MAKALAH PERKEMBANGAN INTELEKTUAL
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kita ucapkan kepada
ALLAH SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunian-Nya kepada kelompok kami
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul Perkembangan Intelek
pada Peserta Didik. Makalah ini kami susun untuk memenuhi tugas mata kuliah
pengenalan peserta didik. Selain itu makalah juga dapat kita gunakan untuk
menambah wawasan pengetahuan kita tentang perkembangan emosi peserta didik.
Namun kami menyadari makalah
ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini
kedepannya.
Malang, 8 Februari 2017
Penyusun
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR …………………………………………………………………… 2
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………... 3
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ………………………………………………… …………….. 4
1.2 Rumusan Masalah
…………………………………………………………….. 4
1.3 Tujuan
………………………………………………………………………… 5
BAB II PEMBAHASAN
2.1
Defisini Intelektual menurut beberapa ahli…………………………………. 6
2.2 Hubungan Intelek dengan Tingkah laku …………………………………… 7
2.3 Tahapan Perkembangan
Intelek / Kognitif …………………………………. 8
2.4
Karakteristik Perkembangan Intelek Remaja ………………………………. 9
2.5 Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan intelektual
…………….... 10
2.6
Perbedaan Individual dalam Perkembangan Intelek / Kognitif …………….. 11
2.7
Usaha dalam membantu Mengembangkan Intelek Remaja Dalam Proses
Pembelajaran
………………………………………………………………... 12
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan …………………………………………………………………… 15
3.2 Saran
…………………………………………………………………………... 15
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Intelektual atau sering banyak
digunakan dengan sebutan kecerdasan, merupakan suatu karunia yang dimiliki
individu untuk mengembangkan dan mempertahankan hidupnya, serta bagaimana ia
berusaha menghambakan dirinya kepada PenciptaNya.
Ketika baru lahir seorang anak sudah mempunyai kecerdasan, hanya
sangat bergantung pada orang lain untuk memenuhi perkembangan hidupnya. Dalam
perkembangannya anak makin meningkatkan berbagai kemampuan untuk mengurangi
ketergantungan dirinya pada orang lain dan berusaha untuk dapat memenuhi
kebutuhannya sendiri.
Perkembangan intelek sering
juga dikenal di dunia psikologi maupun pendidikan dengan istilah perkembangan
kognitif. Perkembangan kognitif manusia merupakan proses psikologis yang
didalamnya melibatkan proses memperoleh, menyusun dan mengunakan pengetahuan
serta kegiatan mental seperti berfikir, menimbang, mengamati, mengingat,
menganalisis, mensintesis, mengevaluasi dan memecahkan persolan yang
berlangsung melalui interaksi dengan lingkungan.
Kecerdasan (Intelektual)
individu berkembang sejalan dengan interaksi antara aspek perkembangan yang
satu dengan aspek perkembangan yang lainnya dan antara individu yang satu
dengan individu yang lainnya begitu juga dengan alamnya. Maka dengan itu
individu mempunyai kemampuan untuk belajar dan meningkatkan potensi kecerdasan
yang dimiliki.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian
intelektual menurut beberapa ahli?
2. Apakah hubungan intelek dengan tingkah
laku?
3. Tahapan Perkembangan Intelek / Kognitif
4. Bagaimana karakteristik perkembangan
intelek pada remaja?
5. Apa saja faktor-faktor yang
mempengaruhi perkembangan intelektual?
6. Bagaimana perbedaan individual dalam
perkembangan intelek?
7. Apa saja usaha-usaha
dalam membantu mengembangkan intelek remaja dalam proses
pembelajaran?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui apa sebenarnya yang dimaksud dengan intelegensi dan
hubungan intelegensi
dengan tingkah laku.
2. Mengetahui tahapan perkembangan intelek dan karakteristik
perkembangan intelegensi.
3. Mengetahui fakto-faktor yang mempengaruhi perkembagan
intelegensi dan perbedaan
individu dalam
perkembangan intelektual serta usah-usaha dalam membantu
mengembangkan
intelektual.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Intelektual
Menurut English & English
dalam istilah intellect berarti antara lain :
(1) Kekuatan mental di mana manusia
dapat berpikir
(2) Suatu rumpun nama untuk proses
kognitif, terutama untuk aktivitas yang berkenaan dengan berpikir (misalnya
menghubungkan, menimbang, dan memahami)
(3) Kecakapan, terutama kecakapan
yang tinggi untuk berpikir.
Menurut kamus Webster Newworld
Dictionary of the American Language istilah intellect berarti :
1)
Kecakapan untuk berpikir, mengamati atau mengerti, kecakapan untuk mengamati hubungan-hubungan,
perbedaan-perbedaan, dan sebagainya. Dengan dmikian, kecakapan berbeda dengan
kemauan dan perasaan.
2)
Kecakapan yang besar, sangat intelligence, dan
3)
Pikiran atau inteligensi.
Singgih Gunarsa dalam bukunya
Psikologi Remaja, ia mengajukan beberapa rumus intelegensi sebagai berikut :
1) Intelegensi merupakan suatu
kumpulan kemampuan seseorang yang memungkinkan memperoleh ilmu pengetahuan dan
mengamalkan ilmu tersebut dalam
hubungannya dengan lingkungan dan masalah-masalah yang timbul.
2) Intelegensi adalah suatu bentuk
tingkah laku tertentu yang tampil dalam kelancaran tingkah laku.
3) Intelegensi meliputi
pengalaman-pengalaman dan kemampuan bertambahnya
pengertian dan tingkah laku dengan pola-pola baru dan mempergunakannya secara efektif.
4) Willian Stern mengemukakan
bahwa integensi merupakan suatu kemampuan
untuk menyesuaikan diri pada tuntutan baru dibantu dengan penggunaan fungsi berpikir.
5) Binet berpendapat bahwa
intelegensi merupakan kemampuan yang diperleh
melalui keturunan, kemampuan yang diwarisi dan dimiliki sejak lahir dan tidak banyak dipengaruhi oleh
lingkungan. Dalam batas- batas tertentu lingkungan turut berperan dalam
pembentukan kemampuan intelegensi.
2.2 Hubungan Antara Intelek dan
Tingkah Laku
Kemampuan berpikir abstrak
menunjukkan perhatian seseorang kepada kejadian dan peristiwa yang tidak
konkret seperti misalnya pilihan pekerjaan, corak hidup bermasyarakat, pilihan
pasangan hidup yang sebenarnya masih jauh kedepannya, dan lain-lain. Bagi
remaja, corak perilaku pribadirinya dihari depan dan corak tingkah lakunya
sekarang akan berbeda. Kemampuan abstraksi akan berperan dalam perkembangan
kepribadiannya.
Pikiran remaja sering
dipengaruhi oleh ide-ide dan teori-teori yang menyebabkan sikap kritis terhadap
situasi dan orang tua. Setiap pendapat orang tua dibandingkan dengan teori yang
dlikuti atau diharapkan. Sikap kritis ini juga ditunjukkan. dalam hal-hal yang
sudah umum baginya pada masa sebelumnya, sehingga tatacara dan adatistiadat
yang beilaku di lingkungan keluarga sering terasa terjadi/ada pertentangan
dengan sikap kritis yang tampak pada perilakuhya.
Kemampuan abstraksi
mempermasalahkan kenyataan;dan peristiwa-peristiwa dengan keadaan bagaimana
yang semestinya menurut alam pikirannya. Situasi ini (yang diakibatkan
kemampuan abstraksi) akhirnya dapat menimbulkan perasaan tidak puas dan putus
asa.
Di samping itu pengaruh
egosentris masih terlihat pada pikirannya.
1)
Cita-cita dan idealisme yang baik, terlalu menitikberatkan pikiran
sendiri tanpa memikirkan akibat lebih jauh dari tanpa memperhitungkan kesulitan
praktis yang murigikan menyebabkan tidak berhasilhya menyelesaikan persoalan.
2)
Kemampuan berpikir dengan pendapat sendiri, belum disertai
pendapat orang lain dalam penilaiannya. Masih sulit membedakan pokok perhatian
orang lain dari pada tujuan perhatian diri sendiri. Pandangan dan penilaian
diri sendiri dianggap sama dengan pandangan orang lain mengenai dirinya.
Egosentrisme inilah yang
menyebabkan "kekakuan" para remaja dalam cara berpikir maupun
bertingkah laku. Persoalan yang timbul pada masa remaja adalah banyak bertalian
dengan perkembangan fisik yang dirasakan mencekam dirinya, karena disangkanya
orang lain sepikiran dan ikut tidak puas mengenai penampilan dirinya. Hal ini
menimbulkan perasaan "seperti" selalu diamati orang lain, perasaan
malu dan membatasi gerak-geriknya. Akibat dari hal ini akan terlihat pada
tingkah laku yang kaku.
Melalui banyak pengalaman dan
penghayatan kenyataan serta dalam menghadapi pendapat Orang lain, maka
egosentrisme makin berkurang. Pada akhimya, pengaruh egosentrisitas pada remaja
sudah sedemikian kecilnya, sehingga berarti remaja sudah dapat berpikir abstrak
dengan mengikutsertakan pendapat dan pandangan orang lain.
2.3 Tahapan Perkembangan
Intelek / Kognitif
Adapun tahap-tahap perkembangan
menurut Piaget ialah kematangan, pengalaman fisik atau lingkungan, transmisi
sosial, dan equilibrium atau self regulation. Selanjutnya Piaget membagi
tingkat perkembangan sebagai tahap:
(1) sensori motor
(2) berpikir praoperasional
(3) berpikir operasional konkret
(4) berpikir operasional formal
1. Tahap Sensorik-Motorik
Selama tahap sensorik-motorik
(0-2 tahun), bayi mulai menampilkan perilaku reflektif, dengan melibatkan
perilaku yang inteligen. Pada usia 2 tahun, anak secara mental telah dapat
mengenali objek dan kegiatan, dan dapat menerima solusi masalah
sensorik-motorik. Pada usia 2 tahun perkembangan afektif sudah mulai dapat
dilihat, anak sudah mulai dapat membedakan suka dan tidak suka. Hal tersebut
akan berpengaruh terhadap diri anak. Perkembangan kognitif dari tahap
sensorik-motorik pada anak-anak akan terlihat pada upayanya untuk melakukan
gerakan tertentu di antara lingkungan sekitarnya. Pada mulanya gerakan seorang
bayi dilakukan secara spontan.
2. Tahap
Berpikir Praoperasional
Selama tahap praoperasional
(2-7 tahun), perilaku intelektual bergerak dari tingkat sensorik-motorik menuju
ke tingkat konseptual. Pada tahap ini terjadi perkembangan yang cepat dari
keterampilan representasional termasuk di dalamnya kemampuan berbahasa, yang
menyertai perkembangan konseptual secara cepat dari proses ini.
Pada usia 7 tahun, mereka sudah
mulai dapat berpikir pralogis atau semi-logis. Konflik yang terjadi antara
persepsi dan pemikiran secara umum dipecahkan kembali di dalam persepsi.
Perkembangan bahasa dan representasi akan menunjang perkembangan berikutnya
dari perilaku sosial. Perasaan moral dan pemikiran moral akan tampak (muncul).
Anak-anak mulai berpikir tentang peraturan dan hukum, tetapi mereka belum
mengembangkan konsep tersebut secara intensional.
3. Tahap Berpikir Operasional Konkret
Tahap operasional konkret anak
(7-11 tahun) berkembang dengan menggunakan berpikir logis. Anak-anak dapat
memecahkan masalah konservasi dan masalah yang konkret. Anak-anak dapat
berpikir secara logis, tetapi belum mampu menerapkan secara logis masalah
hipotetik dan abstrak. Perkembangan afektif utama selama tahap operasional konkret
adalah konservasi perasaan. Perkembangan tersebut merupakan instrumental dalam
meningkatkan regulasi dan stabilitas berpikir efektif. Selama tahap operasional
konkret perhatian anak mengarah kepada operasi logis yang sangat cepat. Tahap
ini tidak lama dan didominasi oleh persepsi dan anak dapat memecahkan masalah
dan mampu bertahan dengan pengalamannya.
4. Tahap Berpikir Operasional Formal
Selama tahap operasi formal
(11-15 tahun), struktur kognitif menjadi matang secara kualitas, anak mulai
dapat menerapkan operasi secara 'konkret untuk semua masalah yang dihadapi di
dalam kelas.
2.4 Karakteristik Perkembangan
Intelek Remaja
Pada awal masa remaja,
kira-kira pada umur 12 tahun, anak berada pada masa yang disebut "masa
operasi formial" (berpikir abstrak). Pada masa ini remaja telah berfikir
dengan mempertimbangkan hal yang "mungkin" di samping hal yang nyata
(real) Pada usia remaja ini anak sudah dapat berpikir abstrak dan hipotek.
Dalam berpikir operasional formal setidak-tidaknya mempunyai dua sifat yang
penting, yaitu:
a) Sifat Deduktif Hipotesis
Dalam menyelesaikan suatu masalah, seorang remaja akan
mengaawalinya dengan pemikiran teoretik. la menganalisis masalah dan mengajukan
cara-cara penyelesaian hipotesis yang mungkin.
b) Berpikir Operasional juga Berpikir Kombinatoris
Dengan terpikir operasional formal memungkinkan orang untuk
mempunyai tingkah laku problem solving yang betul-betul ilmiah, serta
memungkinkan untuk mengadakan pengujian hipotesis dengan variabel-variabel
tergantung yang mungkin ada. Berpikir abstrak atau formal operation ini
merupakan cara berpikir yang bertalian dengan hal-hal yang tidak dilihat dan
kejadian-kejadian yang tidak langsung dihayati.
2.5 Faktor-faktor yang
mempengaruhi perkembangan intelek
Menurut Andi Mappiare hal-hal
yang mempengaruhi perkembangan intelek itu antara lain :
1)
Bertambahnya informasi yang disimpan (dalam otak) seseorang
sehingga ia mampu berpikir reflektif.
2)
Banyaknya pengalaman dan latihan-latihan memecahkan masalah
sehingga seseorang dapat berpikir proporsional.
3)
Adanya kebebasan berpikir, menimbulkan keberahian seseorang dalam
menyusun hipotesis-hipotesis yang radikal, kebebasan menjajaki masalah secara
keseluruhan, dan menunjang keberanian anak jajaki masalah secara keseluruhan
dan menunjang keberanian anak memecahkan masalah dan menarik kesimpulan yang
baru dan benar.
Adapun faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi intelegensi adalah sebagai berikut :
1. Faktor Hereditas
Semenjak dalam kandungan,anak telah memiliki sifat-sifat yang
menentukan daya kerja intelektualnya. Secara potensial anak telah membawa
kemungkinan, apakah akan menjadi kemampuan berfikir setaraf normal, di atas
normal, atau dibawah normal. Namun, potensi ini tidak berkembang atau terwujud
secara optimal apabila lingkungan tidak member kesempatan untuk berkembang.
Oleh karena itu, peranan lingkungan sangat menentukan perkembangan intelektual
anak.
2. Faktor Lingkungan
Ada dua unsur lingkungan yang sangat penting perannya dalam
memengaruhi perkembangan intelek anak, yaitu keluarga dan sekolah.
a) Keluarga
Intervensi yang paling penting dilakukan oleh keluarga atau orang
tua adalah memberikan pengalaman kepada anak dalam berbagai bidang kehidupan
sehingga anak memiliki informasi yang banyak yang merupakan alat bagi anak
untuk berfikir. Cara-cara yang digunakan, misalanya memberi kesempatan kepada
anak untuk merealisasikan ide-idenya, menghargai ide-ide tersebut, memuaskan
dorongan keingintahuan anak dengan jalan seperti menyediakan bacaan, alat-alat
keterampilan, dan alat-alat yang dapat mengembangkan daya kreativitas anak.
Member kesempata atau pengalaman tersebut akan menuntut perhatian orang tua.
b) Sekolah
Sekolah adalah lembaga formal yang diberi tanggung jawab untuk
meningkatkan perkembangan anak termasuk perkembangan berfikir anak. Dalam hal
ini, guru hendaknya menyadari bahwa perkembangan intelektual anak terletak di
tangannya.
3. Kematangan
Tiap organ tubuh dapat dikatakan telah matang jika ia telah
mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya masing-masing. Kematangan
berhubungan erat dengan umur.
4. Pembentukan
Pembentukan adalah segala keadaan di luar diri seseorang yang
mempengaruhi perkembangan intelegensi.
5. Minat dan pembawaan yang khas
Minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan
dorongan bagi perrbuatan itu. Dari manipulasi dan eksplorasi yang dilakukan
terhadap dunia luar , lama kelamaan timbullah minat terhadap sesuatu.
6. Kebebasan
Kebebasan berarti bahwa manusia itu dapat memilih metode-metode
yang tertentu dalam memecahkan masalah-masalah.
2.6 Perbedaan Individual dalam
Perkembangan Intelek / Kognitif
Seperti diketahui, manusia itu
berbeda satu sama lain dalam berbagai hal, juga tentang inteligensinya.
Inteligensi itu sendiri oleh David Wechler (1958) dalam Sunarto (1995:110)
didefinisikan sebagai “ Keseluruhan kemampuan individu untuk berfikir dan
bertindak secara terarah serta mengolah dan menguasai lingkungan secara
efektif.”
Berdasarkan nilai IQ atau
kecerdasan manusia dapat dikategorikan menjadi 6 kelompok, yaitu:
1) Dibawah 70, anak mengalami
kelainan mental
2) 71-85, anak dibawah normal
(bodoh)
3) 86-115, anak yang normal
4) 116-130, anak diatas normal
(pandai)
5) 131-145, anak yang superior
(cerdas)
6) 145 ke atas anak jenius
(istimewa)
Menurut Piaget, inteligensi
mempunyai beberapa sifat:
1) Intelegensi adalah interaksi aktif
dengan lingkungannya
2) Inteligensi meliputi struktur
organisasi perbutan dan pikiran, dan inteligensi yang bersangkutan antara
individu dan lingkungannya.
3) Struktur tersebut dalam
perkembanganya mengalami perubahan kualitatif.
4) Dengan bertambahnya usia,
penyesuaian diri lebih mudah karena proses keseimbangan yang bertambah luas.
5) Perubahan kualitatif pada
inteligensi timbul pada masa yang mengikuti suatu rangkaian tertentu.
Sebagai kesimpulan dari
berbagai pendekatan/teori psikologi yang telah dikemukakan, menunjukkan bahwa
inteligensi itu bersifat individual, artinya antara satu dengan yang lainnya
tidak sama kualitas IQ-nya.
2.7 Usaha-Usaha dalam Membantu Mengembangkan
Intelek Remaja dalam
Proses Pembelajaran
Menurut Piaget sebagian besar
anak usia remaja mampu memahami konsep-konsep abstrak dalam batas-batas
tertentu. Menutut Bruner, siswa pada usia ini belajar menggunakan bentuk-bentuk
simboldengan cara yang makin canggih. Guru dapat membantu mereka melakukan hal
ini dengan selalu menggunakan pendekatan keterampilan proses (discovery
approach) dan dengan memberi penekanan pada penguasaan konsep-konsep dan
abstraksi-abstraksi.
Pada usia ini remaja mendekati
efisiensi intelektual yang maksimal, tetapi kurangnya pengalaman membatasi
kemampuan mereka dan kecakapannya untuk memanfaatkan apa yang diketahui. Karena
banyak hal yang dapat dipelajari melalui pengalaman, para siswa mungkin
mengalami kesulitan dalam memahami konsep-konsep yang abstrak dan mungkin tidak
mampu memahami sepenuhnya emosi yang dilukiskan dalam novel-novel, drama-drama,
dan puisi-puisi. Karena itu pada tingkatan ini diperlukan motode diskusi dan
informasi untuk menetukan kedalaman pengertian siswa. Apabila guru dihadapkan
pada perbedaan-perbedaan interpretasi tentang konsep-konsep yang abstrak, guru
hendaknya menjelaskan konsep-konsep tersebut ddengan sabar, simpatik, dan
dengan hati terbuka; bukan dengan jalan marah-marah atau tidak bisa menerima
kesalahan siswa-siswa.
Ikhtiar pendidikan, khususnya
melalui proses pembelajaran, guru mengembangkan kemampuan intelektual peserta
didik adalah kesadaran pendidik terhadap kemampuan intelektual setiap peserta
didik harus dipupuk dan dikembangkan agar potensi yang dimiliki setiap individu
terwujud sesuai dengan perbedaan masing-masing. Menurut Conny Semiawan (1984),
penciptaan kondisi lingkungan yang kondusif bagi pengembangan kemampuan
intelektual anak yang di dalamnya menyangkut keamanan psikologis dan kebebasan
psikologis merupakan faktor yang sangat penting.
Kondisi psikologis yang perlu
diciptakan agar peserta didik merasa aman secara psikologis sehingga mampu
mengembangkan kemampuan intelektualnya adalah sebagai berikut :
1) Pendidik menerima peserta didik
secara positif sebagaimana adanya tanpa syarat (unconditional positive regard).
Artinya, apapun keberadaan peserta didik dengan segala kekuatan dan
kelemahannya harus diterima dengan baik, serta memberi kepercayaan padanya
bahwa pada dasarnya setiap peserta didik memiliki kemampuan intelektual yang
dikembangkan secara maksimal.
2) Pendidik menciptakan suasana
dimana peserta didik tidak merasa terlalu dinilai oleh orang lain. Memberi
penilaian terhadap peserta didik dengan berlebihan dapat dirasakan sebagai
ancaman sehingga menimbulkan kebutuhan pertahanan diri.
3) Pendidik memberikan pengertian
dalam arti dapat memahami pemikiran, perasaan dan perilaku peserta didik, dapat
menempatkan diri dalam situasi peserta didik, serta melihat sesuatu dari sudut
pandang mereka (empathy). Dalam suasana seperti ini, peserta didik akan merasa
aman untuk mengembangkan dan mengemukakan pemikiran atau ide-idenya.
4) Menerima remaja secara positif
sebagaimana adanya tanpa syarat (unconditional positive regard). Artinya,
apapun adanya remaja itu dengan segala kekuatan dan kelemahannya harus diterima
dengan baik, serta memberi kepercayaan bahwa pada dasarnya setiap remaja
memiliki kemampuan intelektual yang dapat dikembangkan secara maksimal.
5) Memahami pemikiran, perasaan
dan perilaku remaja, menempatkan diri dalam situasi remaja, serta melihat
sesuatu dari sudut pandang mereka (empathy). Dalam suasana seperti ini remaja
akan merasa aman untuk mengembangkan dan mengemukakan pemikiran atau
ide-idenya.
6) Memberikan suasanan psikologis
yang aman bagi remaja untuk mengemukakan pikiran-pikirannya sehingga terbiasa
berani mengembangkan pemikirannya sendiri. Disini berusaha menciptakan
keterbukaan (opennes), kehangatan (warmness), dan kekonkretan (concereteness).
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dalam penyusunan makalah
mengenai “Perkembangan Intelek” ini, kami dapat menarik kesimpulan bahwa
ikhtiar pendidikan, khususnya melalui proses pembelajaran, guna mengembangkan
kemampuan intelektual setiap peserta didik harus di pupuk dan dikembangkan agar
potensi yang dimiliki setiap individu terwujud sesuai dengan perbedaan
masing-masing.
3.2 Saran
Sebaiknya, untuk mengetahui
tingkat perkembangan intelek seseorang harus dilakukan berdasarkan
tahap-tahapnya, sesuai dengan perkembangan umur mereka. Walaupun intelegensi
tersebut merupakan bawaan sejak lahir atau yang dikenal dengan faktor
hereditas, namun faktor lingkungan juga sangat berpengaruh dalam perkembangan
intelek seseorang. Untuk itu, agar perkembangan intelek berkembang dengan baik
maka harus diperhatikan faktor-faktor tersebut.
DAFTAR
PUSTAKA
Agung, B.Hartono, Sunarto. 1995. Perkembangan
Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta.
Djaali. 2006. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bumi
Aksara.
http://azizahamdi.blogspot.com/2012/05/perkembangan-intelektual-anak.html
Komentar
Posting Komentar