MAKALAH TEORI MOTIVASI DALAM PEMBELAJARAN
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ................................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN
............................................................................................... 3
1.1 Latar belakang
...................................................................................................... 3
1.2 Rumusan Masalah
................................................................................................
4
1.3 Tujuan penulisan ..................................................................................................
4
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................ 5
2.1 Teori Belajar Konstruktivistik ..............................................................................
5
2.2 Aspek-aspek pembelajaran Konstruktivistik .......................................................... 7
2.3 Proses Belajar menurut Teori Konstruktivisme ...................................................
8
2.4 Prinsip-prinsip Dasar dalam Pengembangan
Pembelajaran Konstruktivisme ..... 9
2.5 Kelebihan dan Kekurangan Teori Belajar Konstruktivistik
................................. 10
BAB III PENUTUP ........................................................................................................ 12
3.1 Kesimpulan
........................................................................................................... 12
3.2 Saran ..................................................................................................................... 12
Daftar pustaka
................................................................................................................ 13
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Setiap manusia yang hidup, memiliki alasan tertentu untuk melakukan suatu
kegiatan. Baik kegitan tersebut termasuk dalam kodrat manusia atau keinginan
manusia. Jadi, setiap kegiatan manusia ada alasannya. Termasuk salah satu
kegiatan manusia, dan kodrat manusia untuk belajar. Setiap manusia dalam
belajar memiliki alasannya masing-masing. Baik itu yang dirasa disukai atau
tidak. Alasan serta rasa kemauan untuk belajar inilah yang dimaksud motivasi
belajar.
Saat kita sudah dewasa
sekarang sering kita lihat banyak anak-anak yang mengalami kemunduran dan kesulitan
dalam belajar. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor internal dan eksternal.
Salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi proses belajar adalah kurangnya
motivasi. Motivasi merupakan satu penggerak dari dalam hati seseorang untuk
melakukan atau mencapai sesuatu tujuan. Motivasi belajar siswa merupakan hal
yang amat penting bagi pencapaian kinerja atau prestasi belajar siswa. Motivasi
juga merupakan kekuatan yang mendorong dan mengarahkan keberhasilan prilaku
yang tetap ke arah tujuan tertentu. Motivasi bisa berasal dari dalam diri
seseorang atau pun dari luar dirinya. Motivasi yang berasal dari dalam diri
sesorang disebut motivasi instrinsik, dan yang berasal dari luar adalah
motivasi ekstrinsik. Motivasi mempunyai peranan yang strategis dalam aktivitas
belajar seseorang. Tidak ada seorang pun yang belajar tanpa motivasi. Tidak ada
motivasi berarti tidak ada kegiatan belajar.
Agar peranan motivasi lebih optimal, maka prinsip-prinsip motivasi dalam
belajar tidak hanya diketahui, tetapi juga harus diterangkan dalam aktivitas
belajar mengajar. Oleh karena itu, dalam materi matakuliah Teori Pembelajaran ini, penulis akan membahas tentang motivasi dan macam-macam
teori motivasi dalam makalah “Teori Motivasi
dalam Pembelajaran”.
1.2 Rumusan
Masalah
Makalah ini
memiliki rumusan masalah antara lain.
1)
Apakah pengertian motivasi?
2)
Apa tujuan dan fungsi motivasi dalam pembelajaran?
3)
Sebutkan apa saja teori-teori motivasi dari berbagai
ahli?
4)
Bagimana pemilihan dan penerapan teori motivasi dalam
pembelajaran?
1.3 Tujuan
Tujuan dari
makalah ini diantaranya sebagai berikut:
1)
Untuk mendeskripsikan pengertian
motivasi.
2)
Untuk mendeskripsikan tujuan dan
fungsi motivasi dalam pembelajaran
3)
Untuk mendeskripsikan apa saja teori-teori
motivasi dari berbagai ahli
4) Untuk
mendeskripsikan pemilihan
dan penerapan teori motivasi dalam pembelajaran.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Motivasi Belajar
Motivasi dapat menjadi masalah yang penting dalam
pendidikan jika dikaitkan dengan aktivitas seseorang dalam kehidupan
sehari-hari. Sedangkan motivasi bagi siswa dapat mengembangkan aktivitas dan
inisiatif serta mengarahkan siswa untuk tekun dalam kegiatan belajar. Namun
masih terdapat banyak siswa yang kurang termotivasi terhadap pelajaran baik
aktivitas praktek maupun teori untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Bahan pelajaran yang dapat meningkatkan motivasi
siswa adalah yang mudah dipelajari dan disimpan dalam ingatan karena motivasi
menambah semangat kegiatan belajar. Motivasi belajar merupakan salah satu aspek
psikis yang dapat membantu dan mendorong seseorang untuk mencapai tujuannya.
Maka keberadaan motivasi harus ada dalam diri seseorang karena motivasi
merupakan modal dasar untuk mencapai tujuan serta motivasi harus menjadi
pangkal permulaan dari semua aktivitas.
Kata motivasi berasal dari bahasa Latin yaitu movere, yang berarti bergerak (move).
Motivasi menjelaskan apa yang membuat orang melakukan sesuatu, membuat mereka
tetap melakukannya, dan membantu mereka dalam menyelesaikan tugas-tugas. Hal
ini berarti bahwa konsep motivasi digunakan untuk menjelaskan keinginan
berperilaku, arah perilaku (pilihan), intensitas perilaku (usaha,
berkelanjutan), dan penyelesaian atau prestasi yang sesungguhnya (Pintrich, 2003).
Menurut Santrock, motivasi adalah proses yang
memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku. Artinya, perilaku yang memiliki
motivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah, dan bertahan lama
(Santrock, 2007). Dalam kegiatan belajar, maka motivasi dapat dikatakan sebagai
keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan
belajjar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan memberikan arah
pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu
dapat tercapai (Sardiman, 2000).
Uno (2009:3) menyimpulkan motivasi merupakan
dorongan yang terdapat dalam diri seseorang untuk berusaha mengadakan perubahan
tingkah laku yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhannya. Sagala (2007)
mengemukakan bahwa motivasi dapat dipahami sebagai suatu variabel penyelang
yang digunakan untuk menimbulkan faktor-faktor tertentu di dalam organisme,
yang membangkitkan, mengelola, mempertahankan, dan menyalurkan tingkah laku
menuju suatu sasaran. Berdasarkan pendapat Uno dan Sagala, maka dapat dikatakan
motivasi adalah dorongan yang terjadi dalam diri seseorang yang dapat
membangkitkan, mengelola, mempertahankan dan menyalurkan tingkah laku agar
tujuannya dapat tercapai.
2.2 Tujuan
dan Fungsi Motivasi dalam Pembelajaran
Menurut Ngalim Purwanto (2006), tujuan motivasi
adalah untuk menggerakan atau menggugah seseorang agar timbul keinginan dan
kemauannya untuk melakukan sesuatu sehingga dapat memperolah hasil atau tujuan
tertentu. Karena itu seorang guru pendidikan jasmani harus dapat menggerakan
atau memacu para siswanya agar timbul keinginan dan kemauannya untuk
meningkatkan prestasi belajarnya sehingga tercapai tujuan pendidikan sesuai
dengan yang diharapkan dan diterapkan dalam kurikulum sekolah.
Dalam setiap pembelajaran tercapainya tujuan
pembelajaran merupakan suatu yang penting karena tercapainya tujuan
pembelajaran menjadi tolak ukur keberhasilan siswa dalam mengikuti
pembelajaran. Menurut Achmad Sugandi dan
Haryanto (2005: 22) tujuan pembelajaran yaitu suatu tuntunan agar subjek
belajar setelah mengikuti proses pembelajaran menguasai sejumlah pengetahuan,
keterampilan dan sikap sesuai isi pembelajaran tersebut.
Motivasi sebagai proses memiliki beberapa fungsi
khususnya dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Fungsi tersebut menurut Hamalik
(2008) meliputi:
1) Mendorong
timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan.
2) Motivasi
berfungsi sebagai pengarah.
3) Motivasi
berfungsi sebagai penggerak.
2.3
Teori-Teori Motivasi
Menurut
Prayitno (1989), Teori motivasi menurut para ahli dibagi menjadi 3 yaitu: (1)
teori kebutuhan tentang motivasi, (2)
teori humanistik, dan (3) teori behavioristik. Penjelasan secara detail sebagai berikut:
1)
Teori kebutuhan
Teori ini
mengatakan bahwa manusia sebagai mahluk yang tidak akan puas hanya dengan terpenuhi
satu kebutuhan, tetapi ia akan puas jika semua kebutuhan terpenuhi. Walaupun
semua kebutuhan sudah terpenuhi pasti ia akan mengejar kebutuhan yang baru.
Agar kebutuhan tersebut terpenuhi, maka ia akan termotivasi untuk mencapai
kebutuhan yang diinginkan. Sehingga membuat ia puas, tetapi kepuasan itu hanya
untuk sementara waktu saja. Demikian seterusnya, sampai terpuaskannya kebutuhan
yang paling tinggi.
2)
Teori Humanistik
Teori ini
percaya bahwa hanya ada satu motivasi, yaitu motivasi yang hanya berasal dari
masing-masing individu. Motivasi tersebut dimiliki oleh individu itu sepanjang
waktu dan dimana pun ia berada. Yang penting lagi menurut teori ini adalah
menghormati atau menghargai seorang sebagai manusia yang mempunyai potensi dan
keinginan untuk belajar.
3) Teori Behavioristik
Teori ini
berpendapat bahwa motivasi dikontrol oleh lingkungan. Suatu tingkah laku yang
bermotivasi terjadi apabila konsekuensi tingkah laku itu dapat menggetarkan
emosi individu, yaitu menjadi suka atau tidak suka. Apabila konsekuensi tingkah
laku menimbulkan rasa suka, maka tingkah laku menjadi kuat, tetapi jika tingkah
laku itu menimbulkan rasa tidak suka, maka tingkah laku itu akan ditinggalkan.
Sedangkan pendapat Handoko
(1992) ada 6 teori motivasi yaitu :
1) Teori kognitif
Menurut
teori ini tingkah laku tidak digerakkan oleh apa
yang disebut motivasi, melainkan
oleh rasio. Setiap perbuatan yang akan dilakukannya sudah dipikirkan
alasan-alasannya. Berdasarkan rasionalnya manusia bebas memilih
dan menentukan apa yang akan dia perbuat, entah baik ataupun buruk. Tingkah laku manusia
semata-mata ditentukan oleh
kemampuan berpikirnya. Makin inteligen dan berpendidikan, otomatis seseorang akan semakin
baik
perbuatan-perbuatanya dan secara
sadar pula melakukan perbuatan-perbuatan untuk memenuhi atau kebutuhan
tersebut.
2) Teori
Hedonistis
Teori ini
mengatakan bahwa segala perbuatan manusia, entah itu disadari ataupun tidak
disadari, entah itu timbul dari kekuatan luar ataupun kekuatan dalam pada
dasarnya mempunyai tujuan yang satu, yaitu mencari hal-hal yang menyenangkan
dan menghindari hal-hal yang menyakitkan.
3) Teori Insting
Teori ini
mengatakan kekuatan biologis adalah kekuatan yang dibawa sejak lahir. Kekuatan
biologis inilah yang membuat seseorang bertindak menurut cara tertentu,
demikianlah dasar pemikiran teori ini. Kekuatan insting inilah yang seolah-olah
memaksa seseorang untuk berbuat dengan cara tertentu, untuk mengadakan
pendekatan kepada rangsang dengan cara tertentu.
4) Teori Psikoanalitis
Sebenarnya
teori ini merupakan pengembangan teori insting. Dalam teori ini pun diakui
adanya kekuatan bawaan di dalam diri setiap manusia, dan kekuatan bawaan inilah
yang menyebabkan dan mengarahkan tingkah laku manusia.
5) Teori Keseimbangan
Teori ini
berpendapat bahwa tingkah laku manusia terjadi karena adanya ketidakseimbangan
di dalam diri manusia. Dengan kata lain, manusia selalu ingin mempertahankan
adanya keseimbangan di dalam dirinya.
6) Teori Dorongan
Pada
prinsipnya teori ini tidak berbeda dengan teori keseimbangan, hanya penekanannya
berbeda. Kalau teori keseimbangan menekankan adanya keadaan tidak seimbang yang
menimbulkan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi, teori dorongan memberikan
tekanan pada hal yang mendorong terjadinya tingkah laku.
Melalui
penjelasan tentang teori-teori di atas, dapat disimpulkan bahwa setiap perilaku
dan aktivitas manusia disebabkan oleh dorongan, kemauan, kekuatan,
ketidakseimbangannya di dalam diri manusia itu kemudian gagasan yang timbul
dipraktekkan dalam bentuk aktivitas sesuai dengan kemauan dari diri individu.
Semua itu pada hakekatnya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mendapat
suatu kepuasan.
2.3 Teori Motivasi Menurut Beberapa Ahli
Sedangkan
beberapa teori motivasi menurut beberapa ahli, yaitu sebagai berikut :
1) Teori Hirarki
Kebutuhan (Abraham H. Maslow)
Teori
hirarki kebutuhan (dalam Robbins, 1996) adalah suatu hirarki lima kebutuhan dan
dengan tiap kebutuhan secara berurutan dipenuhi, kebutuhan berikutnya menjadi
dominan. Menurut Maslow (dalam Robbins, 1996), kelima kebutuhan itu adalah
sebagai berikut:
(1) Faali
(fisiologis) : antara lain rasa lapar, haus,
perlindungan (pakaian dan perumahan), seks, dan kebutuhan ragawi lain.
(2) Keamanan
dan keselamatan (safety and security) : antara lain keselamatan dan
perlindungan terhadap kerugian fisik dan emosional. Seperti perlindungan dari
bahaya, ancaman dan perampasan ataupun pemecatan dari pekerjaan.
(3) Sosial
: mencakup kasih sayang, rasa dimiliki, diterima baik, dan persahabatan.
(4) Penghargaan
: mencakup rasa hormat internal seperti harga diri, otonomi, dan prestasi; dan
faktor hormat eksternal seperti misalnya status, pengakuan, dan perhatian.
(5) Aktualisasi-diri
: kebutuhan pemenuhan diri, untuk mempergunakan potensi diri, pengembangan diri
semaksimal mungkin, kreativitas, ekspresi diri dan melakukan apa yang paling
cocok serta menyelesaikan pekerjaannya sendiri.
Maslow
(dalam Robbins, 1996) memisahkan kelima kebutuhan itu sebagai order-tinggi dan
order-rendah. Kebutuhan order-rendah adalah kebutuhan- kebutuhan yang dipenuhi
secara eksternal; kebutuhan faali dan akan keamanan. Kebutuhan order-tinggi
adalah kebutuhan yang dipenuhi secara internal; kebutuhan sosial, akan
penghargaan dan aktualisasi diri. Dengan kata lain, teori Maslow mengatakan
bahwa kebutuhan yang tidak terpuaskan akan memotivasi, atau bahwa suatu
kebutuhan yang terpuaskan akan mengaktifkan gerakan kesuatu tingkat kebutuhan
yang baru.
2) Teori Kebutuhan
Berprestasi (Mc Clelland)
Teori ini menjelaskan bahwa dalam diri manusia ada dua motivasi, yakni
motif primer atau motif yang yang tidak dipelajari, dan motif skunder atau
motif yang dipelajari melalui pengalaman serta interaksi dengan orang lain.
Motif ini sering disebut dengan motif sosial. Motif primer atau motif yang
tidak dipelajari ini secara alamiah timbul pada setiap manusia secara biologis,
sehingga mendorong seseorang untuk terpenuhinya kebutuhan biologis seperti
makan, minum, seksualitas dan kebutuhan-kebutuhan biologis yang lain. Motif
skunder adalah motif yang ditimbulkan karena dorongan dari luar akibat
interaksi sosial. Motif sosial ini dapat dibedakan menjadi 3 motif yaitu:
(1)
Motif Berprestasi
Berprestasi adalah suatu dorongan yang ada pada setiap manusia untuk
mencapai hasil kegiatannya atau hasil kerjanya secara maksimal. Dalam
memperoleh hasil yang lebih baik realitanya tidak mudah dan banyak kendala,
oleh sebab itu perlu dorongan untuk berusaha mengatasi kendala tersebut dengan
memelihara semangat
belajar yang tinggi, sehingga motif berprestasi adalah dorongan untuk sukses
dalam situasi kompetisi yang didasarkan kepada ukuran keunggulan dibanding
dengan standar ataupun orang lain.
(2)
Motif Berafiliasi
Motif berafiliasi adalah kebutuhan atau dorongan manusia untuk menjadi
bermakna interaksinya dengan manusia yang lain (sosial). Agar kebutuhan
berafiliasi ini terpenuhi, maka harus menjaga hubungan baik dengan orang lain.
(3)
Motif Berkuasa
Motif berkuasa adalah dorongan manusia untuk berusaha mengarahkan
perilaku seseorang atau manusia lain untuk mencapai kepuasan melalui tujuan
tertentu, seperti kekuasaan dengan cara mengontrol atau mengawasi orang lain.
3) Teori ERG (Clyton Alderfer)
Menurut teori ERG dari Clayton Alderfer ini ada 3 (tiga) kebutuhan
pokok manusia yaitu : (a). Existence (eksistensi) ; Kebutuhan akan
pemberian persyaratan keberadaan
materiil dasar kita (kebutuhan psikologis dan keamanan). b).Relatednes (keterhubungan) ; Hasrat yang
kita miliki untuk memelihara hubungan antar pribadi (kebutuhan sosial dan
penghargaan). c).Growth
(pertumbuhan); Hasrat kebutuhan instrik untuk perkembangan pribad i (kebutuhan
aktualisasi diri).
Alderfer
menyatakan bahwa : Pertama, apabila
kebutuhan akan eksistensi tidak terpenuhi, pengaruhnya mungkin kuat, namun
kategori-kategori kebutuhan lainnya mungkin masih penting dalam mengarahkan
perilaku untuk mencapai tujuan. Kedua,
meskipun suatu kebutuhan terpenenuhi, kebutuhan dapat berlangsung terus sebagai
pengaruh kuat dalam keputusan. Jadi secara umum
mekanisme kebutuhan antara lain Frustration – Regression dan Satisfaction – Progression.
4) Teori Dua Faktor
(Teori Herzberg)
Teori motivasi ini
dikenal dengan teori motivasi ‘dua faktor’ (Herzberg’s two factors
motivation theory). Jadi menurut teori ini, ada dua faktor yang
mempengaruhi seseorang dalam tugas atau pekerjaannnya, antara lain:
(1) Faktor-faktor
penyebab kepuasaan (Satisfierr) atau faktor motivasional. Faktor ini
menyangkut kebutuhan psikologis seseorang seperti serangkaian kondisi
intrinsik. Apabila kepuasaan belajar tercapai, maka akan menggerakkan tingkat
motivasi atau kepuasan ini antara lain; prestasi (achievement),
penghargaan (recognition), tanggung jawab (responsibility),
kesempatan untuk maju (possibility of growth), dan pekerjaan itu sendiri
(work).
(2) Faktor-faktor
penyebab ketidakpuasan (dissastifaction) atau hygiene factor.
Faktor ini menyangkut kebutuhan akan pemeliharaan atau maintenance factor yang
merupakan hakikat manusia yang ingin memperoleh kesehatan badaniyah. Hilangnya
faktor-faktor ini akan menimbulkan ketidakpuasan bekerja (dissatisfaction).
Faktor higienes ini meliputi kondisi fisik lingkungan (physical environment),
hubungan interpersonal (interpersonal relationship) kebijakan dan
administrasi (policy and administration), dan pengawasan (supervision),
reward, dan keamanan.
5) Teori Keadilan (Equity Theory)
Menurut
Nursalam (2008), teori keadilan didasarkan pada asumsi bahwa faktor utama dalam
motivasi pekaryaan adalah evaluasi individu atau keadilan dari penghargaan yang
diterima. Individu akan termotivasi jika hal mereka dapatkan seimbang dengan
usaha yang mereka kerjakan diharapkan.
Teori
motivasi ini didasarkan pada asumsi bahwa pegawai akan termotivasi untuk
meningkatkan produktivitas kerjanya, apabila ia diperlakukan secara adil dalam
pekerjaannya. “Keadilan adalah suatu keadilan yang muncul dalam pikiran
seseorang jika ia merasa bahwa rasio antara usaha dan imbalan adalah seimbang
dengan rasio seseorang yang dibandingkan” Davis (2004).
Ketidakadilan
akan ditanggapi dengan bermacam-macam perilaku yang menyimpang dari aktivitas
pencapaian tujuan seperti menurunkan prestasi, mogok, malas dan sebagainya.
Inti dari teori ini adalah pegawai membandingkan usaha mereka terhadap imbalan
yang diterima pegawai lainnya dalam situasi kerja yang relatif sama. Selain itu
juga membandingkan imbalan dengan pengorbanan yang diberikan. Apabila mereka
telah mendapatkan keadilan dalam bekerja, maka mereka termotivasi untuk meningkatkan
produktivitas kerjanya.
Berdasarkan
pembahasan tentang berbagai teori motivasi dan kebutuhankebutuhan yang
mendorong manusia melakukan tingkah laku dan pekerjaan, maka dapat disimpulkan
bahwa motivasi petugas pemasyarakatan adalah keseluruhan daya penggerak atau
tenaga pendorong baik yang berasal dari dalam maupun dari luar diri yang
menimbulkan adanya keinginan untuk melakukan suatu kegiatan atau aktivitas
dalam menjalankan tugas sebagai petugas pemasyarakatan untuk mencapai tujuan.
Untuk
memahami motivasi petugas pemasyarakatan dalam penelitian ini digunakan teori
motivasi dua arah yang dikemukakan Herzberg. Adapun pertimbangan peneliti
karena teori yang dikembangkan Herzberg berlaku mikro yaitu untuk karyawan atau
pegawai pemerintahan yang hubungannya antara kebutuhan dengan performa
pekerjaan.
6) Teori Penetapan
Tujuan (Goal Setting
Theory)
Edwin Locke (Sudrajat, 2008) mengemukakan bahwa dalam penetapan
tujuan memiliki empat macam mekanisme motivasional yakni :
(a)
Tujuan-tujuan
mengarahkan perhatian;
(b)
Tujuan-tujuan
mengatur upaya;
(c)
Tujuan-tujuan
meningkatkan persistensi; dan
(d)
Tujuan-tujuan
menunjang strategi-strategi dan rencana-rencana kegiatan.
Teori ini juga mengungkapkan hal hal sebagai berikut :
v
Kuat lemahnya tingkah laku manusia ditentukan oleh sifat tujuan
yang hendak dicapai.
v Kecenderungan manusia untuk berjuang lebih keras mencapai suatu
tujuan, apabila tujuan itu jelas, dipahami dan bermanfaat.
v Makin kabur atau makin sulit dipahami suatu tujuan, akan makin
besar keengganan untuk bertingkah laku.
7) Teori Harapan (Victor H. Vrom)
Pencetus pertama dari teori dari harapan ini adalah
Victor H. Vroom dan merupakan teori
motivasi kerja yang relatif baru. Teori ini berpendapat bahwa orang-orang atau
petugas akan termotivasi untuk bekerja atau melakukan hal-hal tertentu jika
mereka yakin bahwa dari prestasinya itu mereka akan mendapatkan imbalan besar.
Seseorang mungkin melihat jika bekerja dengan giat kemungkinan adanya suatu
imbalan, misalnya kenaikan gaji, kenaikan pangkat dan inilah yang menjadi perangsang
seseorang dalam bekerja giat.
Victor
Vroom (1964) mengembangkan sebuah teori motivasi berdasarkan kebutuhan
infernal, tiga asumsi pokok Vroom dari teorinya adalah sebagai berikut:
(1)
Setiap
individu percaya bahwa bila ia berprilaku dengan cara tertentu, ia akan
memperoleh hal tertentu. Ini disebut sebuah harapan hasil (outcome
expectancy) sebagai penilaian subjektif seseorang atas kemungkinan bahwa
suatu hasil tertentu akan muncul dari tindakan orang tersebut.
(2)
Setiap
hasil mempunyai nilai, atau daya tarik bagi orang tertentu. Ini disebut valensi
(valence) sebagai nilai yang orang berikan kepada suatu hasil yang
diharapkan.
(3) Setiap
hasil berkaitan dengan suatu persepsi mengenai seberapa sulit mencapai hasil
tersebut. Ini disebut harapan usaha (effort expectancy) sebagai
kemungkinan bahwa usaha seseorang akan menghasilkan pencapaian suatu tujuan
tertentu.
Motivasi
dijelaskan dengan mengkombinasikan ketiga prinsip ini. Orang akan termotivasi
bila ia percaya bahwa :
(1)
Suatu
perilaku tertentu akan menghasilkan hasil tertentu
(2)
Hasil
tersebut punya nilai positif baginya
(3) Hasil
tersebut dapat dicapai dengan usaha yang dilakukan seseorang
Dengan kata lain
Motivasi, dalam teori harapan adalah keputusan untuk mencurahkan usaha.
8)
Teori Penguatan
dan Modifikasi Perilaku
Ahli psikologi Skinner (Nursalam: 2008), menjelaskan
bagaimana konsekuensi tingkah laku dimasa lampau akan mempengaruhi tindakan
dimasa depan dalam proses belajar silkis. Dalam pandangan ini, tingkah laku
sekarela seseorang terhadap suatu situasi atau peristiwa merupakan penyebab
dari konsekuensi tertentu. Teori penguatan menyangkut ingatan orang mengenai
pengalaman rangsangan atau respon konsekuensi. Menurut teori penguatan,
seseorang akan termotivasi jika dia memberikan respon pada rangsangan pada pola
tingkah laku yang konsisten sepanjang waktu.
Teori ini berasumsi bahwa prilaku pegawai dapat
dibentuk dan diarahkan kearah aktivitas pencapaian tujuan. Teori pembentukan
perilaku sering disebut dengan istilah-istilah lain seperti : behavioral
modification, positive reinforcement dan skinerian conditioning.
Pendekatan pembentukan perilaku ini didasarkan atas hukum pengaruh (law of
effect) yaitu perilaku yang diikuti konsekuensi pemuasan sering diulang
sedangkan perilaku konsekuensi hukuman tidak diulang. Perlaku pegawai dimasa
yang akan datang dapat diperkirakan dan dipelajari, berdasarkan pengalaman
dimasa lalu. Menurut teori pembetukan perilaku, perilaku pegawai dipengaruhi
kejadiankejadian atau situasi masa lalu. Apabila konsekuensi perilaku tersebut
positif, maka pegawai akan memberikan tanggapan yang sama terhadap situasi
lama, tetapi apabila konsekuensi itu tidak menyenangkan, maka pegawai cendrung
mengubah perilakuya untuk menghindar dari konsekuensi tersebut.
9) Teori Kaitan
Imbalan dengan Prestasi
Bertitik tolak dari pandangan bahwa tidak ada satu
model motivasi yang sempurna, dalam arti masing-masing mempunyai kelebihan dan
kekurangan, para ilmuwan terus menerus berusaha mencari dan menemukan sistem
motivasi yang terbaik, dalam arti menggabung berbagai kelebihan model-model
tersebut menjadi satu model. Tampaknya terdapat kesepakan di kalangan para
pakar bahwa model tersebut ialah apa yang tercakup dalam teori yang mengaitkan
imbalan dengan prestasi seseorang individu. Menurut model ini, motivasi seorang
individu sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang bersifat internal
maupun eksternal.
2.4
Pemilihan dan Penerapan Teori Motivasi dalam
Pembelajaran
Dari
berbagai teori motivasi yang berkembang, Keller (1983) telah menyusun
seperangkat prinsip–prinsip motivasi yang dapat diterapkan dalam proses
pembelajaran, yang disebut sebagai model ARCS. Guru sering berasumsi bahwa
motivasi belajar siswa merupakan masalah siswa itu sendiri dan siswalah yang
bertanggungjawab untuk mengusahakan agar mempunyai motivasi yang tinggi. Namun
sebenarnya guru dapat berusaha untuk menetapkan prinsip-prinsip motivasi dalam
proses dan cara mengajar, untuk merangsang, meningkatkan dan memelihara
motivasi siswa dalam belajar. ARCS model dapat membantu guru untuk melakukan
hal tersebut.
Ada empat
kategori kondisi motivasional yang harus diperhatikan oleh guru dalam usaha
menghasilkan perkuliahan yang menarik, bermakna dan memberikan tantangan bagi
siswa (Suciati, 2003). Keempat kondisi motivasional tersebut dijelaskan sebagai
berikut :
1) Perhatian (Attention)
Perhatian
siswa muncul didorong rasa ingin tahu. Oleh sebab itu rasa ingin tahu ini perlu
mendapat rangsangan, sehingga siswa akan memberikan perhatian, dan perhatian
tersebut terpelihara selama pembelajaran, bahkan lebih lama lagi. Strategi
untuk merangsang minat dan perhatian siswa :
(1) Gunakan metode penyampaian
pembelajaran yang bervariasi (ceramah, kelompok diskusi, bermain peran,
simulasi, curah pendapat, demonstrasi, studi kasus dan lain–lain).
(2) Gunakan media (multimedia
interaktif, power point, film, video, dan sebagainya) untuk melengkapi
penyampaian perkuliahan.
(3) Bila dirasa tepat gunakan humor
dalam presentasi pembelajaran.
(4) Gunakan peristiwa nyata, anekdot dan
contoh–contoh untuk memperjelas konsep.
(5) Gunakan teknik bertanya untuk
melibatkan siswa.
2) Relevansi (Relevance)
Relevansi
menunjukan adanya hubungan materi perkuliahan dengan kebutuhan dan kondisi
siswa. Motivasi siswa akan terpelihara apabila mereka menganggap apa yang
dipelajari memenuhi kebutuhan pribadi, atau bermanfaat atau sesuai dengan nilai
yang dipegang. Kebutuhan pribadi (basic needs) dikelompokan ke dalam 3
kategori yaitu motif pribadi, motif instrumental dan motif kultural. Yang
pertama, nilai motif pribadi (personal motive value) mencakup tiga hal,
yaitu :
§ Kebutuhan untuk berprestasi (needs for achievment),
§ Kebutuhan untuk memiliki kuasa (needs for power),
dan
§ Kebutuhan untuk berafilisasi (needs for affiliation).
Yang kedua
adalah nilai yang bersifat instrumental, di mana keberhasilan dalam mengerjakan
suatu tugas dianggap sebagai langkah untuk mencapai keberhasilan lebih lanjut. Ketiga,
nilai kultural, apabila tujuan yang ingin dicapai konsisten atau sesuai dengan
nilai yang dipegang oleh kelompok yang diacu siswa, seperti orang tua, teman,
dsb.
3) Kepercayaan diri (Confidence),dan
Merasa
diri kompeten atau mampu,merupakan potensi untuk dapat berinteraksi secara
positif dengan lingkungan. Konsep tersebut berhubungan dengan keyakinan pribadi
bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk melakukan suatu tugas yang menjadi
syarat keberhasilan. Strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan
kepercayaan diri :
(1) Meningkatkan harapan siswa untuk
berhasil dengan memperbanyak pengalaman berhasil siswa, misalnya dengan
mendesain pembelajaran agar dengan mudah dipahami, diurutkan dari materi yang
mudah ke yang sukar.
(2) Organisasikan pembelajaran ke dalam
bagian–bagian yang lebih kecil, sehingga siswa tidak dituntut untuk mempelajari
terlalu banyak konsep baru sekaligus
(3) Meningkatkan harapan untuk berhasil
dengan menggunakan menyatakan persyaratan untuk berhasil.
(4) Tumbuh kembangkan kepercayaan diri
siswa dengan mengatakan ”Sepertinya kamu telah memahami konsep ini dengan
baik”, serta menyebut kelemahan siswa sebagai ”hal -hal yang masih perlu
dikembangkan.”
(5) Berikan umpan balik yang konstruktif
selama pembelajaran agar siswa mengetahui tingkat pemahaman dan prestasi
belajar mereka sejauh ini.
Gambar
ilustrasi siswa yang siap belajar dan siswa yang tidak termotivasi belajar
(Sumber : google.com)
4) Kepuasan (Satisfaction)
Keberhasilan
dalam mencapai suatu tujuan akan menghasilkan kepuasan, dan siswa akan
termotivasi untuk terus berusaha mencapai tujuan yang serupa. Peran guru sangat
penting dalam menumbuhkan kepuasan belajar siswa. Untuk meningkatkan dan memelihara
motivasi siswa guru dapat menggunakan pemberian penguatan (reinforcement)
barupa pujian, pemberian kesempatan, dan sebagainya. Strategi untuk
meningkatakan kepuasan :
(1) Gunakan pujian secara verbal dan
umpan balik yang informatif, bukan ancaman atau sejenisnya.
(2) Berikan kesempatan kepada siswa
untuk segera menggunakan atau mempraktikkan pengetahuan yang baru dipelajari
(3) Minta kepada siswa yang telah
menguasai suatu keterampilan atau pengetahuan untuk membantu teman–temannya
yang belum berhasil.
(4) Bandingkan prestasi siswa dengan
prestasinya sendiri di masa lalu atau dengan suatu standar tertentu, bukan
dengan siswa lain.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1)
Motivasi adalah dorongan yang terjadi
dalam diri seseorang yang dapat membangkitkan, mengelola, mempertahankan dan
menyalurkan tingkah laku agar tujuannya dapat tercapai.
2)
Tujuan pembelajaran yaitu suatu tuntunan
agar subjek belajar setelah mengikuti proses pembelajaran menguasai sejumlah
pengetahuan, keterampilan dan sikap sesuai isi pembelajaran tersebut. Motivasi
sebagai proses memiliki beberapa fungsi khususnya dalam pencapaian tujuan
pembelajaran. Fungsi motivasi meliputi mendorong timbulnya kelakuan atau suatu
perbuatan, motivasi berfungsi sebagai pengarah, dan motivasi berfungsi sebagai
penggerak.
3)
Ada 3 teori motivasi, yaitu kebutuhan motivasi, humanistik,
behavioristik. Ada 6 teori motivasi,
yaitu kognitif, hedonistis, insting, psikoanalitis, kesimbangan, dorongan. Berdasarkan
9 ahli teori motivasi yaitu (1) teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan); (2)
Teori McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi); (3) teori Clyton Alderfer
(Teori ERG); (4) teori Herzberg (Teori Dua Faktor); (5) teori Keadilan; (6)
Teori penetapan tujuan; (7) Teori Victor H. Vroom (teori Harapan); (8) teori
Penguatan dan Modifikasi Perilaku; dan (9) teori Kaitan Imbalan dengan
Prestasi.
4)
Pemilihan dan penerapan teori
motivasi dalam pembelajaran dengan model ARCS (Attention, Relevance, Confidence,
Satisfaction).
3.2
Saran
1) Bagi
mahasiswa
Sebagai calon pendidik perlu untuk
mengetahui dan memperdalam pemahaman mengenai berbagai teori motivasi, dan
mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi.
2) Bagi
masyarakat
Untuk mengetahu dan memahami lanjut
mengenai teori motivasi, diharapkan untuk membaca literatur lain.
DAFTAR RUJUKAN
Achmad
Sugandi dan Haryanto. 2005. Teori
Pembelajaran. Semarang: Universitas Negeri Semarang Press.
Akhmad
Sudrajat. 2008. Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik dan Model
Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Davis,
Keith,dan Newstorm. 1996. Perilaku Dalam
Organisasi. Edisi Tujuh. Jakarta: Erlangga.
Hamalik,
Oemar. 2008. Kurikulum dan Pembelajaran.
Jakarta: Bumi Aksara
Handoko,
Martin. 1992. Motivasi Daya
Penggerak Tingkah Laku. Jakarta: Rineka Cipta
Keller, John. 1983. Teori Belajar
dan Motivasi.
(Online) (http://www.arcsmodel.com) Diakses 27 Oktober 2014
(Online) (http://www.arcsmodel.com) Diakses 27 Oktober 2014
Nursalam.
2008. Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Edisi
2. Jakarta : Penerbit Salemba Medika
Pintrich,
Paul R. 2003. Motivation and Classroom
Learning. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.
Prayitno,
Elida. 1989. Motivasi dalam Belajar.
Jakarta: Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Pendidikan Dirjen
Pendidikan Tinggi. Depdikbud
Purwanto,
M. Ngalim. 2006. Psikologi Pendidikan.
Bandung : PT Remaja Roesdakarya
Sagala,
Syaiful. 2007. Manajemen Strategi dalam
Peningkatan Mutu Pendidikan, Edisi Revisi. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Santrock,
John W (2007). Psikologi Pendidikan Edisi
Kedua. Jakarta: Prenada Media Group.
Sardiman,
A.M (2000). Interaksi & Motivasi
Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Stephen P.
Robbins, 1996. Perilaku Organisasi,
Konsep, Kontroversi dan Aplikasi.
Alih Bahasa : Hadyana Pujaatmaka. Edisi Keenam. Jakarta: Penerbit
PT.Bhuana Ilmu Populer.
Suciati, 2003. Teori Belajar dan Motivasi. Jakarta :
penerbit PAU Dikti Depdiknas
Uno,
B. Hamzah. 2009. Model Pembelajaran
Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi
Aksara.
Victor H.
Vroom. 1964. Work and Motivation (New
York : John Wiley & Son, Inc., 1964), dikutip tidak langsung oleh Malayu
S.P. Hasibuan, 2007. Organisasi dan
Motivasi. Jakarta: Bumi Aksara.
Komentar
Posting Komentar