MAKALAH PERKEMBANGAN EMOSI
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas
segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan
penyusunan makalah ini dengan tepat waktu. Semoga makalah ini dapat
dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca.
Penulis
sangat bersyukur karena telah menyelesaikan makalah yang menjadi tugas Mata Kuliah Perkembangan
Peserta Didik dengan
judul "Perkembangan Emosi". Disamping itu, kami mengucapkan banyak
terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami selama pembuatan
makalah ini berlangsung sehingga terealisasikanlah makalah ini.
Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan
karena pengalaman yang kami miliki sangat kurang. Oleh karena itu saya harapkan
kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun
untuk kesempurnaan makalah ini.
Malang,12 Februari 2017
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
......................................................................................................... ....2
DAFTAR ISI ............................................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN
........................................................................................................4
1.1 Latar Belakang
................................................................................................................
1.2 Rumusan Masalah
...........................................................................................................
1.3 Tujuan ..............................................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
..................................................................................................... ....5
2.1 Perubahan dan Pengembangan Kurikulum......................................................................
2.2 Tantangan dan Hambatan dalam
Pebaharuan Kurikulum................................................
2.3 Kurikulum di Masa Depan...............................................................................................
BAB III PENUTUP
..................................................................................................................
3.1 Kesimpulan ......................................................................................................................
DAFTAR
PUSTAKA.................................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Pendidikan
adalah salah satu kebutuhan penting dalam proses menjalani kehidupan
ini. Dalam beberapa kasus pendidikan dianggap ‘barang mahal’ bagi beberapa
kalangan tertentu. Namun seiring berjalannya waktu dan perkembangan teknologi
dan zaman makin cepat, kini pendidikan dapat diraih dengan mudah. Dalam proses
pendidikan ada beberapa aspek yang harus diketahui seorang pendidik dalam
melaksanakan pendidikan tersebut agar sesuai dengan tujuan pendidikan yang
tercantum dalam UU no. 20 tahun 2003. Beberapa aspek itu salah satunya adalah
mengenali karakteristik peserta didik, atau dengan kata lain mampu memahami
perkembangan peserta didik.
Dalam proses mengenali
dan memehami perkembangan peserta didik salah satunya yaitu dengan memahami proses
emosional peserta didik. Semua manusia pada
umumnya memiliki dorongan dan minat yang besar untuk mencapai atau ingin
memiliki sesuatu. Adanya perilaku seseorang dan munculnya berbagai kebutuhan
seseorang disebabkan oleh dorongan dan minat yang besar. Jika terpenuhi, itulah
dasar dari pengalaman emosionalnya.
1.2 Rumusan
Masalah
1.
Apakah pengertian emosi itu?
2. Bagaimana ciri-ciri
perkembangan emosi itu?
3. Faktor
apa sajakah yang memengaruhi perkembangan emosi?
4. Bagaimana
individual
dalam perkembangan emosi?
5. Bagaimana upaya
pengembangan emosi remaja dan implikasinya dalam penyelenggaraan pendidikan?
1.3 Tujuan
1. Mahasiswa memahami tentang
pengertian emosi.
2. Mahasiswa memahami tentang
ciri-ciri perkembangan emosi.
3. Mahasiswa mengetahui faktor apa
saja yang memengaruhi perkembangan emosi.
4. Mahasiswa mengetahui tentang individual
dalam perkembangan emosi.
5. Mahasiswa
mengetahui upaya pengembangan emosi remaja dan implikasinya dalam
penyelenggaraan pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian
Emosi
Rasa dan perasaan merupakan salah satu
potensi yang khusus dimiliki oleh manusia. Dalam hidup atau proses perkembangan
manusia, banyak hal yang dibutuhkan. Jika kebutuhan tersebut terpenuhi, akan
timbul rasa senang atau puas. Akan tetapi jika kebutuhan tersebut tidak
terpenuhi, maka akan timbul rasa kecewa. Emosi merupakan gejala perasaan yang
disertai perubahan atau perilaku fisik seperti marah, yang ditunjukkan dengan
teriakan suara keras atau tingkah laku yang lain.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003:298), disebutkan bahwa yang dimaksud dengan emosi adalah luapan
perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat atau keadaan dan reaksi
psikologis dan fisiologis seperti kegembiraan, kesedihan, keharuan, dan
kecintaan. Sedangkan emosional dalam buku yang sama artinya menyentuh perasaan
atau mengharukan. Sedangkan menurut sebagian ahli atau pakar psikologi
perkembangan yang diwakili Lawrence
(Suyadi 2009:104), emosi adalah kondisi kejiwaan manusia.
Menurut Patty F (1992), emosi merupakan reaksi individu terhadap suatu
perubahan terhadap situasi yang sekonyong-konyong sehingga tidak dapat
bertindak dengan suatu tujuan tertentu. Reaksi tersebut berupa terkejut, takut,
sedih, marah, atau gembira terhadap kejadian orang atau objek diluar individu.
Gejala emosi yang lain adalah rasa takut, cinta, sedih, dan duka cita, ingin
tahu, dan penasaran.
Pola perkembangan emosi anak sebenarnya
telah ada sejak ia lahir atau bayi. Menurut Hurlock (Suyadi, 2009:105) gejala emosional pertama yang muncul
adalah keterangsangan yang umum terhadap stimulus atau rangsangan yang kuat.
Reaksi emosional ini memang belum nampak jelas sebagai reaksi emosi pada
umunya, tetapi hanya memberi kesan sederhana berupa kesenangan atau
ketidaksenangan.
2.2
Ciri-Ciri
Perkembangan Emosi
Masa remaja merupakan masa yang penuh
badai dan tekanan. Ketegangan emosi meninggi akibat perubahan fisik dan juga
kelenjar. Rata-rata emosi para remaja menjadi tinggi karena mereka sedang
berada dibawah tekanan sosial dan juga mereka sedang menghadapi kondisi baru,
sedangkan selama anak-anak mereka kurang mempersiapkan diri. Tetapi tidak semua
remaja mengalami tekanan dan badai dalam hidupnya.
Pola emosi masa remaja adalah sama
dengan pola emosi masa kanak-kanak. Jenis emosi yang secara normal dialami
adalah: cinta/kasih sayang, gembira, amarah, takut dan cemas, cemburu sedih,
dan lain-lain. Perbedaannya terletak pada macam dan derajat rangsangan yang
membangkitkan emosinya, dan khususnya pola pengendalian yang dilakukan individu
terhadap ungkapan emosi mereka. Berikut ini akan dibahas beberapa kondisi
emosional:
Cinta/Kasih
sayang
Faktor penting dalam kehidupan remaja
adalah kapasitasnya untuk mencintai orang lain dan kebutuhannya untuk
mendapatkan cinta dari orang lain. Kemampuan untuk menerima cinta sama
pentingnya dengan kemampuan untuk memberinya. Walaupun para remaja sudah banyak
yang bergerak ke dalam dunia bebas, tetapi dalam dirinya masih terdapat sifat
kanak-kanaknya. Remaja membutuhkan kasih sayang dari orang tua di rumah yang
sama banyaknya dengan apa yang mereka alami pada tahun-tahun sebelumnya.
Kebutuhan untuk memberi dan menerima
cinta menjadi sangat penting, walaupan kebutuhan-kebutuhan akan perasaan itu
disembunyikan secara rapi. Para remaja yang berontak secara terang-terangan,
nakal, dan mempunyai sikap permusuhan yang besar kemungkinannya disebabkan oleh
kurangnya rasa cinta dan dicintai yang tidak disadari.
Gembira
Individu pada umumnya dapat mengingat
kembali pengalaman-pengalaman yang menyenangkan yang menyenangkan tersebut kita
agaknya mempunyai cerita yang panjang dan lengkap tentang apa yang terjadi
dalam perkembangan emosional remaja.
Rasa gembira akan dialami apabila segala
sesuatunya berlangsung dengan baik dan para remaja akan mengalami kegembiraan
jika ia diterima sebagai seorang sahabat atau bila ia jatuh cinta dan cintanya
itu mendapat sambutan (diterima) oleh yang dicintai.
Kemarahan
dan Permusuhan
Rasa marah merupakan gejala yang penting
diantara emosi-emosi yang memainkan peranan yang menonjol dalam perkembangan
kepribadian. Rasa marah juga penting dalam kehidupan, karena rasa marahnya
seseorang mempertajam tuntutannya sendiri dan pemilikan minat-minatnya sendiri.
Kondisi-kondisi yang menyebabkan timbulnya rasa marah kurang lebih sama, tetapi
ada beberapa perubahan sehubungan dengan pertambahan umurnya dan
kondisi-kondisi tertentu yang menimbulkan rasa marah atau meningkatnya
penguasaan kendali emosional.
Ketakutan dan Kecemasan
Menjelang balita mencapai masa
anak-anak, kemudian masa remaja, dia telah mengalami serangkaian perkembangan
panjang yang mempengaruhi pasang surut berkenaan dengan rasa ketakutannya.
Beberapa rasa takut sudah teratasi, tetapi masih banyak yang tetap ada. Banyak
ketakutan-ketakutan baru muncul karena adanya kecemasan-kecemasan dan rasa
berani yang bersamaan dengan perkembangan remaja itu sendiri.
Semua remaja sedikit banyak takut
terhadap waktu. Beberapa di antara mereka merasa takut hanya pada
kejadian-kejadian bila mereka dalam bahaya. Beberapa orang mengalami rasa takut
secara berulang-ulang dengan kejadiian dalam kehidupan sehari-hari, atau karena
mimpi-mimpi, atau karena pikiran-pikiran mereka sendiri. Beberapa orang dapat
mengalami rasa takut sampai berhari-hari bahkan sampai berminggu-minggu.
Remaja seperti halnya anak-anak dan
orang dewasa, seringkali berusaha untuk mengatasi ketakutan-ketakutan yang
timbul dari persoalan-persoalan kehidupan. Tidak ada seorang pun yang
menerjunkan dirinya dalam kehidupan dapat tanpa rasa takut adalah menyerah
terhadap rasa takut, seperti terjadi bila seseorang begitu takut sehingga ia
tidak berani mencapai apa ada sekarang atau masa depan yang tidak menentu.
2.3
Faktor-Faktor
yang Memengaruhi Perkembangan Emosi
Dalam sejumlah penelitian, perkembangan
emosi sangat dipengaruhi oleh faktor kematangan dan faktor belajar. Kedua
faktor itu terjalin erat satu sama lain dan akan mempengaruhi perkembangan
intelektual. Hal itu akan menghasilkan suatu kemampuan berpikir kritis,
mengingat, dan menghafal. Selain itu, individu akan menjadi reaktif terhadap
rangsangan.
Dalam faktor belajar, terdapat
metode-metode yang menunjang perkembangan emosi, diantaranya :
a. Belajar dengan coba-coba
Anak belajar dengan
coba-coba untuk mengekspresikan emosinya dalam bentuk perilaku yang dapat
memberikan kepuasan sedikit atau bahkan tidak memberikan kepuasan.
b. Belajar dengan cara meniru
Dengan cara meniru dan
mengamati hal-hal yang dapat membangkitkan emosi orang lain.
c. Belajar dengan cara mempersamakan diri
Anak akan menirukan
reaksi emosional orang yang dikagumi dan mempunyai ikatan emosional yang kuat.
d. Belajar melalui pengondisian
Objek atau situasi yang
mulanya gagal memancing reaksi emosional kemudian berhasil melalui metode
asosiasi.
e. Belajar di bawah bimbingan dan
pengawasan
Anak diajarkan cara
bereaksi yang dapat diterima jika suatu emosi terangsang. Dapat melalui
pelatihan maupun yang lainnya.
Banyak kondisi sehubungan dengan
pertumbuhan dan perkembangan peserta didik dalam hubungannya dengan orang lain
yang membawa perubahan untuk menyatakan emosi. Orang tua dan guru berhak
menyadari perubahan ekspresi ini karena tidak berarti emosi tidak lagi berperan
dalam kehidupan mereka. Mereka juga tetap membutuhkan rangsangan dan respons
untuk mengembangkan pengalaman dan kemampuannya. Bertambahnya umur juga akan
berpengaruh signifikan terhadap perubahan irama emosional, terutama faktor
pengetahuan dan pengalaman.
2.4
Individual
dalam Perkembangan Emosi
Bersosialisasi dilakukan oleh setiap
orang, baik secara individu maupun berkelompok. Dilihat dari berbagai aspek
terdapat perbedaan individual manusia yang hal itu tampak juga dalam
perkembangan sosialnya.
Sesuai dengan teori komprehensif tentang
perkembangan sosial yang dikembangkan oleh Erickson, maka di dalam upaya
memenuhi kebutuhan hidupnya setiap manusia menempuh langkah yang berlainan satu
dengan yang lain. Dalam teori Erickson dinyatakan bahwa manusia (anak) hidup
dalam kesatuan budaya yang utuh, alam dan kehidupan masyarakat menyediakan
segala hal yang dibutuhkan manusia namun sesuai dengan minat, kemampuan, dan
latar belakang kehidupan budayanya maka berkembang kelompok-kelompok sosial
yang beraneka ragam. Remaja yang telah mulai mengembangkan kehidupan
bermasyarakat, maka telah mempelajari pola-pola sosial yang sesuai dengan
kepribadiannya.
Perkembangan berkenaan dengan
keseluruhan kepribadian individu, karena kepribadian individu membentuk satu
kesatuan yang terintegrasi. Dalam kepribadian ada beberapa aspek penting yaitu,
aspek fisik dan motorik, intelektual, sosial, bahasa, emosi dan moral, serta
keagamaan. Perkembangan dari setiap aspek kepribadian tidak selalu bersama-sama
atau sejajar, perkembangan suatu aspek mungkin mendahului atau mungkin juga
mengikuti aspek lainnya.
Perkembangan tiap aspek:
a. Perkembangan
aspek fisik dan motorik: sejak awal di kandungan hingga pertumbuhan dan
perkembangan fisik terus berjalan pada usia 13-16 tahun (masa remaja awal).
b. Perkembangan
aspek sosial: diawali masa anak-anak (3-5 tahun), agak pesat pada masa anak
sekolah (11-12 tahun), dan sangat pesat pada masa remaja (16-18 tahun).
c. Perkembangan
aspek kognitif atau intelektual: berkembang pesat pada mulai masuk sekolah
dasar (6-7 tahun), berkembang konstan selama masa belajar dan mencapai
puncaknya pada masa sekolah menengah atas (16-17 tahun).
d. Perkembangan
aspek bahasa: berjalan pesat pada awal masa sekolah dasar dan mencapai
kesempurnaan pada akhir masa remaja.
e. Perkembangan
aspek afektif atau perasaan: berjalan konstan kecuali pada masa remaja awal
(13-14 tahun) dan remaja tengah (15-16 tahun), yang sering terjadinya proses
pencarian jati diri, dan berakhir pada masa remaja akhir (18-21 tahun).
f.
Perkembangan moral dan
keagamaan: berkembang sejak kecil, peranan lingkungan keluarga sangat dominan
dalam perkembangan aspek ini.
2.5
Upaya
Pengembangan Emosi Remaja dan Implikasinya dalam Penyelenggaraan Pendidikan
Emosi negatif pada dasarnya dapat
diredam sehingga tidak menimbulkan efek negatif. Beberapa cara untuk meredam
emosi adalah :
·
berfikir positif
·
mencoba belajar
memahami karakteristik orang lain
·
mencoba menghargai
pendapat dan kelebihan orang lain
·
introspeksi dan mencoba
melihat apabila kejadian yang sama terjadi pada diri sendiri, mereka dapat
merasakannya
·
bersabar dan menjadi
pemaaf
·
mengalihkan perhatian,
yaitu mencoba mengalihkan perhatian pada objek lain dari objek yang pada
mulanya memicu pemunculan emosi negatif
Mengendalikan emosi itu penting. Hal ini didasarkan atas kenyataan bahwa emosi
mempunyai kemampuan untuk mengkomunikasikan diri pada orang lain. Orang-orang
yang dijumpai dirumah atau di kampus akan lebih cepat menanggapi emosi daripada
kata-kata.
Cara lainnya adalah dengan
mengekspresikan emosi.Ekspresi itu dapat mengembangkan sifat kreativitas
seseorang. Ekspresi juga dapat mencegah timbulnya kejadian-kejadian yang tidak
diberi kesempatan untuk menjelmakan perasaannya dan menghadapi perasaannya. Tanpa
ekspresi, bahan yang terpendam itu dapat membahayakan.
Intervensi pendidikan untuk
mengembangkan emosi remaja agar dapat mengembangkan kecerdasan emosi, salah
satunya adalah dengan menggunakan intervensi yang dikemukakan oleh W.T Grant Consertium tentang
“Unsur-Unsur Aktif Program Pencegahan” yaitu sebagai berikut :
1. Pengembangan Keterampilan Emosional
·
mengidentifikasi dan
memberi nama atau label perasaan
·
mengungkapkan perasaan
·
menilai intensitas
perasaan
·
mengelola perasaan
·
menunda pemuasan
·
mengendalikan dorongan
hati
·
mengurangi stress
·
memahami perbedaan
anatara perasaan dan tindakan
2. Pengembangan Keterampilan Kognitif
·
belajar melakukan
dialog batin sebagai cara untuk menghadapi dan mengatasi masalah atau
memperkuat perilaku diri sendiri
·
belajar membaca dan
menafsirkan isyarat-isyarat social
·
belajar menggunakan
langkah-langkah penyelesaian masalah dengan pengambilan keputusan
·
belajar memahami sudut
pandang oranglain (empati)
·
belajar memahami sopan
santun
·
belajar bersikap
positif terhadap kehidupan
·
belajar mengembangkan
kesadaran diri
3. Pengembangan Keterampilan Perilaku
·
mempelajari
keterampilan komunikasi non verbal, misal melalui pandangan mata,ekspresi
wajah, gerak-gerik, posisi tubuh dan lain-lain
·
mempelajari
keterampilan komunikasi verbal, misal mengajukan permintaan dengan jelas,
mendiskripsikan sesuatu kepada oranglain dengan jelas, menanggapi kritik secara
efektif
Agar emosi positif pada diri remaja
dapat berkembang dengan baik, dapat dirangsang, disikapi oleh orang tua maupun
guru dengan cara :
·
orangtua dan guru serta
orang dewasa lainnya dalam lingkungan anak
(significant person) dapat menjadi model dalam mengekspresikan
emosi-emosi negatif, sehingga tampilannya tidak meledak-ledak.
·
adanya program latihan
beremosi baik disekolah maupun didalam keluarga, misalnya dalam merespon dan
menyikapi sesuatu yang tidak sejalan sebagaimana mestinya.
·
mempelajari dan
mendiskusikan secara mendalam kondisi-kondisi yang cenderung menimbulkan emosi negatif dan upaya-upaya menanggapinya
secara lebih baik.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Dari
pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa perkembangan emosi menjadi salah satu
peranan penting dalam pendidikan, karena setiap proses perkembangan tersebut
memicu karakteristik peserta didik dalam mengembangkan emosi dan perilaku yang
baik. Serta dapat menerima pelajaran dengan baik. Dalam proses mengenali dan memehami
perkembangan peserta didik salah satunya yaitu dengan memahami proses emosional
peserta didik.
Semua
manusia pada umumnya memiliki dorongan dan minat yang besar untuk mencapai atau
ingin memiliki sesuatu. Adanya perilaku seseorang dan munculnya berbagai
kebutuhan seseorang disebabkan oleh dorongan dan minat yang besar. Jika
terpenuhi, itulah dasar dari pengalaman emosionalnya.
DAFTAR PUSTAKA
Hartinah,
Sitti. 2008. Pengembangan Peserta Didik.
Bandung: PT Refika Aditama.
Sunarto. 1995. Perkembangan Peserta Didik.
Jakarta:Rineka Cipta.
Komentar
Posting Komentar