makin disadari
bahwa apa yang dirasakan oleh seorang anak atau remaja atau dewasa merupakan
hasil dari perpaduan antara apa yang ada diantara faktor-faktor biologis yang
diturunkan dan pengaruh lingkungan.
Seorang anak mungkin memulai pendidikan
formalnya di tingkat taman kanak-kanak pada usia 4 atau 5 tahun. Pada awal ia
memasuki sekolah mungkin tertunda sampai ia berusia 5 atau 6 tahun. Tanpa
memperdulikan berapa umur seorang anak, akhirnya terbentuk oleh pengaruh
lingkungan dan hal tersebut tampaknya mempunyai pengaruh terhadap
keberhasilannya di sekolah dan masa perkembangan hidupya kemudian.
Natur dan nurture merupakan istilah yang biasa digunakan untuk menjelaskan
karakteristik-karakteristik individu dalam hal fisik, mental, dan emosional
pada setiap tingkat perkembangan. Sejauh mana seseorang dilahirkan menjadi
seorang individu seperti “dia” atau sejauh mana seseorang individu dipengaruhi
subjek penelitian atau diskusi. Karakteristik yang berkaitan dengan
perkembangan faktor biologis cenderung lebih bersifat tetap, sedangkan
karakteristik yang berkaitan dengan sosial psikologis lebih banyak dipengaruhi
oleh faktor lingkungan.
Seorang bayi yang baru lahir merupakan
hasil dari dua garis keluarga yaitu garis keluarga ayah dan garis keluarga ibu.
Sejak saat terjadinya pembuahan atau konsepsi kehidupan yang baru tersebut,
secara berkesinambungan dipengaruhi oleh banyak dan bermacam-macam faktor
lingkungan yang merangsang. Masing-masing perangsang tersebut, baik secara
terpisah maupun terpadu dengan rangsangan yang lain, semuanya membantu
perkembangan potensi-potensi biologis demi terbentuknya tingkah laku manusia
yang dibawa sejak lahir. Hal tersebut akhirnya seseorang sebagai individu yang
berkarakteristik berbeda dengan individu-individu lain.
3.
Aspek Perkembangan Individu
Perkembangan-perkembangan dasar
atau esensi dari lingkungan belajar-mengajar yang sehat adalah suasana belajar
yang secara nyata dapat menumbuhkan munculnya perasaan yang terdapat antara
siswa dan guru dalam kelas. Perasaan-perasaan yang mendasari transaksi belajar
mengajar tersebut tergantung pada peran guru dalam menciptakan situasi belajar
yang kondusif. Peran tersebut berangkat dari pemikiran bahwa esesnsi situasi
belajar yang kondusif dan sehat adalah situasi belajar yang dapat menumbuhkan
“perasaan dekat” antara guru dan anak, mereka saling membutuhkan, menghargai,
dan sebagainya. Dengan perasaan saling memperhatikan yang terdapat antara guru
dan anak dalam proses belajar mengajar, sikap guru yang merupakan cerminan
perasaan yang melandasi transaksi belajar mengajar diantaranya adalah:
1)
Penerimaan (acceptance)
Sikap
ini meliputi pengenalan dan pengakuan terhadap berbagai kemampuan dan
keterbatasan mental, emosional, fisik dan sosial yang dimiliki anak. Sikap acceptance tersebut harus dilandasi pemahaman
bahwa guru mempunyai kepercayaan terhadap diri sendiri brupa kemampuan mengajar
dan kemampuan dalam menghadapi anak. Tanpa kepercayaan diri, guru tidak akan
mampu bersikap menerima terhadap berbagai kekurangan dan permasalahan orang
lain. Sebaliknya, guru yang lebih banyak menegakkan otoritas secara berlebihan
dan selalu menuntut hal-hal yang sepurna dari peserta didiknya menunjukkan
bahwa guru tersebut belum mencapai kematangan emosional dan rasa percaya diri.
2)
Rasa Aman
Rasa
aman dan disayangi merupakan kebutuhan dasar manusia yang perlu memperoleh
pemenuhan sehingga dalam proses belajar mengajar diperlukan adanya rasa
disayangi dan diterima oleh kelompok dan guru. Jika anak dalam kegiatan
pembelajaran merasa aman dan diterima sebagaimana adanya, akan membuat anak
tersebut merasa aman dan kerasan selama proses belajar mengajar dan
bersungguh-sungguh. Hal tersebut dapat lebih ditingkatkan jika guru selalu
memberikan penghargaan dan umpan balik terhadap tugas-tugas siswa.
3)
Pemahaman akan
adanya Individual (differences)
Pemahaman pendidik bahwa tidak
ada manusia yang sama serta perilaku siswa selalu bersifat “unik” menjadikan
diperlukan kesabaran dalam menghadapi berbagai perilaku anak. guru hendaknya
dapat secara bijak tahu kapan harus memperlakukan siswa sebagai anggota
kelompok yang memang harus diperlakukan
siswa sebagai individu yang berbeda antara satu dengan yang lain. Hal
yang terpenting adalah bahwa guru harus menjaga keseimbangan antara sikap
otoritatif untuk mengarahkan perilaku anak dengan sikap ngemong dan pemberian
kesempatan berkembang sesuai dengan berbagai situasi dan kondisi masing-masing.
a.
Menggunakan cara
cara yang demokratis
Penggunaan cara yang demokratis
dalam proses pembelajaran termanifestasi dalam perilaku saling menghormati hak
dan kewajiban masing-masing, adanya perencanaan atau kontark pembelajaran yang
koorperatif atau berdasar kepada kesepakatan atau pendelegasian wewenang dan
tanggung jawab. Cara tersebut akan menumbuhkan rasa percaya diri pada anak,
dimana muncul keyakinan bahwa anak diberi kepercayaan untuk dapat menyelesaikan
masalahnya sendiridan diberi pula kesempatan untuk melakukan pilihan-pilihan
dengan pertimbangan pribadi (dengan mempertimbangkan konsekuensi dari pilihan
tersebut). Dalam proses belajar mengajar, anak hendaknya juga memperhitungkan
suara siswa agar suasana kelas tidak kaku.
b.
Sikap Bersahabat
Dengan dilandasi pemahaman
terhadap berbagai kemampuan dan kekurangan yang ada pada anak, sikap percaya
serta kesabaran dari guru sebagai pengajar, akan memunculkan rasa “saling”,
dimana guru sebagai pendidik selalu berusaha untuk mengkominikasikan apa yang
diharapkan dari anak didik, memberikan arahan, bantuan, dan bimbingan agar
harapan tersebut tercapai secara efektif dan efisien, termasuk memberikan
kesempatan kepada anak untuk mengemukakan secara terbuka permasalahannya
sehingga tercapai kepuasan antara kedua belah pihak. Oleh karena itu, siswa
akan sekuat tenanga memenuhi harapan tersebut.
4.
Memahami Perbedaan Individual
Tugas utama guru adalah mengajar dan dalam proses
pembelajaran yang dihadapi adalah anak manusia yang bersifat “unik”. Dalam hal
ini, kata unik mengandung berbagai pengertian. Pengertian yang pertama adalah
unik dapat dimaknai bahwa tidak ada manusia yang sama, dalam pengertian bahwa
manusia yang satu pasti berbeda dengan yang lain. Jangankan anak yang berasal
dari keturunan yang berbeda dan lingkungan yang sangat bervariasi, dua orang
saudara kandung yang secara keturunan sama dan lingkungan yang relatif sama,
juga akan menjadi pribadi-pribadi yang berbeda sehingga jika guru menghadapi 50
siswa pada dasarnya guru telah siap dengan 50 keunikan yang mereka miliki.
Sering kali dapat dijumpai bahwa antara saudara kandung, bahkan pada suadara
kembar masih saja ditemukan adanya perbedaan tersebut. Pengertian unik yang
kedua adalah bahwa kondisi mnusia itu sendiri bersifat tidak menetap. Dari
waktu ke waktu, situasi dan kondisi lingkungan serta faktor intern akan
mempengaruhi perilaku, sifat, kondisi emosi, dan cara seseorang menyesuaikan
diri dengan lingkungan dan orang orang disekitarnya, termasuk dalam mengikuti
kegiatan belajar mengajar.
Pengertian yang ketiga perlu pula dipahami bahwa setiap
tahapan perkembangan manusia mempunyai ciri khusus yang berbeda dengan
perkembangan yang lain sehingga untuk dapat memberikan stimulasi dan
mengarahkan pembentukan perilaku anak perlu pula diketahui ciri khusus dari
setiap tahapan perkembangan tersebut, agar dapat menghadapi dan melayani anak
secara tepat. Faktor keempaat yang perlu pula mendapat perhatian adalah adanya
kenyataan bahwa dalam batas batas tertentu manusia mempunyai kemampuan untuk
memanipulasi perilaku sehingga pemahaman terhadap perilaku memang memerlukan
pendekatan yang teliti dan memerlukan waktu yang panjang.
Terlepas dari berbagai keunikan yang dimiliki manusia
tersebut. Secara umum, perbedaan individual yang perlu dipertimbangkan dalam
pelaksanaan pengajaran dikelas adalah faktor faktor yang menyangkut kesiapan
anak untuk menerima pengajaran karena perbedaan tersebut akan menentukan sistem
pendidikan secara keseluruhan. Idealnya, perbedaan perbedaan tersebut harus
diselesaikan dengan pendekatan individualnya juga, tetapi tetap disadari bahwa
pendidikan tidak semata mata bertujuan untuk mengembangkan individu secara
individu tetapi juga dalam kaitannya dengan pola kehidupan masyarakat yang
berfariasi. Secara rinci, kondisi awal yang berupa kesiapan anak menghadapi
pelajaran atau kondisi kondisi yang perlu dipertimbangkan dalam kegiatan
pengajaran meliputi:
1.
Pertumbuhan dan
perkembangan anak
Pertumbuhan merupakan proses
perubahan yang dialami anak untuk mencapai kedewasaan yang diharapkan.
Perkembangan pada anak akan melewati tahapan tahapan tertentu dan setiap
tahapan selalu memiliki ciri khusus dan berbeda dengan tahapan lainnya,
sehingga pemahaman terhadap tahapan perkembangan yang dialami siswa denga berbagai sifat-sifatnya yang unik tersebut
akan memberikan bekal kepada guru sebagai pengajar untuk menyesuaikan cara mengajar, pemilihan materi, pemilihan sumber belajar,
ataupun pemilihan metode pembelajaran yang tepat.
2.
Pribadi Siswa
Kepribadian sering diartikan
sebagai keseluruhan sifat-sifat seseorang yang memberikan corak yang khas pada
individu saat bertingkah laku dalam penyesuaian diri terhadap lingkungan dan
orang orang disekitarnya sehingga pemahaman terhadap pribadi anak mencakup
banyak faktor fisik dan psikis serta berbagai aspek (potensi) yang ada pada
siswa. Oleh karena itu, dalam bahasan ini pengertian kepribadian dibatasi pada
aspek yang diduga banyak berpengaruh terhadap kesiapan dan prediksi
keberhasilan anak dalam mengikuti kegiatan pengajaran yang terdiri atas:
a)
Fungsi Kognitif
Fungsi kognitif mencakup: (1)
tingkat kecerdasan (intelegenci) yang secara luas dapat diartikan sebagai
kemampuan dasar untuk mencapai prestasi di segala bidang, sedangkan secara
sempit dikaitkan dengan kemampuan scholastic,
(2) daya kreativitas, (3) bakat khusus, (4) organisasi kognitif yang
menyangkut tekhnik penyimpanan dan pemanggilan memori dalam struktur pemikiran,
(5) kemampuan berbahasa, (6) daya fantasi, (7) gaya belajar, dan berbagai
tekhnik dan kebiasaan.
b)
Fungsi Konatif
Dinamik
Fungsi konatif dinamik adalah fungsi psikis yang dimiliki
anak yang secara khusus berkisar kepada penentuan tujuan perilaku dan pemenuhan
kebutuhan baik yang disadari ataupun tidak disadari. Hal yang termasuk dalam klasifikasi
fungsi konatif dinamik adalah: karakter, hasrat berkehendak; hal ini menyangkut
sifat dan kemampuan dasar untuk dapat mengendalikan diri dalam mencapai tujuan,
motivasi belajar (khususnya motivasi intern) yang akan menentukan semangat
untuk mencapai tujuan belajar dengan cara objektif, konsentrasi, perhatian, dan
sebagainya.
c)
Fungsi Afeksi
Fungsi afeksi adalah psikis yang menyangkut penilaian
anak terhadap benda, gejala, atau peristiwa yang dihadapi, yang menyangkut
perasaan senang yang lebih spesifik terinci menjadi rasa puas, gembira, sayang,
setuju, gembura, dan berbagai perasaan yang mencerminkan kepuasan, serta rasa
tidak senang yang dapat berupa perasaan takut, cemas, gelisah, iri hati, marah
dendam dan berbagai perasaan yang mengarah pada ketidakpauasan sehingga perlu
ditumbuhkan rasa senang pada pelajaran yang diberikan sehingga akan muncul
sikap positif dan muncul minat untuk terus belajar.
d)
Fungsi Sensorik-Motorik
Fungsi sensorik-motorik adalah fungsi yang menyangkut
kemampuan siswa dalam bidang psikomotorik atau ketrampilan khusus. Aspek
psikomotorik yang merupakan kemampuan awal anak yang ikut berpengaruh terhadap
hasil proses pengajaran meliputi; kecepatan membaca, menulism berbahasa,
artikulasi kata kata, ketrampilan menggunakan alat seperti menggunting,
menggunakan penggaris. Terdaat kemampuan yang makin tinggi makin mendukung
hasil belajar tetapi ada pula yang tidak, seperti kemampuan berbahasa/berbicara
sering menyebabkan anak (kecil) senang berbicara sendiri dengan temannya ketika
pelajaran berlangsung.
e)
Fungsi Pribadi Lain
Fungsi yang menyangkut berbagai
keadaan awal siswa yang sulit digolongkan dalam fungsi pribadi, yaitu: kondisi
biologis yang menyangkut kesehatan, penglihatan, daya tahan, dan sebagainya.
Selain itu, kondisi mental yang berupa ketenangan batin, baik akibat dari
suasana keluarga maupun teman sebaya, kekaburan nilai benar-salah, penanaman
disiplin dan moral yang kurang tepat ataupun berbagai kondisi lingkungan diluar
sekolah akan mempengaruhi kesiapan anak dalam menghadapi proses pengajaran di
kelas, keberhasilan dalam melaksanakan tugas perkembangan sebelumnya dan
sebagainya.
5.
Karakteristik Siswa (Learner
Characteristics)
Tujuan mengetahui karakteristik siswa adalah untuk
mengukur, apakah siswa akan mampu mencapai tujuan belajarnya atau tidak; sampai
dimana minat siswa terhadap pelajaran yang akan dipelajari. Bila siswa mampu,
hal-hal apa yang memperkuat; dan bila tidak mampu hal-hal apa yang menjadi
penghambat. Hal-hal yang perlu diketahui dari siswa bukan hanya dilihat
faktor-faktor akademisnya, tetapi juga dilihat faktor-faktor sosialnya, sebab
kedua hal tersebut sangat mempengaruhi proses belajar siswa.
Hal-hal yang perlu diketahui tersebut adalah sebagai
berikut:
Faktor-faktor akademis
·
Berapa jumlah siswa
dalam satu kelas
·
Apa latarbelakang
pendidikan (sekolah yang pernah ditempuh)
·
Bagaimana nilai
rata-rata yang dicapai tiap sekolah/kursus/latihan yang pernah dialami
·
Apakah siswa
mempunyai kebiasaan bekerja sendiri
·
Bagaiman kebiasaan
belajar siswa
·
Apakah siswa sudah
mengetahui serba sedikit latarbelakang pokok bahasan yang akan dipelajari
·
Apakah tingkat
intelegency siswa tinggi, sedang, atau rendah
·
Apakah siswa mampu
membaca cepat
·
Apasaja yang
diuasai oleh siswa (student achievement)
·
Bagaimana motivasi
belajar siswa
·
Apakah yang menjadi
harapan siswa setelah mempelajari pokok bahasan tersebut
·
Bagaimana aspirasi
kebudayaan dan vokasional siswa
Faktor-faktor sosial
·
Umur
·
Kematangan
·
Perhatian (minat)
·
Apakah ada siswa
teladan dalam satu kelas
·
Apakah ada siswa
yang cacat fisik
·
Bagaimana hubungan
antar siswa
·
Bagaimana
latarbelakang sosial-ekonomis
Kondisi belajar
Menurut Rita Dunn & Kenneth Dunn, Educator’s Self Teaching Guide to
Individualizing Instructional Program, Parker Publishing Co., West Nyach,
N.Y., 1975, Hal. 74-93, kondisi belajar dapat mempengaruhi konsentrasi,
penyerapan, dan penerimaan informasi. Pengaruh kondisi lingkungan tempat belajar
terhadap sesorang dapat mengakibatkan reaksi yang berbeda-beda. Kita sering
menyaksikan bahwa anak-anak mudah lebih suka (confortable) belajar sambil
mendengarkan musik dari radio atau tape
recorder disampingnya dengan volume yang cukup besar. Oranglain
lebih suka belajar dalam ruang yang tenang. Dunn and Dunn membagi kondisi
belajar menjadi empat golongan:
1.
Lingkungan fisik
(physical envirorment), seperti pengaruh suara, cahaya, temperatur, dan
pengaturan meja kursi serta perabotan (furniture) setempat.
2.
Lingkungan
emosional (emosional environment), seperti motivasi individu, kecepatan tugas
dan tanggung jawab.
3.
Lingkungan
sosisologis (sociologycal environment), seperti kebiasaan belajar atau bekerja
sendiri atau bersama, tanggapan terhadap orang pejabat yang sedang berkuasa,
dan lain-lain.
4.
Kodisi fiologis
siswa sendiri (student’s own physiologycal make up), seperti ketajaman atau
kelemahan indera, kebutuhan gizi, tidak terlalu tau banyak mobilitas,
penghargaan terhadap waktu sehari-hari, irama hidup, dan bagaiman sikapnya
terhadap efisiensi tugas-tugas.
Untuk mengetahui kebiasaan dan kesenangan belajar tiap
siswa, seyognya pengajar menyusun kuesioner, atau langsung mencari informasi
dari tiap siswa tentang kondisi mana yang lebih disukai. Hal ini akan menolong
pengajar dalam membantu cara belajar siswa.
Teknik
belajar
Ada siswa yang belajar lebih efektif dan ada yang tidak.
Ada yang lebih mudah mengerti melalui pendekatan visual, ada yang mudah
menangkap verbal, dan ada yang lebih cocok bila ada kegiatan praktek, latihan,
aktivitas fisik, atau simulasi.
Identifikasi teknik belajar ini berkaitan dengan usaha
meningkatkan perhatian siswa, dan ini disebut cognitive style mapping. Teknik ini menyediakan suatu kerangka
dalam menggambar dan mencari sebab-sebab, mengapa individu-individu mempunyai
teknik belajar yang berbeda-beda. Ada tiga hal yang perlu diuji sehubungan
dengan tingkah laku siswa.
Yang pertama, sampai berapa jauh seorang siswa dapat
menangkap lambang-lambang teoritis (teoritikal simbolis) baik berupa kata-kata
ataupun angka-angka, ketajaman pancaindera, dan penangkapan terhadap hal-hal
yang subjektif seperti gal-hal yang berhubungan dengan kebudayaan.
Yang kedua, bagaimana pengaruh siswa terhadap hal-hal
yang diperoleh dari lambang-lambang teoritis diatas.
Yang ketiga, bagaimana tabiat siswa dalam memberi alasan,
bagaimana pendekatan yang dilakukan oleh siswa terhadap suatu masalah dan
proses penyimpulannya.
Yang keempat, bagaimana kekuatan daya ingat siswa.
Untuk mendapat data dari keempat hal tersebut mungkin
bisa melalui tes diagnostik atau dengan kuesioner. Hasil daripadanya merupakan
indikasi karakteristik, latarbelakang akademis dan sosial siswa yang akan
berguna dalam pelaksanaan, baik pengajaran individu maupun kelompok.
2.2
Kedudukan Pebelajar dalam Pembelajaran
A.
Peserta didik atau Anak Didik
Paradigma peserta didik merupakan subjek dan objek pendidikan yang
memerlukan bimbingan orang lain (pendidik) untuk membantu mengarahkannya
mengembangkan potensi yang dimilikinya, serta membimbingnya menuju kedewasaan.
Peserta didik merupakan salah satu komponen terpenting dalam
pendidikan. Tanpa anak didik, proses kependidikan tidak akan terlaksana. Oleh
karena itu pengertian tentang peserta didik dirasa perlu diketahui dan dipahami
secara mendalam oleh seluruh pihak. Sehingga dalam proses pendidikannya nanti
tidak akan terjadi kemelencengan yang terlalu jauh dengan tujuan pendidikan
yang direncanakan.
Ciri khas peserta didik adalah:
1.
Sebagai individu yang memiliki potensi fisik dan psikis.
2.
Sebagai individu yang sedang berkembang baik potensi fisik maupun
psikis.
3.
Dalam pengembangan potensi tersebut peserta didik membutuhkan
bantuan orang lain.
4.
Memiliki kemampuan untuk mandiri.
Menurut Samsul Nizar (2002) beberapa kategori peserta didik dan implikasinya
terhadap pendidikan, yaitu:
1.
Peserta didik bukan merupakan miniatur orang dewasa, akan tetapi
memiliki dunia sendiri.
2.
Peserta didik adalah manusia yang memiliki diferensiasi
periodisasi perkembangan dan pertumbuhan.
3.
Peserta didik adalah manusia yang memiliki kebutuhan, baik yang
menyangkut kebutuhan jasmani maupun rohani yang harus dipenuhi.
4.
Peserta didik adalah makhluk Allah yang memiliki perbedaan
individual.
5.
Peserta didik terdiri dari 2 unsur utama, yaitu jasmani dan
rohani.
6.
Peserta didik adalah manusia yang memiliki potensi (fitrah) yang
dapat dikembangkan dan berkembang secara dinamis.
B.
Kedudukan
Peserta Didik dalam Proses Pembelajaran
Dalam pembelajaran, peserta didik dapat dipandang sebagai objek
didik, subjek didik, dan sebagai subjek dan objek didik sekaligus.
Dalam pandangan konvensional, peserta didik dipandang sebagai
objek didik, ialah sebagai wadah yang harus diisi dengan pengetahuan, dan
ketrampilan. Peserta didik diperlakukan pasif dan dipandang tidak mempunyai
potensi apapun, ia harus menerima semua yang diberikan guru.
Dalam pandangan modern, peserta didik dipandang sebagai subjek yang
memiliki potensi tersendiri, ia aktif mengembangkan potensinya, ia merespon,
bertanya dan menanggapi keterangan guru pada saat berlangsungnya pembelajaran.
Guru berfungsi sebagai fasilitator, menciptakan kondisi sedemikian rupa
sehingga peserta didik terjadi proses belajar.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Karakteristik
siswa adalah segi-segi latar belakang pengalaman siswa yang berpengaruh
terhadap keefektifan proses belajar. Latar belakang dan pengalaman yang
dimiliki siswa diantaranya kemampuan umum, tingkat kecerdasan, gaya belajar,
motivasi, ekspektasi terhadap belajar, ciri-ciri jasmani serta emosional. Para pendidik dalam hal
ini guru perlu memperhatikan karakteristik siswa sebagai peserta didiknya.
Penguasaan guru terhadap karakteristik siswa dapat membantu dalam membuat
perencanaan pembelajaran, diantaranya dalam menentukan metode pembelajaran yang
akan digunakan. Seorang guru harus cerdas dalam pemilihan metode pembelajaran,
agar dalam keberagaman karakteristik, siswa mampu mencapai kompetensi yang
diharapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Hartinah, Sitti. 2008. Pengembangan Peserta Didik. Bandung: Refika Aditama.
Mudhoffir. 1987. Teknologi
Instruksional: Sebagai Landasan Perencanaan dan Penyusunan Program Pengajaran. Bandung:
Remadja Karya
http://iftahal-muttaqin.blogspot.co.id/2014/11/makalah-ppd-pengantar-ilmu-pendidikan.
Komentar
Posting Komentar