MAKALAH TOKOH-TOKOH NASIONAL INDONESIA



KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya kepada kami, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah mata kuliah pengantar kurikulum tentang “Pemikiran Ki Hajar Dewantara, K.H. Ahmad Dahlan, Dan K.H. Hasyim Asy’ari Tentang Pendidikan Di Indonesia” ini hingga selesai.
Saya juga mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya kepada semua pihak yang telah mendukung dan membantu membuat makalah ini. Saya menyadari bahwa dalam laporan ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu saya mengharap kritik dan saran dari semua pihak dan sekaligus pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita, khususnya untuk Fakultas Ilmu Pendidikan Jurusan Teknologi Pendidikan.


                                                                             Malang, 28 Maret 2017


                                                                                    Penyusun














BAB I

PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang Masalah

Pendidikan. Tentunya kita sudah tidak asing lagi mendengarnya, karena dalam kehidupan sehari-hari, bahkan seluruh kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dengan pendidikan. Dunia pendidikan tidak akan pernah habis untuk dibicarakan.

Pada jaman kemajuan teknologi sekarang ini, sebagian besar manusia dipengaruhi perilakunya oleh pesatnya perkembangan dan kecanggihan teknologi (teknologi informasi). Banyak orang terbuai dengan teknologi yang canggih, sehingga melupakan aspek-aspek lain dalam kehidupannya, seperti pentingnya membangun relasi dengan orang lain, perlunya melakukan aktivitas sosial di dalam masyarakat, pentingnya menghargai sesama lebih daripada apa yang berhasil dibuatnya, dan lain-lain.
Seringkali teknologi yang dibuat manusia untuk membantu manusia tidak lagi dikuasai oleh manusia tetapi sebaliknya manusia yang terkuasai oleh kemajuan teknologi. Manusia tidak lagi bebas menumbuhkembangkan dirinya menjadi manusia seutuhnya dengan segala aspeknya. Keberadaan manusia pada zaman ini seringkali diukur dari “to have” (apa saja materi yang dimilikinya) dan “to do” (apa saja yang telah berhasil/tidak berhasil dilakukannya) daripada keberadaan pribadi yang bersangkutan (“to be” atau “being”nya). Dalam pendidikan perlu ditanamkan sejak dini bahwa keberadaan seorang pribadi, jauh lebih penting dan tentu tidak persis sama dengan apa yang menjadi miliknya dan apa yang telah dilakukannya. Sebab manusia tidak sekedar pemilik kekayaan dan juga menjalankan suatu fungsi tertentu. Pendidikan yang humanis menekankan pentingnya pelestarian eksistensi manusia, dalam arti membantu manusia lebih manusiawi, lebih berbudaya, sebagai manusia yang utuh berkembang (menurut Ki Hajar Dewantara menyangkut daya cipta (kognitif), daya rasa (afektif), dan daya karsa (konatif)). Singkatnya, “educate the head, the heart, and the hand !”
Di tengah-tengah maraknya globalisasi komunikasi dan teknologi, manusia makin bersikap individualis. Mereka “gandrung teknologi”, asyik dan terpesona dengan penemuan-penemuan/barang-barang baru dalam bidang iptek yang serba canggih, sehingga cenderung melupakan kesejahteraan dirinya sendiri sebagai pribadi manusia dan semakin melupakan aspek sosialitas dirinya. Oleh karena itu, pendidikan dan pembelajaran hendaknya diperbaiki sehingga memberi keseimbangan pada aspek individualitas ke aspek sosialitas atau kehidupan kebersamaan sebagai masyarakat manusia. Pendidikan dan pembelajaran hendaknya juga dikembalikan kepada aspek-aspek kemanusiaan yang perlu ditumbuhkembangkan pada diri peserta didik.

Dalam Undang-Undang Sistem pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 pasal 1 butir 1, pendididan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003 pasal 1 dinyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi
peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian, dan akhlak mulia. Sebenarnya, amanat Undang-Undang Sistem pendidikan nasional bertujuan membentuk insan Indonesia yang cerdas dan berkepribadian atau berkarakter sehingga melahirkan generasi bangsa yang tumbuh dan berkembang dengan karakter yang bernapaskan nilai-nilai luhur bangsa dan agama.


Menurut Ki Hajar Dewantara tujuan pendidikan adalah “penguasaan diri” sebab di sinilah pendidikan memanusiawikan manusia (humanisasi). Penguasaan diri merupakan langkah yang harus dituju untuk tercapainya pendidikan yang mamanusiawikan manusia. Ketika setiap peserta didik mampu menguasai dirinya, mereka akan mampu juga menentukan sikapnya. Dengan demikian akan tumbuh sikap yang mandiri dan dewasa. Ki Hajar Dewantara menyatahkan bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, dan jasmani anak agar selaras dengan alam dan masyarakatnya.2


Upaya untuk mewujudkan peradaban bangsa melalui pendidikan karakter, budaya dan moral, tentulah sosok Ki Hadjar Dewantara menjadi rujukan utama. Dalam konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara ada 2 hal yang harus dibedakan yaitu sistem “Pengajaran” dan “Pendidikan” yang harus bersinergis satu sama lain. Pengajaran bersifat memerdekakan manusia dari aspek hidup lahiriah (kemiskinan dan kebodohan). Sedangkan pendidikan lebih memerdekakan manusia dari aspek hidup batin (otonomi berpikir dan mengambil keputusan, martabat, mentalitas demokratik).

Pendidikan Indoensia perlu dikembalikan pada filosofi pendidikan yang digagas Ki Hadjar Dewantara. Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan yang bersifat nasionalistik, naturalistik, dan spiritualistik. Pendidikan itu idealnya memanusiakan manusia. Kalau bisa konsisten menerapkan pendidikan yang nasionalistik, naturalistik, dan spiritualistik yang holistik, tidak sepotong-sepotong pasti bisa menghasilkan manusia Indonesia yang berkarakter Pancasila

Adapun tokoh-tokoh pendidikan lainnya yaitu K.H. Ahmad Dahlan, ia merasa prihatin terhadap perilaku masyarakat Islam di Indonesia yang masih mencampur-baurkan adat-istiadat yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran umat islam, inilah yang menjadi latar belakang pemikiran K.H. ahmad Dahlan untuk melakukan pembaruan, yang juga melatar belakangi lahirnya Muhammadiyah. Selain faktor lain diantaranya, yaitu pengaruh pemikiran pembaruan dari para gurunya di Timur Tengah.[6]
 Hampir seluruh pemikiran K.H. Ahmad Dahlan berangkat dari keprihatinannya terhadap situasi dan kondisi global umat Islam waktu itu yang tenggelam dalam kejumudan (stagnasi), kebodohan, serta keterbelakangan. Kondisi ini semakin diperparah dengan politik kolonial belanda yang sangat merugikan bangsa Indonesia.[7]
Menurut K.H. Ahmad Dahlan, upaya strategis untuk menyelamatkan umat Islam dari pola berpikir yang statis menuju pada pemikiran yang dinamis adalah melalui pendidikan. Memang, Muhammadiyah sejak tahun 1912 telah menggarap dunia pendidikan, namun perumusan mengenai tujuan pendidikan yang spesifik baru disusun pada 1936. Pada mulanya tujuan pendidikan ini tampak dari ucapan K.H. Ahmad Dahlan: “ Dadiji kjai sing kemajorean, adja kesel anggonu njambut gawe kanggo Muhammadiyah”( Jadilah manusia yang maju, jangan pernah lelah dalam bekerja untuk Muhammadiyah).
Kemudian tokoh selanjutnya yaitu K.H. Hasyim Asy’ari, Pembahasan terhadap masalah pendidikan lebih beliau tekankan pada masalah etika dalam pendidikan, meski tidak menafikan beberapa aspek pendidikan lainnya.  Beliau sangat menganjurkan agar seorang pendidik atau guru perlu memiliki kemampuan dalam mengembangkan metode dan memberi motivasi serta latihan-latihan yang bersifat membantu murid-muridnya memahami pelajaran. Selain itu, guru juga harus memahami murid-muridnya secara psikologi, mampu memahami muridnya secara individual dan memecahkan persoalan yang dihadapi murid, mengarahkan murid pada minat yang lebih dicendrungi, serta guru harus bersikap arif.
Jelas pada saat Hasyim Asy’ari melontarkan pemikiran ini, ilmu pendidikan maupun ilmu psikologi pendidikan yang sekarang beredar dan dikaji secara luas belum tersebar, apalagi di kalangan pesantren. Sehingga ke-genuin-an pemikiran beliau patut untuk dikembangkan selaras dengan kemajuan dunia pendidikan.
Ketiga tokoh diatas pemikirannya sering kali mengilhami dan bahkan diadopsi oleh tokoh-tokoh pendidikan lainnya. Oleh karena itu, penulis menganggap urgen untuk membahas konsep pendidikan karakter kedua tokoh tersebut. Dalam sebuah makalah) dengan judul : Pemikiran Ki Hajar Dewantara, K.H. Ahmad Dahlan, dan K.H. Hasyim Asy’ari Tentang Pendidikan Di Indonesia.








B.       Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat dimunculkan rumusan masalah atau fokus dalam kajian ini sebagai berikut:
1.     Bagaimana pemikiran Ki Hajar Dewantara terhadap pendidikan di indonesia?
2.     Bagaimana pemikiran K.H. Ahmad dahlan terhadap pendidikan di indonesia?
3.     Bagaimana pemikiran K.H Hasyim Asy’ari terhadap pendidikan di indonesia?

C.       Tujuan
Berpijak    pada     rumusan masalah di atas, maka dapat dimunculkan tujuan kajian dalam kajian ini sebagai berikut:
a.     Untuk mendiskripsikan tentang pemikiran Ki Hajar Dewantara terhadap pendidikan di indonesia.
b.     Untuk mendiskripsikan tentang pemikiran K.H. Ahmad dahlan terhadap pendidikan di indonesia.
c.     Untuk mendiskripsikan tentang pemikiran K.H Hasyim Asy’ari terhadap pendidikan di indonesia.

D.      Ruang Lingkup Permasalahan
Sesuai dengan judul yang penulis teliti dan untuk menjaga kemungkinan adanya kekaburan pemahaman terhadap judul ini, maka perlu kiranya penulis kemukakan ruang lingkup untuk membantu dan mempermudah memahaminya. Adapun ruang lingkup pembahasannya adalah Pemikiran tentang Pendidikan yang meliputi pengertian dan konsep pendidikan dalam Pemikiran Ki Hajar Dewantara, K.H. Ahmad Dahlan, dan K.H. Hasyim Asy’ari.


BAB II

PEMBAHASAN

A.       Pemikiran Pendidikan Ki Hadjar Dewantara 
1.        Konsep Pendidikan Indonesia Menurut Ki Hadjar Dewantara 
Prinsip-prinsip dasar proses pembelajaran menurut Ki Hadjar Dewantoro bahwa dalam proses pembelajaran seorang pendidik hendaknya bisa:
a.     ING NGARSA SUNG TULADHA yang artinya: di depan, seseorang harus bisa memberi teladan atau contoh.
Dalam pengertian ini, bahwa proses pembelajaran contoh atau teladan menjadi kata kunci kesuksessan dalam pembelajaran. Pembelajaran di sekolah senantiasa terjadi proses imitasi atau proses peniruan dari contoh atau teladan, sehingga ketika pembelajaran berlangsung seorang pendidik harus menstrasfer pengetahuan tentang sesuatu yang dipelajari siswa dengan benar dan tepat. Selain itu siswa tidak hanya mempelajari mengenai pengetahuan saja melainkan belajar dengan lingkungannya seperti belajar mengenai pribadi pendidiknya. Oleh karena itu pendidik selain menguasai pengetahuan dia juga harus mempunyai pribadi yang dapat dicontoh.
b.      ING MADYA MANGUN KARSA yang artinya: ditengah – tengah atau diantara seseorang bisa menciptakan prakarsa dan ide.
Pada pengertian itu, seseorang dapat menciptakan prakarsa atau ide diantara orang lain). Dalam proses pembelajaran di sekolah, berarti seorang guru harus dapat menciptakan prakarsa dan ide para siswanya ketika mereka dalam proses pembelajaran. Sehingga kata kunci kesuksesan dalam pembelajaran adalah pendidik bisa membangkitkan minat dan semangat belajar siswa , disini guru dituntut menjadi penggali minat dan pemompa semangat belajar anak .
Sehingga setiap anak mampu berfikir kritis dan belajar mandiri (Cara Belajar Siswa Aktif). Jadi guru sebetulnya tidak perlu banyak mengajar justru lebih perlu menggagas tentang beragam bintang prestasi yang perlu setiap siswa gapai.
c.     TUT WURI HANDAYANI yang artinya: dari belakang seorang pendidik harus bisa memberikan dorongan dan arahan.
Pada pengertian itu seseorang harus dapat mendorong orang yang dalam tangungjawabnya untuk mencapai tujuan secara berkelanjutan dalam pekerjaannya. Dalam proses pembelajaran, guru harus memberi dorongan kepada siswanya untuk selalu belajar dengan tuntas dan maju berkelanjutan. Sehingga kata kunci sukses dalam pembelajaran adalah belajar tuntas dan berkelanjutan.

Konsep Pembelajaran Ki Hadjar Dewantoro:
1.         Dalam belajar menerapkan teori TRIKON yaitu: Kontinyu, Konvergen dan Konsentris. Teori ini telah dipraktekkan sejak menuntut ilmu di Belanda. Ilmu pendidikan barat disaringnya dan yang bermanfaat dipakainya tetapi tetap berpijak pada akar budaya tanah air sehingga konsep tentang Pendidikan Nasional adalah Pendidikan yang berakar ke dalam budaya nusantara.
2.         Konsepsi Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantoro bertujuan:
a.         memanusiakan manusia dalam rangka memerdekakan manusia dalam lingkaran perbudakan
b.        membentuk pribadi yang mandiri dengan 3 indikator:
1)      mampu berdiri sendiri,
2)      tidak bergantung pada orang lain,
3)      dapat mengatur dirinya sendiri

3.         Konsep isi pendidikan secara umum harus relavan dengan garis hidup untuk mencerdaskan rakyat dan mengangkat martabat bangsa dalam rangka membangun kerja sama saling menguntungkan dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
Untuk memperkuat dinamika pendidikan sebagai penguatan kebangsaan,maka konsep pengembangan pendidikan harus senafas nilai-nilai budaya yang berkembang di masyarakat serta melibatkan unsur masyarakat dalam pengelolaanya , karena out put atau keluaran yang dihasilkanyapun harus menjadi pioner kebudayaan dan peradaban bangsa yang lebih besar.


Sebagai transformasi budaya bahwa :
a.         Desain kurikulum dan bangunan pengembangan pendidikan tidak dapat dipisahkan dari nafas kebudayaan yang terlahir.
b.        Produk pendidikan itupun harus mampu mengemban misi kebudayaan menuju peradaban yang lebih maju dari generasi sebelumnya
c.         Produk pendidikan harus diarahkan mewujudkan kesejahteraan dan mengangkat derajad seseorang, Negara dan bangsa.

Hadirnya Ki Hadjar Dewantoro dengan Taman siswanya sebagai reaksi ketidakpuasan atas pelaksanaan proses pembelajaran di sekolah-sekolah yang menitikberatkan pada pendekatan perintah, sangsi dan ketertiban semata dimana konten kurikulumnya disatroni kaum imperialisme dengan muatan politis maka Ki Hajar Dewantoro memandang misi pendidikan tersebut tidak sesuai dan tidak senafas dengan nilai budaya masyarakat budaya timur, maka Taman siswa dengan pendekatan: Momong, Among dan Ngemong dengan sistem pendidikan yang senafas dengan nilai budaya lokal yang mengfungsikan pendidik tidak lagi sebagai komandan dengan tradisi bentak- membentak tetapi mengembalikan peran guru sebagai insan yang lembut untuk membimbing dan memimpin anak didik dalam pengembangan bakat dan potensi dirinya serta menemukan karakteristiknya.

Pendidikan Tamansiswa berciri khas Pancadarma, yaitu Kodrat Alam (memperhatikan sunatullah), Kebudayaan (menerapkan teori Trikon), Kemerdekaan (memperhatikan potensi dan minat maing-masing individu dan kelompok), Kebangsaan (berorientasi pada keutuhan bangsa dengan berbagai ragam suku), dan Kemanusiaan (menjunjung harkat dan martabat setiap orang). Dengan konsep tersebut diharapkan bisa membangun anak didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, merdeka lahir batin, luhur akal budinya, cerdas dan berketerampilan, serta sehat jasmani dan rohaninya untuk menjadi anggota masyarakat yang mandiri dan bertanggung jawab atas kesejahteraan bangsa, tanah air, serta manusia pada umumnya. Meskipun dengan susunan kalimat yang berbeda namun tujuan pendidikan Tamansiswa ini sejalan dengan tujuan pendidikan nasional.
Konsep Konstruktivisme:
Teori belajar konstruktivisme adalah sebuah teori belajar yang menekankan pada proses pembentukan pengetahuan pada anak didik seperti pada teori di bawah ini:
“Konstruktivisme sering dirumuskan dalam berbagai makna sebagai model pembelajaran behaviorisme. Psikologi perilaku mempunyai perhatian pada studi perubahan dalam perilaku nyata sebagai lawan dari perubahan mental. Belajar adalah sebagai proses perubahan atau kondisi perilaku yang teramati sebagai hasil dari reinforcement yang terseleksi dari respon secara individu terhadap iven-iven (stimulus) yang terjadi di dalam lingkungannya. Pikiran sebagai sesuatu yang kosong, kertas kosong yang nyata atau sebagai cermin yang merefleksikan kenyataan.
Pusat perilaku pada siswa adalah upaya untuk mengakumulasi pengetahuan tentang dunia dan alam sebagaimana adanya dengan usaha guru untuk memindahkan dunia sebagaimana adanya. Hal itu tergantung pada tranmisi, pendekatan pembelajaran yang sangat pasif tergantung pengarahan guru dan kontrol. Dalam beberapa konteks istilah behaviorisme digunakan sinonim dengan obyektivism karena bergantung pada sebuah epistimologis objectivist

Menurut Teori ini maka konsep pembelajaran konstruktivisme adalah suatu konsep pembelajaran yang:
1.         Menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi (bentukan) kita sendiri, suatu pandangan yang menyatakan bahwa perkembangan kognitif merupakan proses dimana si belajar yang aktif membentuk (menkonstruk) sistem pemahaman dan pengertian melalui pengalaman dan interaksinya. Pandangan ini memandang bahwa si belajar yang aktif membentuk (mengkonstruk) pengetahuanya melalui pengasimilasian dan pengakomodasian informasi-informasi baru .
2.         Vont Glasersfeld dalam Bettencoart (1989) menyatakan bahwa konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi bentukan) kita sendiri , jadi pengetahuan bukanlah suatu tiruan dari kenyataan (realitas). Pengetahuan bukanlah tentang dunia lepas dari pengamat tetapi merupakan ciptaan manusia yang dikontruksikan dari pengalaman atau dunia sejauh dialaminya. Proses pembentukan ini berjalan terus –menerus dengan setiap kali mengadakan reorganisasi karena adanya suatu pemahaman yang baru (Piaget, 1971). Bagi para kontruktivist, pengetahuan bukanlah tertentu dan deterministik, tetapi suatu proses menjadi tahu. Konstruktivis menyatakan bahwa semua pengetahuan yang kita peroleh adalah konstruksi kita sendiri, maka mereka menolak kemungkinan transfer pengetahuan dari seseorang kepada yang lain bahkan secara prinsipil, tidak mungkin mentransfer pengetahuan karena setiap orang membangun pengetahuan pada dirinya.
3.         Pada teori ini pengaruhnya dalam proses pembelajaran adalah bahwa si pembelajar sudah mempunyai konsepsi mengenai konsep-konsep sebelum mereka mengikuti pembelajaran di sekolah. Sebelum si belajar mengikuti pembelajaran mekanika, mereka sudah banyak berpengalaman dengan peristiwa-peristiwa mekanika (benda yang jatuh, benda yang bergerak, gaya dan seterusnya). Oleh karena itu, sebelumnya mereka telah mengembangkan banyak konsepsi (kecepatan, gaya) yang belum tetu sama dengan konsepsi fisikawan. Konsepsi inilah yang disebut dengan prakonsepsi.

Ketika si belajar untuk pertama kali belajar fisika SMU sebelumnya dia sudah punya isi otak yang memungkinkannya  untuk belajar dari lingkunganya yang baru. Sibelajar tidak belajar secara pasif dengan menyerap stimulus (informasi) apa saja dari lingkunganya , tetapi otaknya sudah selektif dengan memilih informasi apa yang masuk dan mencari melalui hubungan antar unsur-unsur yang berlainan, karena struktur otak dari semula sudah mengatur lalu lintas informasi didalamnya dan lalu lintas informasi dengan dunia luar . Struktur itupun tidak bersifat tetap , melainkan akan berkembang sesuai dengan pengalaman dan umurnya.

Apapun yang dikatakan seorang si belajar dalam menjawab suatu persoalan fisika itu merupakan jawaban yang masuk diakalnya pada saat itu . Kesalahanpun perlu ditanggapi dengan serius apapun bentuk kesalahan yang diperbuat , jangan pernah mengandaikan bahwa cara berfikir mereka sederhana atau jelas. Pembelajar justru perlu belajar mengerti cara berfikir mereka sehingga dapat membantu bagaimana memodifikasikan pikiran itu kearah yang benar . Seorang pembelajar konstruktivistik tidak akan pernah mengklaim bahwa ini satu-satunya yang benar tetapi ia akan berkata bahwa ini adalah jalan yang terbaik untuk situasi ini atau ini adalah jalan yang terefektif untuk soal ini.

Pembelajar konstruktivistik akan membiarkan sibelajar untuk menemukan cara-cara yang paling menyenangkan dalam memecahkan suatu persoalan. Sibelajar kadang-kadang suka mengambil jalan yang tidak disangka-sangka atau tidak secara konvensional dalam memecahkan suatu persoalan .

4.         Filsafat konstruktivisme menjadi landasan bagi banyak strategi pembelajaran , terutama yang dikenal dengan nama student –centered learning belajar yang berorientasi pada sibelajar atau mengutamakan keaktifan sibelajar dalam menkonstruksikan pengetahuan berdasarkan interaksinya dalam pengalaman  belajar yang diperoleh. Peran guru (pembelajar) sebagai fasilitator dan atau bersama-sama sibelajar juga terlibat dalam proses belajar, proses konstruksi pengetahuan. Beberapa strategi pembelajaran konstruktivisme adalah belajar aktif, belajar mandiri, belajar kooperatif dan kolaboratif, generative learning dan model pembelajaran kognitif antara lain problem based learning dan cognitive strategis.
5.         Prinsip –prinsip yang diambil dalam paham konstruktivisme adalah :
a.    Pengetahuan dibangun oleh sibelajar sendiri baik secara personal maupun sosial.
b.    Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru kepada sibelajar, kecuali hanya dengan keaktifan sibelajar itu sendiri untuk menalar.
c.    Sibelajar aktif mengkonstruksi terus-menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep menuju ke konsep yang lebih rinci, lengkap, serta situasi dengan konsep ilmiah.
d.    Guru sekedar membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi sibelajar berjalan mulus.
e.    Otak diibaratkan sebagai prosesor komputer yang selalu memproses informasi. Pengajaran yang efektif adalah apabila menggunakan berbagai strategi pembelajaran.
f.      Pembelajaran melibatkan keseluruhan aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Guru tidak boleh hanya bertumpu kepada kemampuan intelek saja.
g.    Usaha untuk mencari (membangun) makna bersifat kontinu. Pengajaran efektif harus menyadari bahwa pengertian (konstruksi makna) bagi seseorang adalah personil dan unik, pemahaman si belajar bergantung kepada pengalaman uniknya.
h.    Emosi adalah cerminan dari adanya perbedaan . pembelajaran dipengaruhi oleh emosi dan sikap.
i.      Otak memproses semua informasi yang masuk, baik yang sederhana maupan yang kompleks secara serentak. Dalam membangun makna dilakukan dengan cara mempelajari hal yang sifatnya sederhana sampai ke hak yang sifatnya kompleks.
j.      Pembelajaran melibatkan perhatian yang terfokus pada bagaimana membangun persepsi (makna) dan hal ini dipengaruhi oleh lingkungan dan budaya.
k.    Pembelajaran merupakan proses dimana sibelajar membutuhkan waktu untuk memproses apa dan bagaimana isi pembelajaran.
l.      Sekurang-kurangnya terdapat dua jenis ingatan yaitu sistem ingatan ruang (spartial) dan sistem ingatan untuk pembelajaran yang mengutamakan hafalan dapat menghambat pemahaman sibelajar.
m.  Sibelajar akan dapat membangun makna dengan baik apabila sibelajar dapat menemukan fakta dan mampu menjelaskannya. Pembelajaran eksperimen adalah paling efektif.
n.    Pembelajaran yang disuguhkan dengan ancaman, hukuman tidak menguntungkan untuk terjadinya proses konstruksi makna (pengetahuan).
o.    Setiap orang memiliki proses kontruksi makna yang unik. Pembelajaran sebaiknya disesuaikan dengan keunikan sibelajar agar sibelajar dapat menyatakan kecenderungannya masing-masing.

Persamaan konsep pendidikan antara Ki Hadjar Dewantoro dengan Konstruktivisme antara lain dalam hal:
1.    Keduanya sama-sama menekankan bahwa titik berat proses belajar mengajar terletak pada siswa, pegajar berperan sebagai fasilitator atau instruktur yang membantu murid mengkonstruksi. Konseptualisasi dan solusi dari masalah yang dihadapi. Keduanya berpendapat bahwa pembelajaran yang optimal adalah pembelajaran yang berpusat pada murid ( Student Center learning) Kesamaan ini bukan suatu kebetulan . Konstruktivisme yang sudah besar pengaruhnya sejak periode 1930 – 1940 an di Amerika. Dasar pertama yang dari pendekatan konstruktivisme dalam pendidikan adalah teori konvergensi yang menyatakan bahwa pengetahuan manusia merupakan hasil interaksi dari faktor bawaan (nature) dan faktor pengasuhan (nurture). Dalam tulisan Ki Hadjar Dewantoro yang berjudul “Tentang Dasar dan Ajar “ Ki Hadjar Dewantoro mendukung dengan teori konvergensi, menurutnya baik dasar (faktor bawaan) maupun Ajar (pendidikan) berperan dalam pembentukan watak seseorang.
2.    Pandangan konstruktivisme tentang pendidikan sejalan dengan pandangan Ki Hadjar Dewantoro yang menekankan pentingnya siswa menyadari alasan dan tujuan ia belajar. Baginya perlu dihindari pendidikan yang hanya menghasilkan orang yang sekedar menurut dan melakukan perintah . Ki hadjar mengartikan bahwa mendidik adalah sebagai : “ Berdaya upaya dengan sengaja untuk memajukan hidup tumbuhnya budi pekerti (rasa, fikiran, dan roh) dan badan anak dengan jalan pengajaran , teladan dan pembiasaan.” menurutnya jangan pernah ada perintah dan paksaan dalam pendidikan. Pendidik adalah orang yang mengajar, memberi teladan dan membiasakan anak didik untuk menjadi manusia mandiri dan berperan dalam memajukan kehidupam masyarakatnya,jika ada ganjaran atau hukuman maka ganjaran dan hukuman tersebut harus datang sendiri sebagai hasil atau buahnya segala pekerjaan dan keadaan.
Hal ini juga sejalan dengan teori perkembangan dari tokoh Psikologi kognitif (Jean Piaget 1954) bahwa anak mengkonstruksi sendiri pengetahuanya melalui pengalaman bertemu dengan obyek-obyek di lingkungan. Anak adalah pembelajar yang pada dirinya sudah memiliki motivasi untuk mengetahui dan akan memahami sendiri konskuensi dari tindakan-tindakanya, Teori Piaget merupakan salah satu dasar dari konstruktifisme. Hal ini menunjukkan adanya kesesuaian antara pemikiran Ki Hadjar Dewantoro dengan paham Konstruktivisme.
3.    Ki Hadjar dan Konstruktivisme sama-sama memandang pengajar sebagai mitra para siswa untuk menemukan pengetahuan . Mengajar bukan sekedar memindahkan pengetahuan dari guru ke siswa melainkan kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuanya . Kegiatan mengajar di sini adalah sebuah partisipasi dalam proses belajar . Pengajar ikut aktif bersama siswa dalam membentuk pengetahuan , mencipta makna, mencari kejelasan, bersikap kritis dan memberikan penilaian-penilaian terhadap berbagai hal. Mengajar dalam konteks ini adalah membantu siswa untuk berfikir secara kritis, sistematis dan logis dengan membiarkan mereka berfikir sendiri.
4.    Sejalan dengan konstruktivisme Ki Hadjar memiliki semboyan Tut Wuri Handayani , menempatkan pendidik sebagai orang yang berada di belakang siswa , membimbing dan mendorong untuk belajar, memberi teladan, serta membantu siswa membiasakan dirinya untuk menampilkan perilaku yang bermakna dan berguna bagi masyarakatnya .

Keterlibatan pendidik dengan siswa pada saat-saat siswa sedang berjuang menemukan berbagai pengetahuan sangat diperlukan untuk menumbuhkan rasa percaya siswa baik pada dirinya sendiri maupun pada pengajar.

Pengajar harus memiliki fleksibilitas pikiran yang tinggi agar dapat memahami dan menghargai pemikiran siswa karena seringkali siswa menampilkan pendapat yang berbeda bahkan bertentangan dengan pemikiran pengajar . Apa yang dikatakan oleh murid dalam menjawab sebuah pertanyaan adalah masuk akal bagi mereka saat itu , jika jawaban jauh bertentangan dengan prinsip-prinsip keilmuan atau membahayakan , maka pendidik harus hati-hati dalam memberi pengarahan . Jangan sampai pengarahan yang diberikan menghilangkan rasa ingin tahu siswa yang menimbulkan konflik antara pendidik dengan siswa.


B.   Pemikiran Pendidikan K.H. Hasyim Asy’ari
1.    Konsep Pendidikan K.H. Hasyim Asy’ari
a.     Urgensi Pendidikan menurut K.H. Hasyim Asy‟ari
Urgensitas pendidikan menurut K.H. Hasyim Asy‟ari paling tidak terdapat dua kualifikasi. Pertama, arti penting pendidikan adalah untuk mempertahankan predikat makhluk paling mulia  yang dilekatkan pada manusia itu. Hal itu tampak pada uraian-uraiannya tentang keutamaan dan ketinggian derajat orang yang berilmu (ulama), bahkan  dibanding  dengan  ahli   ibadah  sekalipun.1    Kedua,   urgensi pendidikan terletak pada konstribusinya dalam menciptakan  masyarakat yang berbudaya dan beretika. Rumusan itu tampak pada uraian tentang tujuan mempelajari ilmu, yaitu semata-mata untuk diamalkan.2 Pengamalan suatu ilmu mempunyai makna bahwa seseorang   yang  berilmu  dituntut  untuk  menerjemahkannya    dalam
perilaku sosial yang santun, sehingga dengan demikian akan tercipta suatu tantanan masyarakat yang beretika.
Pemikiran K.H. Hasyim Asy‟ari ini sejalan dengan pemikiran pendahulunya, Ibnu Jama‟ah, beliau mengatakan bahwa kesibukan dalam mengamalkan suatu ilmu karena Allah itu lebih utama dari pada melaksanakan  aktifitas  ibadah  sunnah   yang  berupa  sholat,    puasa, tasbih dan sebagainya. Karena manfaat ilmu itu merata untuk pemiliknya dan umat manusia lainnya, sementara ibadah sunnah terbatas untuk pemiliknya saja.3
Jadi, jika dicermati, kedua urgensitas pendidikan yang ditawarkan oleh K.H. Hasyim Asy‟ari sudah sesuai dengan UUD No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas yang berbunyi Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang  Maha  Esa,  berakhlak  mulia,  sehat,  berilmu,  cakap,     kreatif,mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.4
Pola pemaparan konsep pendidikan K.H. Hasyim Asy‟ari dalam kitab Adab al-„Alim wa al-Muta‟allim mengikuti logika induktif, di mana beliau mengawali penjelasannya langsung dengan mengutip ayat-ayat al- Qur‟an, hadist, pendapat para ulama‟ dan syair- syair para ahli hikmah. Dengan cara itu, seakan-akan K.H. Hasyim Asy‟ari memberikan pembaca menangkap makna tanpa harus dijelaskan dengan bahasa beliau sendiri. Namun demikian, ide-ide pemikirannya  tampak  jelas  dari  ayat-ayat,  hadist  maupun  pendapat ulama yang dipilihnya. Dari pilihan ayat, hadist dan pendapat ulama tersebut ide pemikirannya dapat dianalisis.
Tampak pula K.H. Hasyim Asy‟ari menaruh perhatian yang cukup besar terhadap eksistensi ulama. Penegasan akan eksistensi ulama yang menempati kedudukan yang tinggi tersebut   membuktikan
dan surat al-Bayyinah (Qs. 98) ayat 7-8 yang mengatakan:





-

Artinya:“sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk (7)  Balasan

mereka di sisi Tuhan mereka adalah surge „And yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridla terhadap mereka dan mereka pun ridla kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya (8)”.


Premis dalam Surat Pertama menyatakan bahwa ulama paling takut kepada Allah, sedangkan pada Surat Kedua dinyatakan bahwa orang yang takut kepada Allah adalah makhluk terbaik. Kedua premis ini kemudian memberi sebuah konklusi bahwa ulama merupakan makhluk yang terbaik di sisi Allah (khair al-bariyyah).
Ketegasan tingginya derajat ulama itu sering diulang, misalnya dengan argumentasi hadits Nabi yang mengatakan:


 


Artinya: “Ulama adalah pewaris para Nabi”.

Hadits di atas sesungguhnya menyatakan secara jelas bahwa derajat para ulama setingkat lebih rendah di bawah Nabi.7 Sementara munurut K.H. Hasyim Asy‟ari, tidak ada derajat yang lebih mulia daripada derajat Nabi. Oleh karena itu, derajat ahli ibadah lebih rendah daripada ulama. Bahkan K.H. Hasyim Asy‟ari sering mengutip hadits dan pendapat ulama serta menyatakan pendapatnya tentang perbandingan ibadah dengan ilmu.8
Dari penjelasan di atas, dapat ambil kesimpulan bahwa urgensi pendidikan  menurut  K.H.  Hasyim  Asy‟ari  paling tidak  terdapat dua kualifikasi. Pertama, arti penting pendidikan adalah untuk mempertahankan predikat makhluk paling mulia yang dilekatkan pada manusia itu. Hal itu tampak pada uraian-uraiannya tentang keutamaan dan ketinggian derajat orang yang berilmu (ulama), bahkan dibanding dengan ahli ibadah sekalipun. Kedua, urgensi pendidikan terletak pada konstribusinya dalam menciptakan masyarakat yang berbudaya dan beretika. Rumusan itu tampak pada uraian tentang tujuan mempelajari ilmu, yaitu semata-mata untuk diamalkan, pengalaman suatu ilmu mempunyai makna bahwa seseorang yang berilmu dituntut untuk menerjemahkannya dalam perilaku sosial yang santun, sehingga dengan demikian akan tercipta suatu tantanan masyarkat yang beretika.

b.     Tujuan Pendidikan menurut KH. Hasyim Asy‟ari

K.H. Hasyim Asy‟ari memang tidak menjelaskan secara eksplisit tentang konsep tujuan pendidikannya. Akan tetapi secara implisit dapat terbaca dari beberapa pernyataannya.
Tujuan ideal K.H. Hasyim Asy‟ari adalah untuk membentuk masyarakat yang beretika tinggi (akhlaq al karimah). Rumusan itu secara implisit dapat terbaca dari beberapa hadist dan pendapat ulama yang dikutipnya. Beliau menyebutkan sebuah hadist  yang     berbunyi:
“diriwayatkan dari Aisyah R.A. dari Rasullah SAW bersabda:

9

Artinya:“kewajiban orang tua terdahap anaknya adalah membaguskan namanya, membaguskan ibu susuannya dan membaguskan etikanya”.

Dalam kitab Adab al-„Alim wal al-Muta‟allim, K.H. Hasyim Asy‟ari menyebutkan tujuan pendidikan yang, Pertama, membentuk insan paripurna yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah Swt, Kedua adalah membentuk insan paripurna yang mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Kalau dikaji, tujuan pendidikan yang dikemukakan adalah untuk mencapai derajat ulama dan derajat insan yang paling utama (khair al-bariyah) dan bisa beramal dengan ilmu yang diperoleh serta mencapai ridla Allah.
Berdasar pada pemahaman tujuan pendidikan tersebut, nampak bahwa K.H. Hasyim Asy‟ari tidak menolak ilmu-ilmu sekuler sebagai suatu syarat untuk mendapatkan kebahagiaan dunia. Namun, K.H. Hasyim Asy‟ari tidak menjelaskan porsi pengetahuan dalam kitab Adabul Alim wa Al-Muta‟alim secara luas, akan tetapi dalam kitab tersebut mendeskripsikan cakupan kurikulum pendidikan Islam itu sendiri. Beliau hanya  menjelaskan hirarki pengetahuan kedalam    tiga hal, diantaranya10:
a)    Ilmu pengetahuan yang tercela dan dilarang, artinya ilmu pengetahuan yang tidak dapat diharapkan kegunaannya baik di dunia maupun di akhirat, seperti ilmu sihir, nujum, ramalan nasib, dan sebgainya,
b)   Ilmu pengetahuan yang dalam keadaan tertentu menjadi terpuji, tetapi jika mendalaminya menjadi tercela, artinya yang sekiranya mendalami akan menimbulkan kekacauan fikiran, sehingga dikhawatirkan menimbulkan kufur, misalnya ilmu kepercayaan dan ilmu kebatinan,
c)    Ilmu pengetahuan yang terpuji, yaitu ilmu-ilmu pelajaran agama dan berbagai macam ibadah. Ilmu-ilmu tersebut dapat mensucikan jiwa, melepaskan diri dari perbuatan- perbuatan tercela, membantu mengetahui kebaikan dan mengerjakannya, mendekatkan diri kepada Allah Swt, mencari ridla-Nya dan mempersiapkan dunia ini untuk kepentingan di akhirat.
Menurut K.H. Hasyim Asy‟ari, tujuan utama ilmu pengetahuan adalah mengamalkannya.11 Demikian ini agar dapat menghasilkan  buah dan manfaat sebagai bekal untuk kehidupan di akhirat kelak. Pengalaman seseorang atas ilmu pengetahuan yang dimiliki akan menjadikan kehidupannya  semakin  berarti baik  di dunia maupun    di akhirat. Oleh karena itu, apabila seseorang dapat mengamalkan ilmu pengetahuannya, maka sesungguhnya ia termasuk orang yang beruntung. Sebaliknya, jika ia tidak dapat mengamalkan ilmu pengetahuan, sesungguhnya ia termasuk orang yang merugi.

Dengan demikian, makna belajar menurut K.H.  Hasyim Asy‟ari tidak lain adalah mengembangkan semua potensi baik jasmani maupun rohani untuk mempelajari, menghayati, menguasai, dan mengamalkannya untuk kemanfaatan dunia dan agama.
Rumusan tujuan pendidikan K.H. Hasyim Asy‟ari tersebut di atas hampir mirip dengan rumusan tujuan pendidikan Quraish Shihab, yang menyatakan bahwa tujuan pendidikan dalam al-Qur‟an adalah “membina manusia secara pribadi dan kelompok, sehingga dapat menjalankan  fungsinya  sebagai  hamba  Allah  dan  kholifahnya, guna membangun dunia ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan oleh  Allah swt”.12

C.   Pemikiran Pendidikan KH. Ahmad Dahlan
Menurut KH. Ahmad Dahlan, upaya strategis untuk menyelamatkan umat islam dari pola berpikir yang statis menuju pada pemikiran yang dinamis adalah melalui pendidikan. Pendidikan hendaknya ditempatkan pada skala prioritas utama dalam proses pembangunan uamt.[8] Upaya mengaktualisasikan gagasan tersebut maka konsep pendidikan KH. Ahmad Dahlan ini meliputi :
1.    Tujuan Pendidikan
Menurut KH. Ahmad Dahlan, pendidikan islam hendaknya diarahkan pada usaha membentuk manusia muslim yang berbudi pekerti luhur, alim dalam agama, luas pandangan dan paham masalah ilmu keduniaan, serta bersedia berjuang untuk kemajuan masyarakatnya. Tujuan pendidikan tersebut merupakan pembaharuan dari tujuan pendidikan yang saling bertentangan pada saat itu yaitu pendidikan pesantren dan pendidikan sekolah model Belanda. Di satu sisi pendidikan pesantren hanya bertujuan utnuk menciptakan individu yang salih dan mengalami ilmu agama. Sebaliknya, pendidikan sekolah model Belanda merupakan pendidikan sekuler yang didalamnya tidak diajarkan agma sama sekali. Akibat dialisme pendidikan tersebut lahirlah dua kutub intelegensia : lulusan pesantren yang menguasai agama tetapi tidak menguasai ilmu umum dan sekolah Belanda yang menguasai ilmu umum tetapi tidak menguasai ilmu agama.
Melihat ketimpangan tersebut KH. Ahamd Dahlan berpendapat bahwa tujuan pendidikan yang sempurna adalah melahirkan individu yang utuh menguasai ilmu agama dan ilmu umum, material dan spritual serta dunia dan akhirat. Bagi KH. Ahmad Dahlan kedua hal tersebut (agama-umum, material-spritual dan dunia-akhirat) merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Inilah yang menjadi alasan mengapa KH. Ahmad Dahlan mengajarkan pelajaran agama dan ilmu umum sekaligus di Madrasah Muhammadiyah.
2.    Materi pendidikan
Berangkat dari tujuan pendidikan tersebut KH. Ahmad Dahlan berpendapat bahwa kurikulum atau materi pendidikan hendaknya meliputi:
a.    Pendidikan moral, akhalq yaitu sebagai usaha menanamkan karakter manusia yang baik berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
b.    Pendidikan individu, yaitu sebagai usaha untuk menumbuhkan kesadaran individu yang utuh yang berkesinambungan antara perkembangan mental dan gagasan, antara keyakinan dan intelek serta antara dunia dengan akhirat.
c.    Pendidikan kemasyarakatan yaitu sebagai usaha untuk menumbuhkan kesediaan dan keinginan hidup bermasyarakat.
3.    Model Mengajar
Di dalam menyampaikan pelajaran agama KH. Ahmad dahlan tidak menggunakan pendekatan yang tekstual tetapi konekstual. Karena pelajaran agama tidak cukup hanya dihafalkan atau dipahami secara kognitif, tetapi harus diamalkan sesuai situasi dan kondisi.
a)    Cara belajar-mengajar
Di pesantren menggunakan sistem Weton dan Sorogal, madrasah Muhammadiyah menggunakan sistem masihal seperti sekolah Belanda.
b)   Bahan pelajaran
 Di pesantren mengambil kitab-kitab agama. Sedangkan di madrasah Muhammadiyah bahan pelajarannya diambil dari buku-buku umum.
c)    Hubungan guru-murid.
Di pesantren hubungan guru-murid biasanya terkesan otoriter karena para kiai memiliki otoritas ilmu yang dianggap sakral. Sedangkan madrasah Muhammadiyah mulai mengembangkan hubungan guru-murid yang akrab.[9]

Cita-cita K.H. Ahmad Dahlan sebagai ulama cukup tegas, ia ingin memperbaiki masyarakat Indonesia berlandaskan cita-cita Islam. Usaha-usahanya lebih ditujukan untuk hidup beragama. Keyakinannya bahwa untuk membangun masyarakat bangsa haruslah terlebih dahulu di bangun semangat bangsa.
Dengan keuletan yang dilakukan oleh K.H. Ahmad Dahlan, dengan gerakannya yang tidak pernah luput dari amal, kelenturan dan kebijaksaan dalam membawa misinya, telah mampu menempatkan posisi “aman”, baik pada zaman penjajahan maupun pada masa kemerdekaan. Jejak langkah K.H. Ahmad Dahlan senantiasa menitik-beratkan pada pemberantasan dan melawan kebodohan serta keterbelakangan yang senantiasa berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits.
Arus dinamika pembahruan terus mengalir dan bergerak menuju kepada berbagai persoalan kehidupan yang semakin kompleks. Dengan demikian, peranan pendidikan Islam menjadi semakin penting dan strategis untuk senantiasa mendapat perhatian yang serius. Hal ini disebabkan, karean pendidikan merupakan media yang sangat strategis untuk mencerdaskan umat. Melalui media ini, umat akan semakin kritis dan memiliki daya analisa yang tajam dan membaca peta kehidupan masa depannya yang dinamis. Dalam konteks ini, setidaknya pemikiran pendidikan Ahmad Dahlan dapat diletakkan sebagai upaya sekaligus wacana untuk memberikan inspirasi bagi pembentukan dan pembinaan peradaban umat masa depan yang lebih proporsional.


























BAB III

PENUTUP
A.     Kesimpulan
Setelah melihat dan menganalisa semua data yang telah tersaji pada bab sebelumnya, maka dapatlah peneliti simpulkan bahwa :
1.   Konsep Pendidikan K.H. Hasyim Asy’ari yang terdapat dalam kitab Adab al-alim wa al-muta’allim yang terdiri dari 8 bab yang berisi tentang, Kelebihan ilmu dan ilmuwan, etika yang harus dicamkan dalam diri peserta didik, etika seorang peseta didik terhadap pendidik, etika seorang peseta didik terhadap pelajaran, etika pendidik terhadap dirinya, etika pendidik terhadap pelajaran, etika pendidik terhadap peserta didik, etika pendidik dan peserta didik terhadap buku.
2.   Pendekatan Pendidikan Islam menurut K.H. Hasyim Asy’ari yaitu lebih memperlihatkan kepada perpaduan antara teoritisi dan praktisi. Sebagai teoritisi, terlihat pada gagasan dan pemikiriannya yang didasarkan pada kebutuhan masyarakat serta situasi kultural pada zamannya. Sedangkan sebagai praktisi, terlihat pada upaya melaksanakan gagasan dan pemikirannya itu.
3.   Ide pembaharuan K.H. Ahmad Dahlan mulai disosialisasikan ketika menjabat khatib di Masjid Agung Kesultanan. Salah satunya adalah menggarisi lantai Masjid Besar dengan penggaris miring 241/2 derajat ke Utara. Ketika berusia empat puluh tahun, 1909, Ahmad Dahlan telah membuat terobosan dan strategi dakwah: ia memasuki perkumpulan Budi Utomo. Melalui per­kumpulan ini, Dahlan berharap dapat memberikan pelajaran agama kepada para anggotanya.
4.   Gerakan pembaruan K.H. Ahmad Dahlan, yang berbeda dengan masyarakat zamannya mempunai landasan yang kuat, baik dari keilmuan maupun keyakinan Qur’aniyyah guna meluruskan tatanan perilaku keagamaan yang berlandaskan pada sumber aslinya, Al-Qur’an dengan penafsiran yang sesuai dengan akal sehat. Berangkat dari semangat ini, ia menolak taqlid dan mulai tahun 1910 M. penolakannya terhadap taqlid semakin jelas. Akan tetapi ia tidak menyalurkan ide-idenya secara tertulis. Pada tanggal 1 Desember 1911 M. Ahmad Dahlan mendirikan sebuah Sekolah Dasar di lingkungan Keraton Yogyakarta. Di sekolah ini, pelajaran umum diberikan oleh beberapa guru pribumi berdasarkan sistem pendidikan gubernemen. Sekolah ini barangkali merupakan Sekolah Islam Swasta pertama yang memenuhi persyaratan untuk mendapatkan subsidi pemerintah.
5.   Sumbangan terbesarnya K.H. Ahmad Dahlan, yaitu pada tanggal 18 November 1912 M. mendirikan organisasi sosial keagamaan bersama temannya dari Kauman, seperti Haji Sujak, Haji Fachruddin, haji Tamim, Haji Hisyam, Haji syarkawi, dan Haji Abdul Gani. Sementara itu, usaha-usaha Muhammadiyah bukan hanya bergerak pada bidang pengajaran, tapi juga bidang-bidang lain, terutama sosial umat Islam. Sehubungan dengan itu, Muhammadiyah sebagai gerakan sosial keagamaan mempunyai ciri-ciri khas sebagai berikut:
a.    Muhammadiyah sebagai gerakan Islam.
b.    Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah.
c.    Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid.
d.    Muhammadiyah sebagai gerakan sosial keagamaan,
6.   Menurut pengertian umum, berdasarkan apa yang kita lihat dalam semua macam pengertian pendidikan itu,maka teranglah bahwa yang dinamakan pendidikan yaitu, tuntunan didalam hidup tumbuhnya anak-anak. Adapun maksudnya pendidikan yaitu, menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
7.   Upaya mewujudkan peradaban bangsa melalui pendidikan karakter bangsa tidak pernah terlepas dari lingkungan pendidikan baik di dalam keluarga, sekolah dan masyarakat. Guru memiliki tanggung jawab besar dalam menghasilkan generasi yang berkarakter, berbudaya, dan bermoral. Dewasa ini, tuntutan dan peran guru semakin kompleks, tidak sekedar sebagai pengajar semata, pendidik akademis tetapi juga merupakan pendidik karakter, moral dan budaya yang berlaku di Indonesia. Guru diharapkan menjadi model dan teladan bagi anak didiknya dalam mewujudkan perilaku yang berkarakter yang meliputi olah pikir, olah hati dan olah rasa. Untuk mewujudkan manusia Indonesia yang berkarakter kuat, perlu kiranya diterapkan konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara dengan sistem among, tut wuri handayani dan tringa.
B.     Saran
1.  Bagi Pengajar (Guru)

Dengan mengetahui konsep pendidikan yang ditulis oleh Ki Hajar Deawantara, K.H. Ahmad Dahlan, dan K.H. Hasyim Asy’ari, pengajar (guru) dapat menyampaikan materi dengan baik dan benar, serta dengan etika yang sesuai bagi seorang guru sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dan harus bener-bener ikhlas memberikan ilmunya kepada peserta didik.
2.  Bagi Pelajar (Murid)

Dengan mengetahui pemikiran Pendidikan yang ditawarkan Ki Hajar Dewantara, K.H. Ahmad Dahlan, dan KH. Hasyim Asyari telah memberikan petunjuk bagi seorang guru dan murid. Dengan adanya pemikiran tersebut dapat dijadikan pedoman siswa bagaimana etika seorang murid dalam menuntut ilmu sehingga mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

DAFTAR PUSTAKA

Dewantara, Ki Hadjar. 2009. Menuju Manusia Merdeka. Yogyakarta : Leutika.
Delias Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia, Jakarta: LP3ES, 1985
Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam, Cet. I, Jakarta, Pustaka Setia, 2000.
Kamal, Musthafa Pasha, Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam untuk Angkatan MudaYogyakarta: Persatuan, 1975.
Abdurrahman Wahid, Menggerakkan Tradisi: Esai-esai Pesantren, Yogyakarta: Lkis. 2001.
Abu Bakar al-Baihaqi, 1410 H.Sya’bul Iman,Bairut: Daar al-Kutub ilmaih,j. 6.
Ahmad D marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Al- Ma’arif 1974.
http://www.kumpulanmakalah.com/2016/09/kh-ahmad-dahlan.html/diakses          pada  tanggal 17/Desember/2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH TEORI ATRIBUSI DALAM PEMBELAJARAN

GERAKAN DAN ORGANISASI ISLAM MODERN DI INDONESIA

PANCASILA SEBAGAI PARADIGMA IMPLEMENTATIF DALAM ERA GLOBALISASI