MAKALAH TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN REMAJA
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas
segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hidayahnya sehingga kami dapat
menyelesaikan penyusunan makalah ini dengan tepat waktu. Semoga makalah ini
dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi
pembaca.
Penulis
sangat bersyukur karena telah menyelesaikan makalah yang menjadi tugas Mata Kuliah Perkembangan
Peserta Ddik dengan judul
"Tugas-tugas
Perkembangan Remaja".
Disamping itu, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu kami selama pembuatan makalah ini berlangsung sehingga terealisasikanlah
makalah ini.
Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan
karena pengalaman yang kami miliki sangat kurang. Oleh karena itu saya harapkan
kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun
untuk kesempurnaan makalah ini.
Malang, 7 Februari 2017
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR............................................................................................................. 2
DAFTAR
ISI .......................................................................................................................... 3
BAB I
PENDAHULUAN ....................................................................................................... 4
1.1 Latar Belakang .............................................................................................................. 4
1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................................... 4
1.3 Tujuan........................................................................................................................... 4
BAB II
PEMBAHASAN ....................................................................................................... 5
2.1 Pengertian Remaja......................................................................................................... 5
2.2 Ciri-ciri Remaja.............................................................................................................. 7
2.3 Tugas-tugas Perkembangan Masa
Remaja...................................................................... 9
2.4 Hukum-hukum Perkembangan Bagi
Remaja................................................................... 10
BAB III
PENUTUP ................................................................................................................ 12
3.1 Kesimpulan ................................................................................................................... 12
3.2 Saran ............................................................................................................................ 12
DAFTAR
PUSTAKA.............................................................................................................. 13
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latarbelakang
Remaja dalam
bahasa aslinya disebut adolescence,
berasal dari bahasa adolescere yang
artinya “tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan”. Bangsa primitif dan
orang-orang purbakala memandang masa puber dan masa remaja berbeda dengan
periode lain dalam rentang kehidupan. Anak dianggap sudah dewasa apabila mampu
mengadakan reproduksi.
Remaja
sebutulnya tidak mempunyai tempat yang jelas. Mereka sudah tidak termasuk
golongan anak-anak, tetapi belum juga dapat diterima secara penuh untuk masuk
ke golongan orang dewasa. Remaja ada diantara anak dan orang dewas. Oleh karena
itu, remaja seringkali dikenal dengan fase “mencari jati diri” atau fase “topan
dan badai”. Remaja masih belum mampu menguasai dan memfungsikan secara secara
maksimal fungsi fisik maupun psikisnya.
1.2
Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian dari
masa remaja sebenarnya?
2.
Bagaimana ciri-ciri
manusia dikatakan telah memasuki masa remaja?
3.
Apa saja tugas-tugas
perkembangan remaja?
1.3
Tujuan
1.
Menjelaskan pengertian
dari masa remaja
2.
Menjelaskan ciri-ciri
manusia dikatakan telah memasuki masa remaja
3.
Menjelaskan tugas-tugas
perkembangan remaja
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Remaja
Masa remaja menurut Mappier(1982)
berlangsung antara umur 12 sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 sampai
dengan 22 tahun bagi pria. Rentang usia remaja tersebut dapat dibagi menjadi
dua bagian, yaitu usia 12/13 sampai 17/18 tahun adalah remaja awal dan usia
17/18 tahun sampai 21/22 tahun, yaitu remaja akhir. Menurut hukum di Amerika
Serikat saat itu, individu dianggap telah dewasa apabila telah mencapai usia 18
tahun dan bukan 21 tahun seperti ketentuan sebelumnya (Hurlock, 1991)/ pada usia ini, umumnya anak sedang duduk di bangku
sekolah menengah.
Remaja dalam bahasa aslinya disebut adolescence,
berasal dari bahasa adolescere yang
artinya “tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan”. Bangsa primitif dan orang-orang
purbakala memandang masa puber dan masa remaja berbeda dengan periode lain
dalam rentang kehidupan. Anak dianggap sudah dewasa apabila mampu mengadakan
reproduksi. Perkembangan lebih lanjut, istilah adolescence sesungguhnya memiliki arti mencakuo kematangan mental,
emosional, sosial, dan fisik (Hurlock,
1991). Pandangan tersebut di dukung oleh Piaget
(Hurlock, 1991) yang mengatakan
bahwa secara psikologis, remaja adalah suatu usia dimana individu menjadi Julam
masyarakat dewasa, suatu usia dimana anak tidak merasa berada dibawah tingkat
orang yang lebih tua, melainkan merasa sama atau paling tidak sejajar. Memasuki
masyarakat dewasa ini mengandung afektif lebih atau kurang dari usia pubertas.
Remaja juga sedang mengalami perkembangan pesat dalam aspek intelektual.
Transformasi intelektual dari cara berpikir remaja ini memungkinkan mereka
tidak hanya mampu mengintegrasikan dirinya ke dalam masyarakat dewasa, tetapi
juga merupakan karakteristik yang paling menonjol dari semua periode
perkembangan (Shaw dan Costanzo, 1985).
Remaja sebutulnya tidak mempunyai tempat yang jelas. Mereka sudah tidak
termasuk golongan anak-anak, tetapi belum juga dapat diterima secara penuh
untuk masuk ke golongan orang dewasa. Remaja ada diantara anak dan orang dewas.
Oleh karena itu, remaja seringkali dikenal dengan fase “mencari jati diri” atau
fase “topan dan badai”.
Remaja masih belum mampu menguasai dan memfungsikan secara secara maksimal
fungsi fisik maupun psikisnya (Monks,
1989). Akan tetapi, yang perlu ditekankan disini adalah bahwa fase potensial,
baik dilihat dari aspek kognitif, emosi, maupun fisik.
Perkembangan intelektual yang terus-menerus menyebabkan remaja mencapai
tahap berpikir operasional formal. Tahap tersebut memungkinkan remaja mampu
berpikir secara lebih abstrak, menguji hipotesis, dan mempertimbangkan apa saja
peluang yang apa ada padanya daripada sekadar melihat remaja dari fase-fase
sebelumnya (Shawdan Costanzo, 1985). Studi tentang remaja
agak sulit karena para remaja sudah mulai banyak meninggalkan lingkungan
kebudayaan yag lebih luas. Banyak dilema para remaja harus dibarengi dengan
studi tentang kultur. Dalam kenyataannya, fase perkembangan yang disebut adolescence terutama bersifat kultural
alih-alih bersifat psikologis atau gejala pertumbuhan.
1.
Karakteristik
Masa Remaja
a.
Konsep tentang Adolescence
Pengertian
dasar tentang instilah adolescence hanyalah
pertumbuhan ke arah pematangan. Masa ini adalah periode antara permulaan
pebertas dengan kedewasaan yang secara kasar antara usia 14-25 tahun untuk
laki-laki dan antara usia perempuan.
Banyak buku
pendidikan dan psikologi yang mendefinisikan adolescence dengan menunjuk kepada periode yang penuh dengan
tekanan dan ketegangan (stress and
strain), suatu periode dimana individu belum menjadi sesuatu. Generalisasi
semacam ini tentu saja memiliki keterbatasan karena tidak semua remaja
mengalami tekanan dan ketegangan.
Dalam dunia
yang mengalami perubahan yang cepat, memang tidak bisa dihindarkan bahwa
tingkah laku sebagian remaja mengalami ketidaktemuan saat mereka mencari
kedudukan dan identitas. Para remaja bukan lagi kana-kanak, tepai juga belum
menjadi orang dewasa. Mereka cenderung dan bersifat lebih sensitif karena
perannya belum tegas. Ia mengalami prtentangan nilai-nilai dan harapan-harapan
yang akibatnya lebih mempersulit dirinya yang seklaigus mengubah perannya. Para
remaja adalah individu-individu yanag sedang mengalami serangkaian tugas
perkembangan yang khusus.
b.
Keunikan Remaja
Psikologi objektif
selalu menekankan bahwa pertumbuhan adalah sesuatu yang berlangsung terus
menerus dan bersifat setahap demi setahap. Oleh karena itu, individu tidak sekaligus
berubah menjadi orang yang sama seklai berbeda walaupun terjadi kematangan pada
organ-organ kelamin, tumbuhnya kumis, tumbuhnya bulu pada bagian-bagian
tertentu pada badan, dengan timbulnya perubahan suara pada laki-laki.
Keunikan para
remaja terletak pada individu-individunya. Tampak jelas bahwa para remaja dari
keluarga yang sama memperlihatkan perbedaan-perbedaan dalam besar badan,
intelegensi, minat dan sifat sosialnya. Anaka kembarpun memperlihatkan
perbedaan-perbedaan sekalipun mereka memiliki kesamaa pembawaan. Para remaja
dari kelas sosial yang satu berbeda dengan para remaja dari kelas sosial yang
lain dalam sikap dan cita-citanya.
2.2 Ciri-ciri Remaja
Ada beberapa ciri pada remaja yang harus diketahui, diantaranya
ialah:
a. Pertumbuhan
fisik
Pertumbuhan
fisik mengalami perubahan dengan cepat, lebih cepat dibandingkan dengan masa
anak-anak dan masa dewasa. Untuk mengimbangi pertumbuhan yang cepat itu, remaja
membutuhkan makan dan tidur yang lebih banyak. Dalam hal ini kadang-kadang
orang tua tidak mau mengerti, dan marah-marah bila anaknya terlalu banyak makan
dan terlalu banyak tidurnya. Perkembangan fisik mereka jelas terlihat pada
tungkai dan tangan, tulang kaki dan tangan, otot-otot tubuh berkembang pesat,
sehingga anak kelihatan bertubuh tinggi, tetapi kepalanya masih mirip dengan
anak-anak.
b. Perkembangan
seksual
Seksual
mengalami perkembangan yang kadang-kadang menimbulkan masalah dan menjadi
penyebab timbulnya perkelahian, bunuh diri, dan sebagainya.
c.
Cara berpikir
kausalitas
Ciri
ketiga adalah cara berpikir kausalitas, yaitu menyangkut hubungan sebab dan akibat. Remaja sudah
mulaiberpikir kritis sehingga ia akan melawan bila orang tua, guru, lingkungan,
masih menganggapnya sebagai anak kecil. Bila guru dan orang tua tidak memahami
cara berpikir remaja, akibatnya timbullah
kenakalan remaja berupa perkelahian antarpelajar yang sering terjadi di
kota-kota besar.
d.
Emosi yang meluap-luap
Keadaan
emosi remaja masih labil karena erat hubungannya dengan keadaan hormon. Suatu
saat iabisa sedih sekali, di lain waktu ia bisa marah sekali. Emosi remaja
lebih kuat dan lebih menguasai diri mereka daripada pikiran yang realistisnya.
e.
Mulai tertarik kepada
lawan jenisnya
Biologis
manusia terbagi menjadi dua jenis, yaitu laki-laki dan perempuan. Dalam kehidupan
sosial remaja, mereka mulai tertarik kepada lawan jenisnya dan mulai berpacaran.
Jika dalam halini orang tua kurang mengerti, kemudian melarangnya, akan
menimbulkan masalah dan remaja akan bersikap tertutup terhadap orang tuanya.
f.
Menarik perhatian lingkungannya
Pada
masa iniremaja mulai mencari perhatian dari lingkungannya, berusaha mendapatkan
status dan peranan seperti kegiatan remaja di kampung-kampung yang diberi
peranan. Bila tidak diberi peranan, ia akan melakukan perbuatan untuk menarik
perhatian masyarakat, bila perlu melakukan perkelahian atau kenakalan lainnya.
Remaja akan berusaha mencari peranan di luarrumah bila orang tua tidak memberi
peranan kepadanya karena menganggapnya sebagai anak kecil.
g.
Terikat dengan kelompok
Remaja
dalam kehidupan sosial sangattertarik kepada kelompok sebayanya sehingga tidak
jarang orang tua dinomorduakan sedangkan kelompoknya dinomorsatukan. Orang tua
yang kurang mengerti pasti akan marah karena ia sendiri yang memberi makan,
membesarkan, membiayai sekolahnya.
Tetapi
tidak dituruti omongannya bahkan dinomorduakan oleh anaknya yang lebih menurut
kepada kelompoknya. Dalam pengalaman pun mereka berusaha untuk berbuat sama
dengan teman sekelompoknya.
2.3
Tugas-tugas
Perkembangan Remaja
Tugas perkembangan masa remaja difokuskan pada upaya
meninggalkan sikap dan perilaku kekanak-kanakan serta berusaha untuk mencapai
kemampuan bersikap dan berperilaku secara dewasa. Adapun tugas-tugas
perkembangan masa remaja menurut Hurlock
(teen task development) (1991)
adalah berusaha:
1)
Mampu menerima keadaan fisiknya.
2)
Mampu menerima dan memahami peran seks usia dewasa.
3)
Mampu membawa hubungan baik dengan anggota kelompok yang
berlainan jenis.
4)
Mencapai kemandirian emosional.
5)
Mencapai kemandirian ekonomi.
6)
Mengembangkan konsep dan keterampilan intelektual yang
sangat diperlukan untuk melakukan peran sebagi anggota masyarakat.
7)
Memahami dan menginternalisasikan nilai-nilai orang
dewasa dan orang tua.
8)
Mengembangkan perilaku tanggung jawa sosial yang
diperlukan untuk memasuki dunia dewasa.
9)
Mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan.
10) Memahami dan mempersiapkan berbagai tanggung
jawab kehidupan keluarga.
Tugas-tugas perkembangan fase remaja sangat berkaitan
dengan perkembangan kognitifnya, yaitu fase operasional formal. Kematangan pencapaian
fase kognitif akan sangat membantu kemampuan dalam melaksanakan tugas-tugas
perkembangan, diperlukan kemampuan kreatif remaja. Kemampuan kreatif ini banyak
diwarnai oleh perkembangan kognitifnya.
2.4. Hukum-hukum
Pertumbuhan Remaja
Pertumbuhan yang terjadi sebagai perubahan individu lebih mengacu dan
menekankan pada aspek perubahan fisik ke arah lebih maju. Dengan kata lain, istilah
pertumbuhan dapat didefinisikan sebagai proses perubahan fisiologis yang
bersifat progresif dan kontinu serta berlangsung dalam periode tertentu. Oleh
karena itu, sebagai hasil dari pertumbuhan adalah bertambahnya berat, panjang
atau tinggi badan, tulang otot-otot menjadi lebih sempurna. Pada akhirnya,
pertumbuhan ini mencapai titik akhir yang berarti bahwa pertumbuhan telah
selesai. Bahkan pada usia tertentu, misalnya usia lanjut, justru terdapat
bagian-bagian tertentu yang mengalami penurunan dan pengurangan (Berk, 1989).
Sedangkan, perkembangan lebih mengacu kepada perubahan karakteristik yang
khas dari gejal-gejala psikologis ke
arah yang lebih maju. Para ahli psikologi pada umumnya menunjuk pada pengertian
perkembangan sebagai suatu proses perubahan yang bersifat progresif dan
menyebabkan tercapainya kemampuan dan karakteristik psikis yang baru. Perubahan
seperti itu tidak terlepas dari perubahan yang terjadi pada struktur biologis,
meskipun tidak semua perubahan kemampuan dan sifat psikis dipengaruhi oleh
perubahan struktur biologis. Perubahan kemampuan dan karakteristik psikis
sebagai hasil dari perubahan perubahan dan kesiapan stuktur biologis tersebut
sering dikenal dengan sebuah istilah “kematangan” (Beck, 1989).
Perkembangan berkaitan erat dengan pertumbuhan. Berkat adanya pertumbuhan,
pada saatnya anaka akan mencapai kematangan. Terdapat perbedaan antara
pertumbuhan dan kematangan, pertumbuhan menunjukkan perubahan biologis yang
bersifat kuantitatif seperti bertambah panjang ukuran tungkai, bertambah
lebarnya lingkar kepala, bertambah beratnya tubuh, dan semakin sempurnanya
susunan tulang dan jaringan syaraf.
Sedangkan, kematangan menunjukkan perubahan biologis yang bersifat
kualitatif. Akan tetapi, perubahan kualitatif tersebut sulit untuk diamati atau
di ukur. Kita lebih mudah melihat bertambah luasnya uuran telapak tangan
aeorang anak daripada melihat bertambah kompleksnya sistem syaraf dan semakin
kuatnya jaringan otot pada anak yang memungkinkan organ tersebut melakukan hal
yang lebih kompleks.
Pertumbuhan dan kematangan merupakan proses yang saling bekaitan dan
keduanya merupakan perubahan yang berasal dari dalam diri anak. Akan tetapi,
hal tersebut tidak berarti bahwa faktor lingkungan tidak memegang peranan.
Pertumbuhan dan kematangan dapat dipercepat dengan rangsangan-rangsangan
dari lingkungan dalam batas-batas tertentu. Perkembangan dapat dicapai karena
adanya proses belajar dan proses belajar hanya mungkin berhasil jika ada
kematangan.
Kemampuan belajar menulis hanya dapat dicapau jika proses latihan diberikan
kepadaanak pada saat otot-ototnya telah tumbuh dengan sempurna dan telah mampu
memahamu bentuk-bentuk huruf yang diperkenalkannya.. dengan demikian, anak akan
berhasil dalam belajar memegang pensil dan membaca huruf-huruf. Seseorang anak
akan lebih mudah belajar naik sepeda ketika otot-ototnya juga sudah tumbuh
dengan sempurna sehingga mampu melakukan koordinasi dengan baik ketika harus
melakukan aktivitas yang berkaitan dengan kemampuan naik sepeda. Pertumbuhan,
kematangan belajar dan perkembangan merupakan proses belajar yang seiring.
Tugas-tugas perkembangan remaja yang amat penting adalah mampu memahami
keadaan dirinya, memahami peran seks / jenis kelamin, mengembangkan
kemandirian, mengembangkan tanggung jawa pribadi dan menginternalisasikan
nilai-nilai moral, dan merencanakan masa depan. Dewasa ini tidak sedikit remaja
yang melakukan perbuatan antisosial maupun asusila karena tugas-tugas
perkembangan tersebut kurang berkmbang dengan baik.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Masa remaja merupakan masa peralihan
dari masa kanak-kanak menuju masa kedewasaan. Remaja biasanya bersikap labil
karena pada masa inilah mereka berusaha mencari jati diri mereka. Remaja juga
disebut sebagai individu-individu yang sedang mengalami serangkaian tugas
perkembangan yang khusus. Untuk itu tugas perkembangan masa remaja
difokuskan pada upaya meninggalkan sikap dan perilaku kekanak-kanakan serta
berusaha untuk mencapai kemampuan bersikap dan berperilaku secara dewasa. Tugas-tugas perkembangan remaja
ini sangat berkaitan erat dengan perkembangan kognitifnya. Para remaja juga
cenderung aktif mengembangkan kemampuan
yang mereka miliki.
3.2 Saran
Para orang tua seharusnya dapat
memahami dan memantau anak-anak mereka yang menginjak masa remaja. Karena dalam
masa inilah perubahan pun terjadi, baik dari segi fisik nya maupun dari
psikisnya. Orang tua juga harus bisa membimbing anak-anak mereka agar padamasa
remaja inilah mereka bisa mengisinya dengan hal-hal yang positif.
DAFTAR PUSTAKA
Hartinah, Sitti. 2008. Pengembangan Peserta Didik. Bandung: Refika Aditama.
L. Zulkifli. 2012. Psikologi Perkembangan. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Komentar
Posting Komentar