MAKALAH PERKEMBANGAN BAHASA
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan pada
Allah SWT karena atas limpahan rakhmat dan karunianya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Perkembangan
Bahasa: Definisi & Teori,
Tugas, Tahapan, Tipe, dan Faktor Berpengaruh” dengan baik dan tepat pada waktunya.
Dalam penulisan karya tulis ini, penulis
telah mendapatkan bantuan dari berbagai pihak.
Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu Carolina selaku dosen pembina mata kuliah perkembangan
peserta didik yang telah
memberikan pengarahan dan bimbingan dalam penyusunan makalah ini.
2. Orang tua yang telah memberikan dukungan
moral maupun material.
3. Teman – teman yang telah memberikan
dukungan dan semangatnya.
Usaha yang maksimal telah diupayakan
dengan penuh rasa tanggung jawab bahwa makalah ini terasa jauh dari kesempurnaan, namun setidaknya dapat
menambah wawasan dan
dapat menanggulangi pokok permasalahan yang ada. Oleh karena itu saran dan
kritik serta masukan dari berbagai pihak sangat
penulis harapkan. Sehingga dapat disempurnakan pada waktu yang akan datang
Malang, 8 Februari 2016
DAFTAR ISI
Kata Pengantar..................................................................................................................... 2
DaftarIsi................................................................................................................................ 3
Bab I PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang.......................................................................................................... 4
2.
Rumusan Masalah..................................................................................................... 5
3.
Tujuan....................................................................................................................... 5
Bab II Pembahasan
1.
Definisi dan Teori...................................................................................................... 6
2.
Tugas Perkembangan Bahasa.................................................................................... 9
3.
Tahapan Perkembangan Bahasa................................................................................ 11
4.
Tipe-tipe perkembangan Bahasa................................................................................ 14
5.
Faktor Berpengaruh Perkembangan Bahasa............................................................... 15
Bab III PENUTUP
1.
Kesimpulan............................................................................................................... 19
2.
Saran........................................................................................................................ 19
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................... 20
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
2.1.
Latar Belakang
Bahasa sejatinya adalah kebutuhan mendasar
setiap manusia. Dalam berkomunikasi, bahasa mempunyai peranan yang sangat
penting. Dengan adanaya bahasa, setiap induvidu dapat berinteraksi dengan
induvidu lain, menyampaikan pemikiran satu sama lain. Hal yang unik akan
terjadi apabali bahasa tidak pernah diciptakan, dapat dipastikan dunia akan
hampa, sunyi, tanpa ada satu hal pun yang terjadi.
Berbicara tentang bahasa, salah satu
hal yang menarik untuk dibahas adalah “sejak
kapan bahasa ada?”. Topik tersebut nyatanya telah menjadi perdebatan
dikalangan para ahli, namun tidak ada kesepatakan umum mengenai kapan dan umur
bahasa manusia secara pasti. Salah satu permasalahan yang menjadikan topik ini
sulit dikaji adalah kurangnya bukti langsung.
Secara umum ada kesepatakan bahwa
asal mula bahasa manusia berkaitan dengan erat dengan asal usul perilaku
manusia modern, namun terdapat perdaan pendapat mengenai implikasi-implikasi
dan keterarahan hubungan keduanya.
Namun, dibalik permasalah diatas
terdapat satu hal penting yang lebih penting untuk dikaji lebih dalam, yaitu
bahasa mempengaruhi perkembangan berfikir manusia. Hal ini banyak dilatar
belakangi oleh teori perkembangan bahasa.
Selaras dengan hal tersebut
dinyatakan bahwa setiap manusia, dalam hal ini khususnya peserta didik akan
mengalami berbagai perkembangan dalam fase kehidupannya. Antara lain
perkembangan biologis, perkembangan perseptual, perkembangan kognitif,
perkembangan bahasa dan perkembangan kemandirian.
Proses berpikir adalah daya yang
paling utama dan merupakan ciri yang khas yang membedakan manusia dengan hewan.
Perbedaan yang paling mendasar yaitu manusia mempunyai bahasa, sedangkan hewan
tidak. Bahasa hewan bukanlah bahasa seperti yang dimiliki manusia. Bahasa hewan
adalah bahasa insting yang tidak perlu dipelajari dan diajarkan. Bahasa manusia
adalah hasil dari kebudayaan yang harus dipelajari dan diajarkan.
Dengan bahasa manusia dapat memberi
nama kepada segala sesuatu baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Semua
benda, nama sifat, pekerjaan, dan hal yang yang abstrak, diberi nama. Secara
singkat bahasa adalah alat yang terpenting bagi manusia.
Didalam dunia pendidikan, mempelajari
perkembangan bahasa mempunyai peranan yang sangat penting terhadap proes
belajar dan pembelajaran. Dengan adanya pemahaman dalam perkembangan bahasa,
pendekatan terhadap pebelajar akan lebih efektif.
Disamping itu, banyak sekali
teori-teori dalam perkembangan bahasa. Untuk itu, dalam makalah ini penulis
akan mencoba untuk membagi kedalam beberapa sub bahasan yaitu definisi dan
teori, tugas, tahapan, tipe, dan faktor-faktor yang berpengaruh dalam
perkembangan bahasa manusi.
Berdasarkan deskripsi diatas,
mengingat pentingnya pendalaman materi terhadap pekemabangan bahasa khususnya dalam
proses belajar dan pembelajaran. Untuk itu maka disusunlah makalah dengan judul
Perkembangan Bahasa: Definisi dan
Teori, Tugas, Tahapan, Tipe, dan Faktor Berpengaruh”.
2.2.
Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian dari setiap
teori dalam perkembangan bahasa?
2.
Bagimana tugas-tugas
perkembangan bahasa?
3.
Bagimana tahap-tahap
perkembangan bahasa?
4.
Bagaimana tipe-tipe
perkembangan bahasa?
5.
Bagaimana faktor-faktor yang
mempengaruhi perkembangan bahasa?
2.3.
Tujuan
1.
Mendeskripsikan pengertian dari
setiap teori perkembangan bahasa?
2.
Mendeskripsikan tugas-tugas
perkembangan bahasa?
3.
Mendeskripsikan tahap-tahap
perkembangan bahasa?
4.
Menjelaskan tipe-tipe
perkembangan bahasa?
5.
Mendeskripsikan faktor-faktor
yang mempengaruhi perkembangan bahasa?
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
3.1.
Definisi dan Teori
Dilhat dari fungsinya, bahasa
merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Terdapat perbedaan
yang signifikan antara pengertian bahasa dan berbicara. Bahasa mencakup segala bentuk komunikasi, baik yang
diutarakan dalam bentuk lisan, tulisan, bahasa isyarat, bahasa gerak tubuh,
ekspresi wajah pantonim atau seni. Sedangkan
bicara adalah bahasa lisan yang merupakan bentuk yang paling efektif
untuk berkomunikasi, dan paling penting serta paling banyak dipergunakan.
Perkembangan bahasa tersebut selalu
meningkat sesuai dengan meningkatnya usia anak. Orang tua sebaiknya selalu
memperhatikan perkernbangan tersebut, sebab pada masa ini, sangat menentukan
proses belajar. Hal ini dapat dilakukan dengan memberi contoh yang baik,
memberikan motivasi pada anak untuk belajar dan scbagainya. Orang tua sangat
bertanggung jawab alas kesuksesan belajar anak dan seyogyanya selalu berusaha
meningkatkan potensi anak agar dapat berkembang secara maksimal. Pada
gilirannya anak akan dapat berkembang dan tumbuh menjadi pribadi yang bahagia
karena dengan melalui berkomunikasi dengan lingkungan, bersedia memberi dan
menerima segala sesuatu yang terjadi di lingkungannya.
Bahasa adalah segala bentuk
komunikasi di mana pikiran dan perasaan scseorang disimbolisasikan agar dapat
mcnyampaikan arti kepada orang lain. Oleh karera itu, perkembangan bahasa dimulai dari tangisan pertama sampai anak mampu
bertutur kata.
Teori
Perkembangan Bahasa Anak.
Penelitian yang dilakukan terhadap
perkembangan bahasa aank tentunya tidak terlepas dari pandangan, hipotesis,
atau teori psikologi yang dianut. Dalam hal ini sejarah telah mencatat adanya
tiga pandangan atau teori dalam perkembangan bahasa anak. Teori tersebuat
adalah sebagai berikut:
A. zTeori Nativis
Pandangan ini diwakili oleh Noam Chomsky (1974). Ia berpendapat
bahwa penguasaan bahasa pada anak-anak bersifat alamiah atau nature. pandangan ini tidak berpendapat bahwa lingkungan punya pengaruh
dalam pemerolehan bahasa, melainkan menganggap bahwa bahasa merupakan pemberian
biologis, sejalan dengan terbukanya kemampuan lingual yang secara genetis telah
di programkan.
Nativisme berpendapat bahwa selama
proses pemerolehan bahasa pertama, anak sedikit demi sedikit membuka kemampuan
lingualnya yang secara genetis telah diprogramkan. Jadi lingkungan sama sekali
tidak punya pengaruh dalam proses pemerolehan bahasa pertama (acquisition).
Para ahli nativis berpendapat bahwa bahasa merupakan pembawaan dan
bersifat alamiah dan meyakini bahwa kemampuan
berbahasa sebagaimana halnya kemampuan berjalan, merupakan bagian dari
perkembangan manusia yang dipengaruhi oleh kematangan otak, beberapa bagian
neurologis tertentu dari otak manusia memiliki hubungan dengan perkembangan
bahasa, sehingga kerusakan pada bagian tersebut dapat menyebabkan hambatan
bahasa.
1. Menurut Chomsky , Howe, Maratsos (dalam miller, 1981)
berpandangan bahwa ada keterkaitan antara faktor biologis yang menekankan
membentuk individu menjadi makhluk linguistik dan perkembangan bahasa.
2. Lenneberg (1967) memiliki pendapat yang senada dengan
ahli lain bahwa belajar bahasa adalah berdasarkan pengetahuan awal yang
diperoleh secara biologis. Para ahli nativis menjelaskan bahwa anak dilahirkan
dengan mekanisme atau kapasitas internal sehingga dapat mengorganisasi
lingkingannya dan mampu mempelajari bahasa.
3. Chomsky (1974) mengatakan bahwa individu dilahirkan
dengan alat penguasaan bahasa (Language
Acquisition Device) LAD dan menemukan sendiri cara kerja bahasa tersebut.
Menurutnya bahasa hanya dapat diuasai oleh manusia, karena:
·
Perilaku bahasa adalah sesuatu yang diturunkan (genetik), pola
perkembangan bahasa berlaku universal, dan lingkungan hanya memiliki peran
kecil dalam proses pematangan bahasa.
·
Bahasa dapat dikuasai dalam waktu singkat , tidak bergantung pada lamanya latihan seperti pendapat kaum
behaviorisme.
4. Para ahli nativis menjelaskan bahwa kemampuan berbahasa
dipengaruhi oleh kematangan seiring dengan pertumbuhan anak. Pandangan para ahli
nativis yang memisahkan antara belajar bahasa dengan perkembangan kognitif
dikritik berkenaan dengan kenyataan bahwa anak belajar bahasa dari ligkungan
sekitarnya dan memiliki kemampuan untuk mengubah bahasanya jika lingkungannya
berubah.
B. Teori
Behavioristik
Pandangan ini diwakili oleh B.F
Skinner, yang menekankan bahwa proses pemerolahan bahasa pertama dikendalikan
dari luar diri si anak, yaitu oleh rangsangan yang diberikan melalui
lingkungan. Istilah bahasa bagi kaum behavioris dianggap kurang tepat karena
istilah bahasa itu menyiratlan suatu wujud, sesuatu yang dimiliki atau
digunakan, dan sesuatu yang di lakukan. Padahal bahasa itu merupakan salah satu
perilaku-perilaku manusia lainnya. Oleh karena itu, mereka lebih suka
menggunakan istilah perilaku verbal (verbal behavior), agar tampak lebih mirip
dengan perilaku kain yang harus dipelajari.
Menurut kaum behavioris kemampuan
berbicara dan memahami bahasa oleh anak diperoleh melalui rangsangan dari
lingkungannya. Anak dianggap sebagai penerima pasif dari tekanan lingkungannya,
tidak memiliki peranan yang aktif di dalam proses perkembangan perilaku
verbalnya. Kaum behavioris bukan hanya tidak mengakui peran aktif si anak dalam
proses penerolehan bahasa, malah juga tidak mengakui kematangan anak. Proses
perkembangan bahasa terutama ditentukan oleh lamanya latihan yang diberikan
oleh lingkungannya. Dan kemampuan yang sebenarnya dalam berkomunikasi adalah
dengan prinsip pertalian S-R (stimuls-respons) dan proses peniruan-peniruan.
Para ahli behavioristik berpendapat
bahwa anak dilahirkan tanpa membawa kemampuan apapun. Dengan demikian anak harus
belajar melalui pengondisian daqri lingkungan, proses imitasi, dan diberikan
reiforcement (penguat).
Para ahli perilaku menjelaskan
beberapa faktor penting dalam mempelajari bahasa yaitu imitasi, rewart,
reinforcement dan frekuensi suatu perilaku. Skinner, (1957) memandang
perkembangan bahsa dari sudut stimulus-respon, yang memandang berpikir sebagai
proses internal bahasa mulai diperoleh dari interaksi dalam lingkungan.
Bandura, (1997) memandang perkembangan bahasa dari sudut teori belajar sosial. Hergenhahn,
(1982) Ia berpendapat bahwa anak belajar bahasa dengan melakukan imitasi atau
menirukan suatu model yang berarti tidak harus menerima penguatan dari orang
lain.
Pandangan behavioristik dikritik berkenaan dengan kenyataan bahwa
anak pada suatu saat dapat membuat suara-suara
baru dalam awal perkembangan bahasannya, dan dapat membentuk
kalimat-kalimat baru yang berbeda dari yang pernah diajarkan padanya.
C. Teori Kognitif
Jean Piaget (1954) menyatakan bahwa
bahasa itu bukanlah suatu ciri alamiah yang terpisah, melainkah salah satu di
antara beberapa kemampuan yang berasal dari kematangan kognitif. Bahasa
distrukturi oleh nalar, maka perkembangan bahasa harus berlandas pada perubahan
yang lebih mendasar dan lebih umum di dalam kognisi. Jadi, urut-urutan
perkembangan kognitif menentukan urutan perkembangan bahasa.
Piaget menegaskan bahwa stuktur yang
kompleks dari bahasa bukanlah sesuatu yang diberikan oleh alam, dan bukan pula
sesuatu yang dipelajari dari lingkungan. Struktur bahasa itu timbul sebagai
akibat dari interaksi yang terus menerus antara tingkat fungsi kognitif anak
dengan lingkungan kenahsaannya (juga lingkungan yang lain).
Para ahli kognitif berpendapat bahwa
belajar sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti peran aktif anak terhadap
lingkungan, cara anak memproses suatu informasi, dan menyimpulkan struktur
bahasa.
· Menurut Piaget (Hergenhahn,
1982), berpikir sebagai prasyarat berbahasa, terus berkembang secara progresif
dan terjadi pada setiap tahap perkembangan sebagai hasil dari pengalaman dan
penalaran. Perkembangan anak secara umum dan perkembangan bahasa awal anak
berkaitan erat dengan berbagai kegiatan
anak , objek, dan kejadian yang mereka alami dan menyentuh, mendengar, melihat,
merasa, dan membau.
Menurut
piaget struktur yang kompleks itu bukan pemberian alam dan bukan sesuatu yang
dipelajari dari lingkungan melainkan struktur itu timbul secara tak terelakkan
sebagai akibat dari interaksi yang terus menerus antara tingkat fungsi kognisi
anak dengan lingkungan kebahasaannya.
· Vygotsky (1986),
mengemukakan bahwa perkembangan kognitif dan bahasa anak berkaitan erat dengan
kebudayaan dan masyarakat tempat anak dibesarkan. Vygotsky menggunakan istilah
zona perkembangan proximal (ZPD) untuk tugas-tugas yang sulit untuk dipahami sendiri
oleh anak. ZPD juga memiliki batas yang lebih rendah merupakan tingkat masalah
yang dipecahkan anak dan batas yang lebih tinggi merupakan tingkat tanggung
jawab ekstra yang dapatditerima anak dengan bantuan orang dewasa.
Teori kognitif dikritik berkenaan
dengan pandangan bahwa bahasa memiliki pengaruh yang kecil terhadap
perkembangan kognisi . pendapat ini bertentangan dengan penelitian yang
membuktikan bahwa pengetahuan baru dapat diperoleh seseorang melalui berbicara
dan menulis.
Jika Chomsky berpendapat bahwa
lingkungan tidak besar pengaruhnya pada proses pematangan bahasa, maka Piaget
berpendapat bahwa lingkungan juga tidak besar pengaruhnya terhadap perkembangan
intelaktual anak. Perubahan atau perkembangan intelaktual anak sangat tergantung
pada keterlibatan anak secara aktif dengan lingkungannya.
3.2.
Tugas Perkembangan Bahasa
Terdapat empat tugas perkambangan
bahasa diantaranya :
1.
Pemahaman, yaitu kemampuan memahami
makna ucapan orang lain. Bayi memahami bahasa orang lain, bukan memahami
kata-kata yang diucapkannya. Tetapi dengan memahami kegiatan/gerakan atau
gesture-nya (bahasa tubuhnya).
2.
Pengembangan Perbendaharaan Kata.
Perbendaharaan kata-kata anak berkembang dimulai secara lambat pada usia dua
tahun pertama, kemudian mengalami tempo yang cepat pada usia pra-sekolah dan
terus meningkat setelah anak masuk sekolah.
3.
Penyusunan Kata-kata Menjadi Kalimat,
kemampuan menyusun kata-kata menjadi kalimat pada umumnya berkembang sebelum
usia dua tahun. Bentuk kalimat pertama adalah kalimat tunggal (kalimat satu
kata) dengan disertai: “gesture” untuk melengkapi cara berpikirnya. Contohnya,
anak menyebut “Bola” sambil menunjuk bola itu dengan jarinya. Kalimat tunggal
itu berarti “tolong ambilkan bola untuk saya”. Seiring dengan meningkatnya usia
anak dan keluasan pergaulannya, tipe kalimat yang diucapkannya pun semakin
panjang dan kompleks. Menurut Davis, Garrison & McCarthy ( E. Hurlock,
1956) anak yang cerdas, anak wanita dan anak yang berasal dari keluarga berada,
bentuk kalimat yang diucapkannya itu lebih panjang dan kompleks dibandingkan
dengan anak yang kurang cerdas, anak pria dan anak yang berasal dari keluarga
miskin.
4.
Ucapan. Kemampuan mengucapkan kata-kata
merupakan hasil belajar melalui imitasi (peniruan) terhadap suara-suara yang
didengar anak dari orang lain (terutama orang tuanya). Pada usia bayi, antara
11-18 bulan, pada umumnya mereka belum dapat berbicara atau mengucapkan
kata-kata secara jelas, sehingga sering tidak dimengerti maksudnya. Kejelasan
ucapan itu baru tercapai pada usia sekitar tiga tahun. Hasil studi tentang
suara dan kombinasi suara menunjukkan bahwa anak mengalami kemudahan dan
kesulitan dalam huruf-huruf tertentu. Huruf yang mudah diucapkan yaitu huruf
hidup (vokal): i, a, e, dan u dan huruf mati (konsonan): t, p, b, m, dan n,
sedangkan yang sulit diucapkan adalah huruf mati tunggal: z, w, s, dan g, dan
huruf mati rangkap (diftong): st, str, sk, dan dr.
Menurut Zulkifli dalam
bukunya Psikologi Perkembangan
menjelaskan bahwa Perkembangan bahasa di tingkat permulaan dapat dianggap
semacam persiapan berbicara.
1.
Pada bulan pertama, bayi hanya pandai menangis. Dalam hal ini tangisan
dianggap sebagai pernyataan rasa tak senang.
2.
Kemudian ia menangis dengan cara yang berbeda-beda menurut maksud yang
hendak dinyatakannya.
3.
Selanjut ia mengeluarkan bunyi (suara-suara) yang banyak ragamya. Tetapi
bunyi-bunyi itu
4.
Menjelang usia pertengahan di tahun pertama, ia meniru suara-suara yang
didengarnya, kemudian mengulangi suara itu, tetapi bukan karena ia sudah
mengerti apa yang dikatakan kepadanya belum mempuanyai arti, hanya untuk
melatih pernapasan dan alat-alat bicara saja.
3.3.
Tahapan Perkembangan Bahasa
Menurut study yang dilakuan sebelum
tahun 1960, minat bahasa anak mulai timbul pada dekade pertama abad ke-20 yang
dipelori oleh ilmuan di bidang psikologi ataupun pedagogi, antara lain W.
Stern, W. Preyer, dan G. Stumpf. Pada umumnya mereka mempelajari buku harian
anak-anaknya kemudian membandingkan hasilnya. Tombullah argumentasi-argumentasi
mengenai perolahan bahasa anak.
Pada periode sesudah tahun 1960
terjadi perubahan yang cukup berarti. Disamping disebabkan karena munculnya
banyak tokoh dengan teori yang di bawanya, juga dikarenakan oleh kemajuan di
bidang teknologi, seperti adanya tape recorder, alat video, perhatian terhadap perkembangan
bahasa anak semakin meningkat. Dengan suatu alat, bahasa anakdapat diselidiki,
dengan merekam dan kemudian menganalisisnya. Tokoh-tokoh yang banyak melakukan
penyelidikan berkaitan dengan hal tersebut adalah W. Miller (1964), P. Menyuk
(1963), R. Brown (1964), dan Braine (1963).
M. Schaerleakens (1977) membagi
fase-fase perkembangan bahasa anak dalam empat periode. Perbedaan fase-fase ini
berdasrkana pada cirri-ciri tertentu yang khas pada setiap periode. Adapun
periode-periode tersebut sebagai berikut:
1. Periode Prelingual (usia 0 - 1 tahun)
Disebut demikian karena anak belum
dapat mengucapkan ‘bahasa ucapan’ seperti yang diucapkan orang dewasa, dalam
arti belum mengikuti aturan-aturan bahasa yang berlaku. Pada periode ini anak
mempunyai bahasa sendiri, misalnya mengoceh sebagai ganti komunikasi dengan
orang lain. Contohnya baba,mama, tata, ayng mungkin merupakan reaksi terhadap
situasi tertentu atau orang tertentu sebagai awal suatu simbolisasi karena
kematangan proses mental pada usia 9-10 bulan.
Pada periode ini, perkembangan yang
menyolok adalah perkembangan comprehension, artinya penggunaan bahasa secara
pasif. Misalnya anak mulai bereaksi terhadap pembicaraan orang dengan melihat
kepada pembicara dan memberikan reaksi yang berbeda terhadap suara yang ramah,
yang lembut, dan yang kasar.
2. Periode
Lingual Dini (1 - 2,5 tahun)
Pada periode ini anak mulai
mengucapkan perkataannya yang pertama, meskipun belum lengkap. Misalnya: atia
(sakit), agi (lagi), itut (ikut), atoh (jatuh). Pada masa ini beberapa
kombinasi huruf masih sukar diucapkan, juga beberapa huruf masih sukar untuk
diucapkan seperti r, s, k, j, dan t. pertambahan kemahiran berbahasa pada
periode ini sangat cepat dan dapat dibagi dalam tiga periode, yaitu:
a. Periode kalimat satu kata (
holophrare)
Menurut aturan tata bahasa, kalimat satu
kata bukanlah suatu kalimat, karena hanya terdiri dari satu kata, tetapi para
ahli peneliti perkembangan bahasa anak beranggapan bahwa kata-kata pertama yang
diucapkan oleh anak itu mempunyai arti lebih dari hanya sekedar suatu ‘kata’
karena kata itu merupakan ekspresi dari ide-ide yang kompleks, yang pada orang
deawasa akan dinyatakan dalam kalimat yang lengkap. Contohnya: ucapan “ibu” dapat berarti: Ibu kesini! Ibu kemana? Ibu tolong
saya! Itu baju ibu, Ibu
saya lapar, dst.
Pada umunya, kata
pertama ini dipergunakan untuk member komentar terhadap obyek atau kejadian di
dalam lingkungannya. Dapa berupa perintah, pemberitahuan, penolakan,
pertanyaan, dll. Bagaimana menginterpretasikan kata pertama ini tergantung pada
konteks waktubkata tersebut di ucapkan, sehingga untuk dapat mengerti apa
maksud si anak dengan kata tersebut kita harus melohat atau mengobservasi apa
yang sedang dikerjakan anak pada waktu itu. Intonasi juga sangat membantu untuk
mempermudah menginterpretasikan apakah si anak bertana, member tahu, atau
memerintah.
b. Periode kalimat dua kata
Dengan
bertambahnya perbendaharaan kata yang diperolah dari lingkungan dan juga karena
perkembangan kognitif serta fungsi-fungsi lain pada anak, maka terbentuklah
pada periode ini kalimat yang terdiri dari dua kata.
Pada
umunya, kalimat kedua muncul pertama kali tatkala seorang anak mulai mengerti
suatu tema dan mencoba untuk mengekspresikannya. Hal ini terjadi pada sekitar
usia 18 bulan, dimana anak menentukan bahwa kombinasi dua kata tersebut
mempunyai hubungan tertentu yang mempunya makna berbeda-beda, misalnya makna
kepunyaan (baju ibu), makna sifat (hidung pesek), dan lain sebagainya.
c. Kaimat lebih dari dua kata
Kalau
ada lebih dari dua kata di bidang morfologi belum terlihat perkembangan yang
nyata, maka pada periode kalimat lebih dari dua kata sudah terlihat kemampuan
anak di bidang morfologi. Keterampilan membentuk kalimat bertambah, terlihat
dari panjangnay kalimat, kalimat tiga kata, kalaimat empat kata, dan
seterusnya. Pada periode ini penggunaan nahasa tidak bersifat egosentris lagi,
melainkan anak sudah mempergunakan untuk komunikasi dengan orang lain, sehingga
mulailah terjadi suatu hubungan yang sesungguhnya antara anak dengan orang
dewasa.
C. Periode Diferensiasi (usia 2,5 - 5 tahun)
Yang menyolok pada periode ini adalah
keterampilan anak dalam mengadakan diferensiasi dalam penggunaan kata-kata dan
kalimat-kalimat. Secara garis besar ciri umum perkembangan bahasa pada periode
ini adalah sebagai berikut:
1.
Pada akhir periode secara garis besar anak telah menguasai bahasa
ibunya, artinya hukum-hukum tatabahasa yang pokok dari orang dewasa telah
dikuasai.
2.
Perkembangan fonologi boleh dikatakan telah berakhir. Mungkin masih ada
kesukaran pengucapan konsonan yang majemuk dan sedikit kompleks.
3.
Perbendaharaan kata sedikit demi sedikit mulai berkembang.Kata benda dan
karta kerja mulai lebih terdiferensiasi dalam pemakaiannya, hal ini ditandai
dengan penggunaan kata depan, kata gati dank at kerja bantu.
4.
Fungsi bahasa untuk komunikasi benar-benar mulai berfungsi. Persepsi
anak dan pengalamannya tentang dunia luar mulai ingin dibaginya dengan orang
lain, dengan cara memberikan kritik, bertanya, menyuruh, membri tahu dan
lain-lain.
5.
Mulai terjadi perkembangan di bidang morfologi, ditandai dengan
munculnya kata jamak, perubahan akhiran, perubahan kata karja, dan lain-lain.
D.
Perkembangan bahasa sesudah usia 5 tahun
Dalam periode ini ada anak dianggap
telah menguasai struktur sintaksis dalam bahasa pertamanya, sehingga ia dapat
membuat kalimat lengkap. Jadi sudah tidak terlalu banyak masalah. Menurut
Piaget, pada periode ini perkembangan anak di bidang kognisi masih berkembang
terus sampai usia 14 tahun, sedangkan peranan kognisi sanga t besar dalam
penggunaan bahasa. Dengan masih terus berkembangnya kognisi, dengan sendirinya
perkembangan bahasa juga masih berkembang.
Ada beberapa penelitian tentang
perkembangan bahasa sesudan usia 5 tahun, antara lain penelitian yang dilakukan
oleh A. Karmiloff Smith yang menyelidiki bahasa anak-anak sekolah (1979) yang
menyatakan bahwa antara usia 5 – 8 tahun muncul cirri-ciri baru yang khas pada
bahasa anak, yaitu kemampuan untuk mengerti hal-hal yang abstrak pada taraf
yang lebih tinggi. Baru kemudian sesudah anak usia 8 tahun bahasa menjadi alat
yang betul-betuk penting baginya untuk melukiskan dan menyampaikan pikiran.
Dalam bidang semantic terlihat
kemajuan-kemajuan yang tercermin pada penambahan kosa kata, dan penggunaan kata
sambung secara tepat. Tetapi aturan sintaksis khusus untuk pembuatan kalimat
konteks baru dikuasai secara bertahap antara usia 5 – 10 tahun. Selanjutnya
pada usia 7 tahun baru dapat menggunakan kalimat pasif, maksudnya mengerti
aturan-aturan tatabahasa mengenai prinsip-prinsip khusus, bertidak ekonomis
dalam mengungkapkan sesuatu serta menghindari hal-hal yang berlebihan. Sampai
SMP keterampilan bicara lebih meningkat, sintaksis lebih lengkap dengan
variasi-variasi struktur dan variasi-variasi kata, baik kekomplekan kalimat
tulis maupun lisan.
3.4.
TIPE-TIPE PERKEMBANGAN BAHASA
Menurut Saymsu Yususf (2007:119-120)
Ada dua tipe perkembangan bahasa anak,yaitu sebagai berikut.
1.
Egocentric Speech,yaitu anak berbicara
kepada dirinya sendiri (monolog).Hal ini berfungsi untuk mengembangkan
kemampuan berpikir anak yang pada umumnya dilakukan oleh anak berusia 2-3
tahun.
2.
Socialized Speech,yang terjadi ketika
berlangsung kontak antara anak dengan temannya atau dengan lingkungannya.Hal
ini berfungsi mengembangkan kemampuan penyesuaian sosial.
Perkembangan ini dibagi kedalam lima bentuk adapted information (saling tukar
gagasan atau tujuan bersama yang dicari); Critism
(penilaian anak terhadap ucapan atau tingkah laku orang lain); Command (perintah); request (permintaan) dan threat
(ancaman); Question (pertanyan); Answer (jawaban).
3.5.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PERKEMBANGAN BAHASA
Menurut Tarmasyah (1996) faktor yang
mempengaruhi perkembangan berbahasa dan bicara diantaranya :
1.
Kondisi jasmani
Kondisi jasmaniah anak meliputi kondisi fisik sehat, tentunya
mempunyai kemampuan gerakan yang lincah, dan penuh energi. Anak demikian anak
mempunyai rasa ingin tahu tentang benda-benda disekitarnya, kemudian benda
tersebut diasosikan anak menjadi sebuah pengertian. Untuk selanjutnya
pengertian tersebut dilahirkan dalam bentuk bahasa dan di ucapakan. Anak yang
mempunyai kondisi fisik yang normal akan
mempunyai kosep bahasa yang lebih dari
anak yang kondisi fisiknya terganggu. Dengan demikian kemampuan bahasa
dan keterampilan berbicara akan berbeda.
2.
Kesehatan umum
Kesehatan
secara umum menujang perkembangan setiap anak termasuk didalamya
kemampuan bahasa dan keterampilan berbicara. Anak yang berpenyakit tidak
mempunyai kebebasan dalam mengenal lingkungan sekitarnya secara utuh sehingga
anak kurang mampu mengekspresikannya. Namun anak yang sehat akan mampu
mengenali lingkungan dan mampu mengekspresikan secara utuh dalam bentuk bahasa
dan berbicara.
Lebih lanjut Tarmansyah (1996: 53) mengatakan “…. adanya gangguan
pada kesehatan anak, akan mempengaruhi dalam perkembangan bahasa dan bicara.
Hal ini terjadi sehubungan dengan berkurangnya kesempatan untuk memperoleh
pengalaman dari lingkungan. Selain itu, mungkin anak yang kesehatannya kurang
baik tersebut menjadi berkurang minatnya untuk ikut aktif melakukan kegiatan,
sehingga menyebabkan kurangnya input yang diperlukan untuk membentuk konsep
bahasa dan perbendaharaan pengertian.
Menurut Elizabeth B. Hurlock (1978: 186) faktor yang menimbulkan
perbedaan dalam belajar berbicara tentang kesehatan anak yang sehat akan cepat
belajar berbicara ketimbang anak yang tidak sehat, karena ada motivasi untuk
bergabung dengan kelompok sosial dan berkomunikasi dengan anggota kelompok
tersebut.
3.
Kecerdasan
Kecerdasan pada anak usia dini meliputi
fungsi mental intelektual. Anak yang memiliki intelegensi tinggi akan mampu
berbicara lebih awal sedangkan anak yang memiliki intelegensi rendah akan
terlambat dalam kemampuan berbahasa dan berbicara. Berdasarkan hal tersebut
menunjukkan bahwa kecerdasan atau intelegensi berpengaruh terhadap kemampuan
bahasa dan bicara.
Menurut Elizabeth B. Hurlock (1978: 186) anak yang memiliki
kecerdasan tinggi belajar berbicara lebih cepat dan memperlihatkan penguasaan
bahasa yang lebih unggul ketimbang anak yang tingkat kecerdasannya rendah.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa kelancaran keterampilan
berbicara pada anak yang memiliki kecerdasan yang baik, umumnya tidak mengalami
hambatan dalam berbahasa dan berbicara. Jadi, kelancaran berbicara menunjukan
kematangan mental intelektual.
4.
Sikap lingkungan
Lingkungan yang mempengaruhi perkembangan
bahasa dan bicara anak adalah lingkungan bermain baik dari tetangga maupun dari
sekolah. Oleh karena itu lingkungan sangat mempengaruhi bahasa anak, maka
lingkungan dari mana pun bagi anak hendaklah lingkungan yang dapat menimbulkan
minat berkomunikasi anak. Proses perolehan bahasa anak diawali dengan kemampuan
mendengar kemudian maniru suara yang didengar dari lingkungan. Proses semacam
ini, anak tidak akan mampu berbahasa dan berbicara jika anak tidak diberi
kesempatan untuk mengungkapkan yang pernah didengarnya. Oleh karena itu
keluarga harus memberi kesempatan kepada anak belajar dari pengalaman yang
pernah didengarnya. Kemudian berangsur-angsur ketika anak mampu mengekspresikan
pengalaman, baik dari pengalaman mendengar, melihat, membaca dan diungkapkan
kembali dalam bahasa lisan.
5.
Sosial Ekonomi
Kondisi sosial ekonomi dapat mempengaruhi perkembangan bahasa dan
bicara. Hal ini dikarenakan sosial ekonomi seseorang memberikan dampak terhadap
hal-hal yang berkaitan dengan berbahasa dan berbicara. Makanan dapat
mempengaruhi kesehatan. Makanan yang bergizi akan memberikan pengaruh positif
untuk perkembangan sel otak. Perkembangan sel otak inilah yang akhirnya
digunakan untuk mencerna semua rangsangan dari luar sehingga rangsangan
tersebut akan melahirkan respon dalam bentuk berbahasa dan berbicara. Gambaran
tersebut menujukkan bahwa kondisi social ekonomi yang tinggi dapat memenuhi
kebutuhan makan anaknya yang memadai.
Menurut Elizabeth B. Hurlock (1978: 186) anak dari kelompok sosial
ekonomi tinggi lebih mudah belajar berbicara, mengungkapkan dirinya lebih baik,
dan lebih banyak berbicara ketimbang anak dari kelompok yang keadaan ekonominya lebih rendah. Penyebab utama adalah anak dari
kelompok lebih tinggi lebih banyak didorong unutk berbicara dan lebih banyak di
bombing melakukannya.
6.
Kedwibahasaan
Kedwibahasaan atau bilingualism adalah kondisi dimana seseorang
berada di lingkungan orang lain yang menggunakan dua bahasa atau lebih. Kondisi
demikian dapatlah mempengaruhi atau memberikan akibat bagi perkembangan bahasa
dan berbicara anak. Meskipun ada anggapan bahwa anak usia dini dapat belajar
bahasa yang berbeda sekaligus, namun jika dalam penggunaannya bersamaan dan
bahasa yang digunakan berbeda, maka hal ini dapat mempengaruhi perkembangan
bahasa dan bicara anak.
7.
Neurologi
Neuro adalah syaraf, sedangakan neurologis dalam berbicara adalah
bentuk layanan yang dapat diberikan kepada anak untuk membantu mereka yang
mengalami gangguan bicara. Oleh karena itu gangguan berbicara penyebabnya dapat
dilihat dari keadaan neurologisnya.
Beberapa faktor neurologis yang mempengaruhi perkembangan bahasa dan
bicara anak menurut Tarmansyyah (1996) adalah meliputi:
1. Bagaimana struktur
susunan syarafnya
2. Bagaimana fungsi
susunan syarafnya
3. Bagaimana peranan
susunan syarafnya
4. Bagaimana syaraf
yang behubungan dengan organ bicaranya
Adapun faktor lain yang juga
berpengaruh terhadap perkembangan bahasa antara lain :
1.
Jenis Kelamin
Dibandingkan dengan anak perempuan, anak laki-laki tertinggal dalam
belajar berbicara. Pada setiap jenjang umur, kalimat anak lelaki lebih pendek
dan kurang betul tata bahasanya, kosakata yang diucapkan lebih sedikit, dan
pengucapannya kurang tepat ketimbang anak perempuan.
2.
Keinginan berkomunikasi
Semakin kuat keinginan utnuk berkomunikasi dengan orang lain,
semakin kuat motivasi anak untuk belajar berbicara, dan semakin bersedia
menyisihkan waktu dan usaha yang diperlukan utnuk belajar.
3.
Dorongan / Motivasi
Semakin banyak anak di dorong utnuk berbiacara dengan mengajaknya
bicara, dan didorong menanggapinya, akan semakin unggul mereka dalam berbicara
dan semakin baik kualitas bicaranya.
4.
Ukuran Keluarga
Anak tunggal atau anak dari keluarga kecil biasanya berbicara lebih
awal dan lebih baik ketimbang dari keluarga besar karena orang tua dapat
menyisihkan waktu yang lebih banyak untuk mengajak anaknya berbicara.
5.
Urutan kelahiran
Dalam keluarga yang sama, anak pertama lebih unggul ketimbang anak
yang lahir kemudian. Ini karena orang tua dapat menyisihkan waktunya lebih
banyak untuk mengajar dan mendorong anak yang lahir pertama dalam belajar
berbicara disbanding anak yang lahir kemudian.
6.
Metode Pelatihan Anak
Anak-anak yang dilatih secara otoriter yang menekankan bahwa “anak
harus dilihat dan bukan didengar” merupakan hambatan belajar, sedang pelatihan
yang memberikan keleluasaan dan demokratis akan mendorong anak untuk belajar.
7.
Kelahiran kembar
Anak yang lahir kembar umumnya terlambat dalam perkembangan
bicaranya terutama karena mereka lebih banyak bergaul dengan saudara kembarnya
dan hanya memahami logat khusus yang mereka miliki.
BAB III
KESIMPULAN & SARAN
KESIMPULAN & SARAN
4.1.
Kesimpulan
Berdasakan pembahasan diatas, dapat
ditarik beberapa kesimpulan, diantaranya yaitu :
·
Perkembangan bahasa adalah
perkembangan bentuk komunikasi (lisan,
tulisan, bahasa isyarat, bahasa gerak tubuh, ekspresi wajah pantonim atau seni)
dari pertama anak dilahirkan hingga mampu bertutur kata.
·
Terdapat 3 teori perkembangan
bahasa yaitu Nativisme, Behaviorisme, dan Kognitifisme yang masing-masing
mempunyai definisi berbeda
·
Tugas perkembangan bahasa
dibagi menjadi 4 yaitu (1) Pemahaman (2) Pengembangan dan Pembendaharaan Kata
(3) Penyusunan Kata-Kata Menjadi Kalimat (4) Ucapan
·
Perkembangan bahasa dibagi
menjadi beberapa fase mulai dari Periode Prelingual (usia 0 - 1 tahun); Lingual
Dini (1 - 2,5 tahun); Diferensiasi (usia 2,5 - 5 tahun); dan perkembangan
bahasa sesudah usia 5 tahun
·
Terdapat 2 tipe perkembangan
bahasa yaitu Egocentric Speech (anak
berbicara kepada dirinya sendiri) dan Socialized
Speech (anak dengan temannya atau dengan lingkungannya)
·
Adapun faktor-faktor yang
mempengaruhi perkembangan bahasa antara lain: kondisi jasmani, kesehatan umum,
kecerdasan, sikap lingkungan, social ekonomi, kedwibahasaan, neorologi, jenis
kelamin, keinginan berkomunikasi, motivasi, ukuran keluarkan, urutan kelahiran,
metode pelatihan anak, dan kelahiran kembar
4.2.
Saran
Dengan adanya makalah tentang definisi dan
teori, tugas, tipe, tahapan, dan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap
perkembangan bahasa ini, penulis menyarakan dapat menjadikan makalah ini
sebagai referensi dalam memberikan pemahaman dan penjelasan dalam proses pengembangan
peserta didik khususnya dalam pengenalan karaktertaristik pembelajar terutama
dalam pengembangan bahasa yang dimiliki.
DAFTAR PUSTAKA
Budiamin , Amin . 2006
. Perkembangan Peserta Didik . Bandung : UPI Press
Budiman , Nandang .
2006 . Memahami Perkembangan Anak Usia Sekolah Dasar. Jakarta : Departemen
Pendidikan Nasional .
Chaer, Abdul. 2003. Psikolingustik Kajian Teoretik. Jakarta
: Rineka Cipta.
Hurlock, B. E. 1978. Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga.
Rini Hildayani, dkk.
(2005). Psikologi Perkembangan Anak. Jakarta: Universitas Terbuka.
Rusyana, Yus. 1984.
Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan. Bandung: C.V. Diponegoro.
Sunarto dan Agung
Hartono. (2006). Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Soetjiningsih. (2004).
Tumbuh Kembang Remaja dan
Permasalahanya. Jakarta : Sagung Seto
Yusuf , Syamsu . 2007 .
Psikologi Perkembangan Anak & Remaja .
Bandung : PT Remaja Rosdakarya
.
Zulikifli. 2006. Psikologi Perkembangan. Bandung : PT
Remaja Rosdakarya.
Komentar
Posting Komentar